
Pagi ini jam delapan kebuh tiga puluh menit aku sama pak Catur, serta bu Priska dan Pak Anam berangkat ke kota Solo, kami berempat menggunakan mobil yang terpisah. Dari raut wajahnya aku dapat melihat betapa bahagianya pak Catur, dalam perjalanan pak Catur selalu menyunggingkan sebuah senyuman kebahagiaan.
"Harumnya bau bunga pengantin kayanya sudah mulai tercium." gurauku sambil melihat ke arah pak Catur yang sedang asyik mengemudikan mobilnya dengan santai.
"Masa?"
"Ya begitulah, kira-kira, pak kenapa bapak ngajak saya, saya kan gak bisa gantiin bapak nyetir jika bapak capek, kenapa bapak gak pakai sopir saja?" selorohku.
"Selagi bidadarinya Cakra lima ada di dekatku, rasa capekku langsung hilang, dan energi dalam tubuhku tetap utuh tidak berkurang." jawab pak Catur yang aku rasa semakin ngelantur tidak karuan.
"Bapak ini kesambet hantu dari mana ya, perasaan akhir-akhir ini ucapan bapak banyak ngelanturnya," ucapku sambil memutar bola mata " Pak, mbok saya ini dikasih bocoran siapa sih calon istri bapak, ya gak di kenalkan orangnya fotonya juga boleh pak, jujur saya penasaran sekali." ujarku dengan senyum penuh permohonan.
"Rahasia, mau buat kejutan buatmu mbak, sudah jangan membahas calon istriku, oh ya Afriana bagaimana?, rasanya aku sudah sangat kangen sekali dengan Afriana, gadis manis, cantik, pintar sholehah paket komplit." ucap Pak Catur.
"Oh ya pak maaf saya lupa, terima kasih karena bapak sudah mengirim makanan untu Nafisa dan Afriana, mereka berdua dmsangat suka sekali." ucapku.
__ADS_1
"Alhamdulillah, aku senang jika Afriana suka, aku rasa Afriana dan Nafisa itu sudah seperti kakak adik saja, aku suka melihat mereka berdua, sebenarnya aku mau ngajak kalian ke pantai prigi tapi aku takut akan mengganggu kandungan Nafisa, kata Fauzan kandungan Nafisa sedikit lemah." ucap Pak Catur sambil terus mengemudikan mobilnya dengan santai.
"Kadang saya itu heran dengan bapak, bapak bisa detail sekali mengetahui tentang keluarga saya, dan apa juga manfaatnya bisa mengetahui keluarga saya pak, ada yang special kah." ujarku dengan penuh tanya.
"Manfaatnya apa ya....? Mungkin bisa mendapatkan istri yang sholehah, mendapatkan bidadari banyak sekali manfaatnya," ucap Pak Catur dengan perkataan yang mengambang " Bagaimana renovasi rumahmu mbak, ada kendala ?" tanya pak Catur padaku sambil menoleh ke arahku.
"Alhamdulillah, soal renovasi lancar tiada halangan apapun, cuma capeknya bertambah karena setiap hari harus masak untuk para pekerja." jawabku apa adanya.
"Gak ambil katring saja, mbak?" usul pak Catur.
"Gak rugi tim perusahaan memilihmu untuk jadi sekretarisku, maaf bagaimana dengan mantan suamimu mbak, apa masih mengganggumu lagi?" tanya pak Catur berubah serius.
"Alhamdulillah sudah tidak pak, terakir sehari sebelum sidang dan setelah itu sampai sekarang tidak ada lagi kiriman dari mas Ringgo, lagian setelah selesai sidang saya tidak lagi berhubungan dengan mas Ringgo dan saya juga tidak mengantar Afriana ke rumahnya, walah bapak tanya tentang sidang saya lupa jika saya harus mengambil akte cerai saya." ucapku baru teringat akte cerai yang seharusnya aku ambil kemarin lusa.
"Kapan mbak harus ngambil?" tanya pak Catur padaku.
__ADS_1
"Seharusnya kemarin lusa, saya benar-benar lupa, kemarin-kemrin telah sibuk dengan pekerjaan." jawabku jujur saja.
"Maaf mbak, kapan mbak mau ambil biar aku antar, tugas mbak selama orang tua saya di kota ini mengikuti mama pergi, soal pekerjaan biar aku kerjakan sendiri asal mamaku bahagia." ucap Pak Catur.
"Berapa lama? Bunda sama mak bagaimana?" tanyaku.
"Setelah lamaran selesai bunda akan kembali ke Jakarta bersama mbak Irma mama sama mak akan tinggal di rumah mbak Priska dalam waktu agak lama kata mama mau berkenalan langsung dengan calon mantunya lebih dekat." jelas pak Catur sambil senyum-senyum.
Perjalanan yang kami tempuh tidaklah melelahkan karena selama perjalanan kami berdua selalu ngobrol ringan. Pak Catur juga memutar lagu-lagu Malaysia, bunga dhia, sampai mati, lagunya Usi dan Andika yang berjudul kupilih hatimu, cinta bertasbih milik Melly goeslow, yang selalu di ulang ualng dan masih banyak lagi lagu-lagu yang di putar oleh pak Catur.
Setelah perjalanan panjang akhirnya kami sampai di bandara Adi Sumarmo, mobil pak Anam dan mobil pak Catur datang hampir bersamaan, pas samapi di bandara pesawat juga pas baru mendarat. Kami berempat segera menuju pintu kedatangan domestic, sebenarnya ada apa dengan hatiku saat ini hatiku benar-benar berdebar kencang saat menunggu kedatangan orang tua pak Catur dan keluarganya.
"Kamu kelihatannya tegang sekali, Fah?" tanya bu Priska padaku.
"Nggak tahu bu, rasanya hatiku berdebar kencang, padahal yang mau ketemu orang tuanya bukan aku, kenapa ya hatiku berdebar tidak karuan." ucapku jujur pada bu Priska.
__ADS_1
"Biasa, ikatan batin yang sudah sangat kuat, sudah tidak apa, kita sambut mereka sebentar lagi mereka pasti keluar." ucap bu Priska menenangkan ku sambil menepuk-nepuk punggungku sambil tersenyum penuh kasih sayang.