TALAK

TALAK
Part 265 TALAK


__ADS_3

Bapak mulai menceritakan pertemuannya tadi siang dengan mas Ringo.


Flas back on.


Rombongan orang tua Afifah satu jam lebih awal sudah sampai di rumah kedua orang tua Ringgo, di dalam rumah Ringgo ada adik dan juga ketua RT setempat, mereka sengaja menunggu kedatangan keluarga Afifah terutama Afriana anaknya Ringgo. Semua menyambut kedatangan keluarga Afifah dengan senang hati dan penuh hormat, mereka seolah sudah seperti saudara, karena orang tua Afifah selama ini yang berusaha keras untuk mengupayakan kesembuhan Ringgo, orang tua Afifah di persilakan masuk oleh adik Ringgo dan juga ketua RT setempat, sambil menunggu Ringgo datang mereka ngobrol saling berbagi pengalaman hidup.


Tidak begitu lama sebuah mobil hitam yang di tumpangi oleh Ringgo telah memasuki pekarangan rumah orang tua Ringgo. Begitu mobil sudah berhenti dari dalam mobil penumpangnya keluar satu persatu, semua dapat melihat wajah Ringgo yang sudah sumringah dan lebih segar, Afri berdiri di balik badan kakek dan neneknya, dia tidak berani menampakkan dirinya. Ringgo menyalami semua satu persatu, di saat berhadapam dengan bapak Ringgo langsung menjatuhkan dirinya Ringgo langsung bersujud di kaki orang tua Afifah.


"Sudah berdirilah le, malu di lihat anakmu." ucap bapak bijaksana.


Ringgo tidak menjawab bahkan dia tetap pada posisinya.


"Maafkan saya pak," ucap Ringo tulus dan pecahlah tangis Ringgo di kaki kedua orang tua Afifah.


"Berdirilah kami semua sudah memaafkanmu jauh hari sebelum kamu meminta maaf." sahut bapak Afifah bijak sana.

__ADS_1


Ringgo dengan dibantu oleh kedua orang tuanya dan juga saudaranya bangkit berdiri, semua kembali masuk kedalam rumah Afriana yang masih ketakutan memegang erat tangan kakek dan neneknya. Semua kini sudah berada di dalam rumah, pertama yang di lakukan Ringgo adalah sujud minta ampun pada kedua orang tua Afifah.


"Bapak, ibuk maafkan atas kekhilafanku selama ini, maaf karena tidak bisa melaksanakan amanah yang bapak ibu berikan padaku, maafkan ku pal buk, karena telah memgingkari janjiku sendiri, dulu saya yang meminta kepada bapak dan ibuk untuk bisa mempersunting Putri bapak dan ibuk nyatanya justru saya yang menorehkan luka dalam di hatinya." ucap Ringgo di iringi serai airmata penyesalan teedalamnya.


"Kami semua sudah memaafkanmu kamu lihat siapa gadis yang bersama bapak." ucpan bapaknya Afifah menunjuk ke arah Afriana.


"Dia Putrimu le, dia sudah sangat besar, inshaallah dia calon hafidzah, dia sudah hafal lebih dari separo." jelas ibunya Afifah.


"Af," suara Ringgo lirih nyaris tidak terdengar.


"Maafkan bapak Af, ampuni bapak,!" suara tangis Ringgo kembali pecah Ringgo benar-benar meminta ampun kepada keluarga Afifah terutama kepada orang tua Afifah dan juga anaknya Afriana.


Afriana tetap bergeming, tanpa mengeluarkan sepatah katapun, gadis lima belas tahun itu kini tidak tahu harus bagaimana, bingung kacau yang ada hanya butiran bening membasahi kedua pipinya. Berkali-kali Ringgo memohon ampun pada Afriana dan kedua orang tua Afifah.


Setelah hampir setengah jam Ringgo bersujud di kaki kedua orang tua Afifah kini Ringgo sudah nampak agak tenang, dan Ringgo kini duduk di antar kedua orang tuanya dan kedua orang tua Afifah. Namun berbeda dengan Afriana remaja itu tetap menunjukan perasaan takutnya, dan tetap bersembunyi di balik tubuh kakek dan neneknya.

__ADS_1


"Saya selaku orang tuaku Ringgo mengucapkan banyak terima atas partisipasi kalian semua, berkat bantuan dari bapak-bapak dan ibuk, terutama saya ucapkan banyak terima kasih kepada Allah karena telah mengirin manusia berhati malaikat yaitu nak Afifah dan nak Catur, berkat kebesaran hati mereka dan keikhlasan hati mereka dalam membiayai pengobatan Ringgo sehingga Ringgo bisa pulih lagi, tadinya saya sudah putus asa tidak tahu harus bagaimana, karena kondisi ekonomi kami sangat minim." ungkap bapaknya Ringgo lagi penuh deraian air mata, ibunya Ringgo juga menitikan air mata, air mata kebahagiaan dan juga haru.


"Membantu sesamanya sudah menjadi kewajiban kita sebagai umat manusia, apa yang kita miliki hanyalah titipan dari Allah, jangan sampai kita menyekutukan Allah, dan sebaiknya kita serahkan semua kepada Allah SWT." terang bapak Afifah tegas.


Pertemuan antara Afriana dan Ringgo berjalan sangat kaku karena Afriana masih belum bisa menerima Ringgo dengan baik, bahkan Afriana terkesan sangat takut dengan Ringgo. Tatapan Afriana kosong entah apa yang ada di dalam pikirannya dia hanya diam dan menitikan airmata.


Setelah satu jam pertemuan mereka Afriana masih sama dia tidak berani memdekati Ringgo, bujukan dari orang tua Ringo dan juga dari orang tua Afifah tidak juga memnuahkan hasil Afriana tetap diam mematung, akhirnya orang tua Afifah memiliki usul untuk meminta ayahnya Afriana datang, usulan itu di utarakan pada semua, di luar dugaan Ringgo sangat menyetujui usulan dari orang tua Afifah.


Dengan cekatan Jamal segera menghubungi pak Catur, beberapa kali menghubungi pal Catur namun tidak ada respon, akhirnya Jamal meninggalkan sebuah pesan. Setelah lima belas menit berlalu pak Catur menghubungi balik Jamal, Jamal segera mengutarakan keinginannya, Jamal juga menceritakan maksud dan tujuannya sehingga tanpa pikir panjang Catur segera menyanggupinya mengingat ada Afriana yang sangat membutuhkan dukungannnya.


"Catur segera datang, kita tunggu saja," jelas Jamal dengan harap- harap cemas


"Baiklah," jawab semuanya.


"Rasanya saya tidak berani menampakkan wajahku di hadapan pak Catur, saya sadar selama ini pak Catur yang sudah sangat membantuku, beliau bukan hanya mengeluarkan biaya pengobatanku namun juga berhasil mendidik anak kandungku dengan baik, rasanya aku benar-benar malu." unvkap Ringgo tulus, dari tadi air mata penyesalan Ringgo seolah tidak pernah kering. Semua yang ada di rumah orang tua Ringgo ikut terharu mendengar pengakuan Ringgo karena semua mengira jika Ringgo tidak bakal sembuh mengingat kondisi keluarga Ringgo yang memprihatinkan dan juga tidak ada yang mencari nafkah.

__ADS_1


__ADS_2