
Selesai merapikan meja serta mematikan lampu aku dan Pak Catur melangkah pergi meninggalkan ruanganku, untuk menuju lift.
"Istrinya adikmu tidak marah, dia sering jemput kamu?" tanya pak Catur lagi.
"Jelas tidak pak, kenapa?" emang ada yang aneh ya pak? Dari mana bapak tahu kalau adik saya punya istri?" tanyaku penasaran.
"Nggak juga sih, cuma ya jarang ada orang begitu perduli dengan satu sama lainnya, walau saudara kandung, yang tadi pagi itu bukannya istrinya adikmu" jawab pak Catur.
"Semua tergantung didikan orang tua kita pak" jawabku " Ya bener sih dia istrinya adiku, memang bapak pernah ketemu sama mereka? " tanyaku semakin penasaran.
"Besok aku jemput, seperti tadi " ucap Catur.
"Tidak usah pak, terima kasih atas keperdulian bapak, tapi saya benar - benar tidak enak takut menimbulkan fitnah " jawabku sambil berjalan menuju pos satpam.
"Bapak benar pernah ketemu sama adiku ?" tanyaku lagi karena pak Catur malah ngomong lain tidak menjawab pertanyaanku.
"Lah, bukannya tadi pagi aku sudah jawab, di alon - alon kota, waktu itu mereka sama dengan anakmu dan aku ngajak mbak Priska dan keponakanku jalan - jalan, kira saling minta tolong memfoto " jelas pak Catur.
"Oh... begitu, tak kira di mana " jawabku " Pak Catur kok gak parkiran ?" tanyaku karena pak Catur malah mengikutiku menuju pis satpam.
"Mau, ke pos satpam sebentar " jawabnya enteng.
Kami berdua menuju pos satpam yang dekat dengan pintu gerbang, di sana sudah aku lihat Fauzan sedang duduk di atas sepeda motor dan asyik mengobrol dengan Pak satpam.
"Zan, pak Tris" sapaku pada mereka berdua.
__ADS_1
"Sudah selesai mbak ?" tanyanya Fauzan.
"Mbak, Fah, Selamat malam pak " sapa Pak Tris satpam yang sedang jaga.
"Satpam yang lainnya mana pak?" tanya pak Catur pada pak Tris.
"Lagi beli makanan pak, kebetulan ada mas Fauzan yang menemani jadi dia keluar sebentar untuk beli camilan di depan" jawab pak Tris " Tumben, bapak kesini ada yang bisa saya bantu pak ?" tanya pak Tris.
"Tidak, cuma pingin lihat - lihat saja " ucap Pak Catur.
"Pak ini adik saya Fauzan " ucapku basa basi.
"Malam mas, kita ketemu lagi " ucap Pak Catur sambil menjabat tangan Fauzan.
"Selamat " jawab Fauzan sedikit bengong " Jadi mas ini temannya mbak Fah, ya " ucap Fauzan juga menjabat tangan pak Catur.
"Hah... Maaf pak " ucap Fauzan sedikit tidak nyaman.
"Mari, pak saya duluan, ayo Zan " pamit ku.
Setelah berpamitan kami berdua meninggalkan pabrik dan mereka semua untuk menuju rumah.
"Tumben bapak kesini apa kami ada salah pak ?" tanya pak Tris pada pak Catur.
"Tidak pak, hanya tadi memastikan kalau bu Afifah ada yang jemput, soalnya sudah larut malam " jawab pak Catur mencari alalasan.
__ADS_1
"Kalau, mbak Fah, pulang malam adiknya selalu datang untuk menjemputnya, jadi kami sudah kenal akrab, adiknya mbak Fah juga enak di ajak ngobrol" terang pak Tris.
"Suaminya apa pernah jemput ?" tanya pak Catur cari informasi.
"Selama ini yang saya tahu ya mas Fauzan, kata mas Fauzan anaknya mbak Fah, gak mau di tinggal kalau malam jadi suaminya mbak Fah menjaga anaknya di rumah, dan mas Fauzan yang bertugas menjemput mabk Fah, kalau pagi biasanya bapaknya yang antar, saya sendiri malah gak tahu kaya apa suaminya mbak Fah" terang pak Tris.
"Oh, bapak sampai hafal siapa yang antar jemput bu Afifah " gurau pak Catur.
"Saya kan satpam tugas saya di depan gerbang ya tahu pak, lagian mereka sering membawakan kami camilan, jadi kami akrab" terang pak Tris " Bapak belum pulang, tadi kayanya gak ada mobil bapak saya kira bapak sudah pulang ?" tanya pak Tris.
"Hari ini saya bawa motor, pak " jawab pak Catur.
"Di mana motornya, tadi yang ada cuma motornya mbak Fah, sama bu Priska saya kira bu Priska yang lembur" ucap Pak Tris.
"Tadi pagi saya pinjam motornya bu Priska, karena mobil saya ada di bengkel " Alasan pak Catur" Ya sudah pak, sudah malam saya juga mau pulang, selamat bekerja "pamit pak Catur.
"Hati - hati pak "
Pak Catur dengan sepeda motornya juga meninggalkan pabrik, tinggal pak satpam yang bertugas yang ada di pabrik.
Pak tris dan satpam satunya tidak curiga dengan semua alasan pak Catur, mereka menganggap hal biasa jika atasan menghawatirkan karyawannya apalagi perempuan dan harus pulang larut malam.
"Ternyata semua keluargamu juga merahasaian semua masalahmu, Fah " gumam pak Catur dalam hati sambil mengendarai sepeda motor menuju kediamannya. Rumah pak Catur dengan pabrik hanya berajarak kurang lebih lima belas menit dengan jarak tempuh sedang.
***%*%%%%@@%*@@%%@@@@@@
__ADS_1
Jangan lupa baca karya terbaruku kalau yang ini settings lokasi luar negeri. Semoga berkenan terima kasih kakak ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️😍😍😍😍❤️❤️❤️❤️