
Pak Catur menbendarai mobilnya dengan santai karena jalanan kota juga lagi pas rame-ramenya, di tambah kadang harus berhenti di lintasan kereta api jika ada kereta api lewat. Di dalam mobil pak Catur memutar lagu milik Andika dan Usi sulistyowati lantunan lagu mengalun sangat merdu dan kalem.
%*ku pilih hatimu tak akan ku ragu
Mencintamu adalah hal yang terindah
Dalam hidupku oh sayang
Kaulah detak jantung hatiku *%.
Sepenggal lagu yang di putar oleh pak Catur di dalam mobilnya, pak Catur sambil menyetir juga ikut menirukan lagu Andika dan Usi walau tak keras namun masih terdengar, suara pak Catur juga cukup ebak juga sama saat mrngumandangkan adzan tadi sore.
"Mbak, suka nyanyi?" tanya pak Catur padaku.
"Lumayan, sih pak." jawabku jujur dengan senyum sopan.
"lagu jenis apa mbak?" tanya pak Catur sambil nyetir mobil.
"Biasanya saya sholawatan saja, lagu yang lain seperti pop juga boleh tapu ya tertentu saja pak, " jawabku jujur " Bapak sendiri ?" tanyaku balik.
"Aku juga tergantung suana hati saja mbak, selagi enak di dengar aku suka."jawab pak Catur apa adanya.
Saat kami menuju rumahku mobil pak Catur malah berbelok arah, mobil pak Catur menuju Madiun kota tepatnya menuju jalan pahlawan dan mobil di parkir di area parkir mall Matahari .
"Lho bapak kok malah ke sini?" tanyaku penasaran.
"Perangkat komputer di rumah rusak, dan tinta printer juga habis jadi mumpung keluar sekalian beli, kalau aku belinya sepulang ngantar kamu takutnya sudah tutup." jawab pak Catur sambil keluar dari mobilnya " Ayo mbak!" perintah pak Catur.
__ADS_1
Aku mengikuti pak Catur berjalan dari belakang, sambil melihat-lihat alat ekektronik yang di jual di mall matahari siapa tahu ada yang cocok.
"Mbak Fah , coba kesini lihat Samsung tablet ini, bagus kan?" tanya pak Catur sambil menunjukan Samsung tablet galaxy S6 lite, tablet keluaran terbaru.
"Bagus, pak lawong ini keluaran terbaru, dan harganya juga bagus sekali, pak, tujuh juta, fiturnya juga lengkap cocok untuk menunjang pekerjaan." jawabku jujur.
"Mas tolong, saya minta Samsung tablet galaxy S6 dua buah, warna sama." ucap Pak Catur pada pelayan mall.
"Baik pak, saya ambilkan." jawab pelayan mall sopan
Aku hanya mengikuti kemanapun pak Catur melangkah melihat-lihat barang ekektronik terutama yang berhubungan dengan komputer, ataupun hand phone. Di samping membeki Samsung tablet pak Catur juga membeli tinta printer, dan juga beberapa perangkat komputer lainnya.
Setelah kurang lebih satu jam akhirnya pak Catur selesai membeli keperluannya, pak Catur segera membayar barang belanjaannya di kasir, setelah membayar kami berdua meninggalkan mall Matahari, namun pak Catur tidak langsung pulang malah pergi ke mall Sri ratu. Sesampainya di mall Sri ratu pak Catur menuju supermarket, pak Catur segera mengambil troli dan memasukan beberapa buah dan juga makanan ringan serta makanan kaleng mie, daging segar. Aku sebagai karyawannya juga tidak protes aku ikuti saja kemanapun pak Catur pergi. Hanya dalam waktu sekejap trolley yang di dorong pak Catur sudah penuh oleh makanan, selesai belanja pak Catur langsung membayarnya dan akhirnya kami berdua kembali ke parkiran mobil.
"Maaf mbak!" ucap Pak Catur.
"Mbak, pulangnya kemalaman, tak apa kan?" ucap Pak Catur yang sudah duduk di bangku kemudi.
"Tidak apa-apa pak." jawabku sopan.
"Ini buat mbak,untuk bekerja." ucap Pak Catur sambil mengulurkan satu kantong kertas berisi Samsung tablet yang barusan di belinya.
"Terima kasih, pak, tablet saya masih bisa di gunakan kok pak." tolak ku secara halus.
"Mbak, kamu itu kerja sama aku, jadi sudah sepantasnya aku memberi fasilitas yang bagus untuk kamu, dan juga semakin baik kwalitas kerja kamu maka semakin lancar juga perputaran pabrik dan juga untuk kemajuan pabrik." jelas pak Catur sambil senyum-senyum.
"Baiklah terima kasih, pak." ucapku senang.
__ADS_1
Mobil melaju dengan santainya setelah menempuh pejakan kurang lebih tiga puluh menit akhirnya sampailah aku dan Pak Catur di halaman rumahku. Saat aku turun dari mobil pak Catur ternyata juga ikut turun sambil menenteng satu kresek besar entah apa isinya.
Pak Catur mampir di rumah orang tuaku karena rumahku sendiri masih gelap dan terkunci. Afriana, ibuku dan Nafisa menyambut kedatangan kami dengan wajah senang, karena Fauzan sedang ikut tahlillan di tetangga yang sedang kirim doa.
"Af, ini hadiah buat Afri, Paman minta maaf karena pekerjaan yang Paman berikan ke ibu Afri banyak jadi ibunya Afri pulang telat, sebagai permintaan maaf Paman ini Paman belikan jajan untuk Afri." ucap Pak Catur pada Afriana lembut sambil memberikan satu kresek jajan ke Afriana yang duduk di sebelah pak Catur.
"Terima kasih, Paman, Afri suka sekali, Paman tidak perlu minta maaf, Afri tidak marah karena kata ibuk, jika ibuk banyak lembur dan dapat uang banyak uangnya bisa buat Afri sekolah nanti, dan ibuk bisa membangun rumah yang bagus, dan ibuk bisa ngajak Afri jalan-jalan ke dufan dan taman mini." jawab Afriana polos.
Ketika mendengar jawaban dari Afriana, pak Catur langsung menatap ke arahku dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Sekarang tugas Afri, doakan supaya ibuk sehat selalu dan punya rejeki yang banyak," nasehat pak Catur pada Afriana "Afri mau jalan-jalan ke dufan dan taman mini?" tanya pak Catur penuh selidik.
"Mau, Paman." jawab Afriana antusias " Tapi.... !" ucap Afriana berubah iba.
"Kalau ibuk Afri kerjanya bagus, Paman kasih bonus ke Afri untuk jalan-jalan di dufan dan taman mini bagaimana." ucap Pak Catur menawarkan pilihan.
"Yang kerja kan ibuk paman, masa Afriana yang dapat bonus, masa Afri ke dufan sendirian." ucap Afriana polos.
"Tentu tidak Afriana sayang, Paman dan ibuk akan menemani Afri jakan-jalan nanti, asal ngaji dan sekolahnya harus rajin lho, sholat lima waktu juga tidak boleh bolong-bolong." nasehat pak Catur bijak.
"Terima kasih Paman, kata bulek Naf sebentar lagi Afri bisa khatam Al qur'an, Paman." pamer Afriana pada pak Catur.
Aku, Nafisa dan ibuk merasa terharu karena pak Catur dan Afriana bisa mudah akrab, dan tidak terasa butir bening telah jatuh dari pelupuk mataku, aku benar-benar terharu bagaimana tidak, selama ini mas Ringgo tidak pernah memanjakan Afriana, menasehati Afriana atau memberi contoh yang baik juga tidak.
"Terima kasih pak." ucapku setelah mengusap air mataku, dan hanya kata terima yang mampu aku ucapkan, begitu pula ibuku dan Nafisa juga mengucapkan terima kasih pada pak Catur.
Pak Catur tidak menjawab hanya membalas dengan sebuah senyuman kebahagiaan, senyuman yang jarang dia berikan untuk orang lain.
__ADS_1