
Mobil pak Catur memasuki gerbang rumah bu Priska dijam tujuh lebih lima menit, semua keluarga Cakra sedang melakukan sarapan bersama di ruang makan di dalam rumah bu Priska. Aku memilih duduk di ruang tengah setelah menyapa dan menyalami mereka semua tidak terkecuali, pak Catur memilih menemaniku duduk di ruang tengah sambil menonton televisi, aku memilih diam tidak bersuara, akhirnya pak Catur juga diam kami serius dengan pikiran kita masing-masing. Tidak berapa lama mereka semua selesai melakukan sarapan pagi, sebelum berangkat mereka semua memilih istirahat sebentar di ruang tengah bersama kami berdua supaya perut tidak kram katanya.
"Sudah seperti perangko saja, inginnya nempel teros, belum halal Ton." seloroh bu Irma di iringi tawa mengejek.
"Semalam aja lihati HP terus sampai gak tidur-tidur." tambah bu Priska.
"Aku kan kerja mbak." kilah pak Catur.
"Ooooo... tak kira-in, sahut bu Irma." santai.
"Biar aku bawa kopernya sebentar lagi kita berangkat dari pada terlambat." ucap Pak Catur langsung bangkit dari duduknya.
Sebenarnya aku ingin membantunya menata koper di dalam mobil namun pak Catur melarangku, pak Catur di bantu oleh pak Anam dan juga pak Sam suami bu Irma untuk menaruh koper di dalam mobil. Jam delapan lebih lima belas menit mobil kami lambat laun meninggalkan kediaman bu Priska, dalam perjalanan menuju bandara Adi Soemarmo kami semua saling berbagi sekedar cerita lucu atau bercerita tentang dunia bisnis, karena hari ini hari kerja jalanan menuju kota Solo sedikit macet, dengan penuh kehati-hatian pak Catur mengemudi sangat santai. Setelah menempuh perjalan kurang lebih dua jam sampailah kami semua di badara adi Soemarmo -Solo. Dengan sigap pak Catur menaruh koper-koper mereka di atas trolley, para kaum Adam mendorong trolley sedangkan aku sendiri menggandeng mama Cakra, Karna waktu sudah siang maka kami semua mencari rumah makan yang ada di area bandara. Karena waktunya tidak begitu banyak maka kita semua memilih restaurant cepat saji. Selesai makan mereka semua check in karena sejam lagi tiba jadwal terbang pesawat garuda Indonesia dari Adi Soemarmo Solo menuju bandara Soekarno -hatta Jakarta.
__ADS_1
"Mama pamit dulu, Ton jaga mantu dan cucu mama." ucap mama sambil memelukku.
"Hati-hati, ma." ucapku dan ternyata tanpa aku sadari airmataku sudah menetes mama Cakra benar-benar menganggap aku dan Afriana ada.
"Aku pasti jaga mantu mama dan juga cucu mama, inshaallah akan Aku bawa mantu mama pulang ke Jakarta." ucap Pak Catur tulus.
"Hati-hati ma." ucapku sedih.
Setelah berkendara beberapa menit sampailah kami berdua di area air terjun tawang mangu, setelah memarkir mobil kami berdua berjalan menuju arah air terjun, sejuk dan asri suasana alam yang masih segar itulah kesuka-anku.
"Kenapa Kangmas ngajak kesini, ini kan masih hari kerja?" tannyaku.
"Dinda suka?" Pak Catur malah bertanya, lain padaku.
__ADS_1
"Jujur Dinda suka sekali, segar, adem di hati terasa tenang." jawabku jujur.
"Sama, aku juga merasakan hal yang sama, Dinda bahagia akupun bahagia, sayangnya kita belum halal, kalau enggak tidak usah pulang nginep aja di sini untuk istirahat, dan jika sudah halal aku bisa memandang wajah kekasiku sampai puas." ucap Pak Catur dengan senyum menggoda.
Mendengar ucapan dari pak Catur wajahku entah seperti apa warnanya, merah hitam atau apa aku tidak tahu, untung tidak ada cermin besar di hadapanku.
"Aku suka sekali melihat kekasihku masih malu-malu." tambah pak Catur semakin menggoda.
"Sebaiknya kita pulang saja Kangmas, takut keburu malam, lagian kasihan Afriana." ucapku memberi alasan supaya segera pulang.
"Sejam lagi dindaku sayang, aku masih ingin menikmati sejuknya air terjun di sini mumpung longgar, jam empat kita pulang sampai rumah sekitar jam tujuh." jelas pak Catur.
Kami berdua kembali menikmati indahnya air terjun tawang mangu, sambil menikmati camilan yang baru kita beli tadi serta menikmati minum botol.
__ADS_1