TALAK

TALAK
Part 136 TALAK


__ADS_3

Perasaanku pagi ini benar-benar canggung saat sepeda motorku memasuki area pabrik, debaran jantung hatiku semakin kencang, begitu selesai memarkir maticku aku tidak langsung masuk ke kantor aku duduk sebentar di atas motor sebentar untuk menata hatiku yang berdegub kencang tidak karuan. Hingga beberapa karyawan menegurku karena aku masih duduk termenung di atas motorku.


Setelah menarik nafas dalam-dalam dan sekiranya hatiku sedikit tenang aku ayunkan kakiku menuju kantor, sebisa mungkin aku harus masuk sebelum pak Catur datang, di saat masuk loby aku bertemu dengan bu Priska.


"Selamat pagi bu." sapaku sopan seperti biasa.


"Pagi, Fah." jawab bu Priska dengan senyum yang mengembang indah.


Kami berdua berjalan menuju ruangan kita masing-masing, aku masuk ruanganku sendiri, seperti biasa aku menyiapkan teh hangat dan merapikan meja kerja Pak Catur sebelum pak Catur datang aku segera keluar supaya tidak bertemu dengan Pak Catur. Jujur setelah acara lamaran dadakan kemarin rasanya aku belum sanggup untuk bertemu kembali dengan Pak Catur.


Hari ini dengan segala cara aku menghindari agar tidak bertemu dengan Pak Catur, namun suatu hal yang mustahil jika tidak bertemu dengan Pak Catur.


Di saat aku sedang mengerjakan pekerjaanku serius dengan komputerku tanpa aku sadari pak Catur sudah berada di depan mejaku.


"Mbak, tolong masuk ruangan saya!" perintah pak Catur masih seperti biasa.


"Baik pak." jawabku sedikit gugup.


Seandainya boleh tidak masuk kerja aku akan memilih tidak masuk kerja, entahlah, kalau kemarin-kemarin aku biasa saja saat ketemu maupun bersama pak Catur namun kali ini benar benar berbeda. Dengan langkah gontai akhirnya aku tetap melangkahkan kakiku menuju ruangan pak Catur.


"Nyantai saja mbak, jangan gugup, kalau mbak gugup malah orang pada tahu tentang hubungan kita, kalau aku senang-senang saja jika mereka tahu." ucap Pak Catur sedikit meledek.


"Saya kesini disuruh apa pak?" tanyaku sekenanya.


"Tolong kasihkan dokumen ini pada mbak Priska, dan setelah itu tolong bawa kembali lagi kesini," pinta pak Catur " Sekarang masih penasaran gak siapa calon istriku?" Pak Catur malah semakin menggodaku.


"Kalau bapak terus menggodaku, apa kita gak jadi menikah saja." akhirnya aku bersuara terus terang hatiku semakin berdegub kencang, ekpresi wajah ku-pun aku sudah tidak tahu lagi bagaimana.

__ADS_1


"Baik nyonya Catur, tidak akan aku ulangi." ucap pak Catur dengan senyum menggoda.


Aku pergi meninggalkan ruangan pak Catur dengan langkah gontai menuju ruangan pak Catur.


Tok Tok Tok


"Masuk!" perintah bu Priska dari dalam.


"Selamat pagi bu, ini ada dokumen dari pak Catur, dan saya di suruh nunggu katanya suruh nyerahkan kembali ke pak Catur segera." ucapku sopan.


"Bagaimana perasaanmu, Fah?" bu Priska malah bertanya lain.


"Perasaan saya.... " aku tidak tahu harus menjawab apa.


"Bawa santai saja, aku tahu kamu gugup, aku benar-benar bahagia kalian bisa berjodoh, doa-doaku terkabul." ucap bu Priska.


"Tidak juga, lagian kamu menjanda juga sudah lebih dari setahun, kamu tahu sejak kamu ikut pelatihan tak henti-hentinya adikku itu mencari informasi tentangmu, maaf semua ini memang renacaku dan mbak Irma, dan kebetulan mama dan papa juga sangat setuju dengan pilihan kami berdua, bahkan waktu itu mama dan papa ingin melamarmu saat itu juga, kami rasa kalian sangat serasi, terima kasih Fah, sudah menerima adikku dengan ikhlas." ucap bu Priska sambil memeriksa berkas.


"Jadi! apa pak Catur tahu rencana bu Priska dan bu Irma?" tanyaku.


"Tono, tidak tahu, memang kami rahasiakan, karena kami ingin kalian bersatu dengan cara yang natural saja, nanti siang mama mau ngajak kita makan bersama, soalnya Bunda sama mbak Irma mau kembali ke Jakarta lusa." ucap bu Priska.


"Sejujurnya saya merasa minder bu, tidak tahu harus bagaimana, dan saya juga baru tahu ternyata pak Catur sudah melamar saya secara langsung kepada bapak, bersama Kakung dan Pak Anam, apa ibu tahu tentang itu." ucapku.


"Ya, aku tahu." jawab bu Priska santai.


"Benar-benar seperti mimpi bagi saya bu." keluhku.

__ADS_1


"Dan kami bahagia karena mimpi kami jadi kenyataan." jawab bu Priska bahagia.


"Apa, alasan ibu memilih saya bu?" tanyaku penasaran.


"Karena petunjuk dari Allah," jawab bu Priska singkat " Sudah selesai tolong kembalikan ke adikku, terima kasih."


Aku ambil dokumen yang di sodorkan oleh bu Priska, dengan senyum sopan aku meninggalkan ruangan bu Priska dan aku kembali ke ruangan pak Catur lagi.


Tok Tok Tok.


"Maduk mbak!" perintah pak Catur dari dalam.


"Ini pak dokumen dari bu Priska." ucapku sopan.


"Sampai kapan mbak akan tetap memangil mbak Priska dengan sebuah bu?" ledek pak Catur.


"Ini kantor pak, gak etis jika tiba-tiba saya merubah panggilan, nanti pada curiga." jawabku apa adanya.


"Nyonya Catur, nanti siang kita makan siang bersama mama dan papa." gurau pak Catur lagi.


"Pak ini di kantor." ucapku berusaha megingatkan dengan sedikit sebal.


"Oh ya aku lupa, aku kira di rumah." ucap Pak Catur.


"Baiklah saya kembali ke ruangan saya, kalau sampai gak selesai pekerjaan kita berarti pernikahan di tunda, bagaimana?" ucapku ganti meledek.


"Tidak ada penundaan, dua bulan." ucap Pak Catur dengan senyum indahnya.

__ADS_1


Aku tinggalkan ruangan pak Catur, aku kembali ke ruanganku sendiri untuk menyelesaikan pekerjaanku yang sudah menumpuk.


__ADS_2