TALAK

TALAK
Part 189 TALAK.


__ADS_3

"Dinda, mas tinggal dulu jam dua belas siang mas sudah pulang, baik-baik dirumah, jangan kemana-mana," pesan pak Catur padaku saat mau keluar dari kamar.


"Iya, Mas, Mas hati-hati kalau kerja," nasehatku.


"Assalamu'alaikum anak ayah, baik-baik di rumah bersama Bunda ya, ayah bekerja dulu, inshaallah besok kita bisa ketemu mbak Afri," ucap Pak Catur yang sudah jongkok mencium dan membelai perutku lembut.


Aku antar pak Catur turun ke bawah, kami sarapan bareng, aku, pak Catur mama, papa, mbak Irma beserta anak dan suami mbak Irma. Suasana pagi semakin rame dengan celoteh Alya anak mbak Irma yang paling kecil, melihat Alya membuatku ingat akan Afriana, sudah satu minggu aku tidak ketemu Afriana. Selesai sarapan papa dan Pak Catur berangkat bareng, sedang mbak Irma beserta suami dan anak-ansk berangkat bareng. Di rumah kini tinggal aku dan beberapa pembantu yang bekerja di rumah keluarga Cakra, mama pagi ini ada pertemuan dengan pihak yayasan yatim piatu yang telah dikelola oleh mama, mama pergi dengan diantar sopir serta di damping oleh asisten khusus menemani mama.


Di rumah keluarga Cakra aku bak seorang Putri raja, selesai ngaji aku habiskan waktuku untuk berkemas barang yang akan aku bawa pulang. Tidak terasa waktu juga sudah siang jam menunjukan pukul sebelas siang karena ngantuk aku tertidur di dalam kamar, hingga sebuah suara pintu teebuka membuatku terbangun. Ternyata sudah jam dua belas lebih tiga puluh menit itu artinya pak Catur sudah pulang dari setengah jam lalu.


"Mas," pangilku masih dengan suara yang serak khas orang baru bangun tidur.


"Tadi dinda yang ngemasi semua?" tanya pak Catur padaku.


"Iya mas," jawabku.


"Lain kali, biar mas yang melakukan, sekarang ayo kita sholat, tinggal kita yang belum sholat, mereka sekarang lagi berjamaah di mushola bawah," ujarbpak Catur yang sudah siap untuk melaksanakan sholat.


Tanpa menjawab aku langsung turun dari ranjang aku menuju kamar mandi untuk segera mengambil air wudhu, selesai ambil air wudhu aku segera sholat berjamaah berdua dengan Pak Catur. Selesai sholat aku dan Pak Catur segera turun untuk ikut gabung mak a siang bersama keluarga, kali ini menunya bikin aku sedikit melongo, menu yang terhidang sangat istimewa, oseng ontong(jantung pisang), ada rempeyek, serta beberapa menu lainnya. Pak Catur menyantap oseng ontong dengan lahapnya, akhir-akhir ini selera makan pak Catur sedikit aneh. Selesai malam siang seperti biasa papa kembali ke kantor bersama dengan mbak Irma, siang ini mbak Irma ikut makan siang di rumah karena kebetulan agak longgar. Karena aku dan Pak Catur ada janji ketemu dokter maka aku dan Pak Catur selesai makan siang pamit pergi ke dokter, untuk memeriksakan kandunganku dan kesehatanku, sebab akan melakukan perjalanan udara. Sebenarnya mama ingin ikut dalam memeriksakan kandunganku namun tidak jadi karena papa meminta mama untuk mendampingi papa menemui klien.

__ADS_1


Mobil pak Catur membelah ramainya lalu lintas kota Jakarta, pak Catur memilih dokter rumah sakit yang kemarin merawatku, sewaktu aku masuk rumah sakit. Sesampai di dekat ruangan dokter kami berdua menunggu sebentar, di ruang tunggu sudah ada beberapa orang khususnya wanita hamil yang antri untuk melakukan pemeriksaan.


"Ibu Afifah, Silakan masuk!" panggil seorang suster.


Aku dan Pak Catur masuk ke ruangan, begitu sampai dalam dokter langsung memeriksaku, dokter menempelkan stethoscope di dadaku, mengecek tekanan darah dan juga memeriksa perutku.


"Bagaimana dok keadaan istri dan anak saya?" Pak Catur dengan tidak sabar segera bertanya pada dokter.


"Alhamdulillah, kesehatan ibu dan anak sangat baik, namun bapak harus tetap menjaga ibu dan bayi dengan baik, jangan sampai ibu kecapaian, seperti yang bapak sampaikan kemarin lusa, besok ibu sudah bisa melakukan perjalanan udara, namun jangan waktu yang lama dan ini saya tuliskan resep bapak rebus di apotik," pesan dokter sambil menuliskan resep.


"Terima kasih dok," ucapku sopan .


Aku dan Pak Catur segera keluar dari ruangan dokter, sepanjang perjalanan pak Catur menggenggam erat tanganku, serta dengan senyum kebahagiaan, selesai menebus obat dan vitamin kami berdua segera pulang karena kami akan melakukan perjalanan jauh maka malam ini kami segera istirahat.


"Mah, kami pamit dulu," pamitku pada mama sambil memeluk mama yang mengantar kami sampai di bandara Soekarno-hatta.


"Hati-hati sayang," pesan mama padaku "Ton, ingat pesan mama utamakan keluarga, sehebat apapun kita jangan pernah mengabaikan keluarga, sekarang tanggung jawabmu bukan hanya pada pekerjaan, ada istri dan anakmu, jaga dan lindungi mereka," pesan mama pada pak Catur.


"Ton, sekarang kamu kepala keluarga, ikuti nasehat mama, tanggung jawabmu sekarang lebih besar, doa istri itu mujarab, jangan pernah kamu sakiti hati istrimu, muliakan istrimu," Papa juga memberi wejangan pada pak Catur "Hati-hati, jaga kalian baik-baik, begitu ada waktu kami akan datang ke Madiun menjenguk anak dan cuci papa. " ucap papa melepas kepergian kami berdua, selesai berpamitan aku dan pal Catur masuk ke pintu penerbangan, selama dalam perjalanan pak Catur selalu menggenggam erat tanganku tak sedikitpun melepaskan gemggaman tangannya.

__ADS_1


Pesawat mendarat dengan selamat di bandara Adi Soemarmo kota Solo, pak Catur segera mengambil koper bawaan kami, di luar mbak Priska dan Pak Anam sudah melambaikan tangannya menjemput kami berdua, begitu sampai bertemu kami saling berpelukan melepas kangen.


"Alhamdulillah kalian bisa sampai dengan selamat," ucap mbak Priska senang.


"Alhamdulillah, aku bakal punya keponakan lagi," ucap Pak senang sambil memeluk pak Catur.


Kami berempat segera menuju parkiran mobil, begitu sampai di parkiran pak Catur dan Pak Anam segera memasukan koper ke dalam mobil, denda santai pak Anam mengendarai mobil menuju kota Madiun. Pak Anam mengantar kami ke rumah pak Catur, selesai mengantar kami pak Anam dan mbak Priska langsung pulang, rumah dalam keadaan sepi hanya ada Mbak Qib, sedang Afriana berada di rumah orang tuaku, selama aku dan Pak Catur tidak ada di rumah.


"Mas, Mas capek?" tanyaku pada pak Catur.


"Istirahat sebentar lalu kita jemput Afriana," ucap Pak Catur yang baru masuk rumah.


"Aku pingin tidur di rumahku mas," punyaku.


"Boleh sayang, tapi istirahat dulu ya," pinta pak Catur lembut "Sini sayang mas sudah kangen dengan anak-anak mas, boleh dong mas menjenguk sebentar saja," pinta Pak Catur yang sudah membawaku duduk di atas ranjang kamar "Sebentar saja sayang," pinta pak Catur penuh harap.


"Aku belum mandi mas,"


"Tidak masalah, ya, sayang, sebentar saja," Pak Catur memelas padaku.

__ADS_1


Aku tidak menjawab, aku hanya menganggukkan kepala tanda setuju, dengan permintaan pak Catur. Aku paham sebab sejak perutku kram hingga jatuh pingsan dan sampai di rawat di rumah sakit pak Catur tidak berani menyentuhku.


__ADS_2