TALAK

TALAK
Part 221 TALAK.


__ADS_3

Keseruan kami bertiga di dalam dapur membuat anak-anak menghampiri kami, mungkin mencium harumnya pisan goreng buatan suamiku.


"Na ma ma na na, nen nen nen." suara Afwi menghampiriku untuk minta Asi.


"Ayo sini sayang," segera aku raih Afwi untuk minum Asi "Yah, aku susui anak-anak dulu, pisangnya jangan di makan." pesanku sambil memberi Asi.


"Afri di mana mbak?" tanyaku pada mbak Inayah dan mbak Qibtiyah.


"Di depan bermain sama temannya." sahut mbak Qibtiyah.


"Ya, sudah biarin saja." ucapku.


"Biar saya gorengkan pak pisangnya," mbak Qibtiyah menawarkan bantuan pada pak Catur.


"Tidak usah mbak, ibuk lagi ngidam pisang goreng buatanku, mbak istirahat saja." ucap Pak Catur.


"Ya, mbak Qib kamu duduk saja, tamu dilarang bekerja." oceh Nafisa yang baru selesai bikin adonan pisang.


"Naf, biar aku goreng sekalian." pinta pak Catur.


"Iya, Naf, biar di goreng masmu tinggalen ae, nanti anakmu rewel." ujarku.


"Anaku kalau sudah sama mbahnya dia gak kan rewel kok mbak, paling sekarang juga dia sudah mainan di depan, dengan anak-anak lainnya." jawab Nafisa santai.


"Naf, pisangnya bawa sini." pinta suamiku.


"Ini mas, goreng yang ini dulu buat anak-anak." pinta Nafisa menyodorkan pisang yang sudah di bungkus kaya lumpia.


"Ini apa to Naf? Kapan kamu bikin lumpia?" tanya suamiku saat mengamati pisang yang terbungkus oleh kulit lumpia.


"Ini namanya piscok dan ini pisju." jawab Nafisa sambil nunjuk dua macam bungkus lumpia.


"Apa itu?" tanya suamiku sambil mengernyitkan dahinya penasaran.

__ADS_1


"Piscok itu pisang coklat kalau pisju pisang keju mas, anak-anak biasanya suka itu." jelas Nafisa.


"Oalah." suamiku manggut-manggut sambil menggoreng pisang.


"Goreng ya jangan lama-lama lo mas, nanti gosong soalnya kulit lumoianya tipis." oech Nafisa.


"Hemmm.... " jawab suamiku.


"Ini untuk Mbakku tersayang," ucap Nafisa sambil menyodorkan sepiring pisang goreng yang masih hangat." Dan mas Afwi yang manis pelan-pelan minumnya, Mas Afwi nenennya jangan di habiskan ya sisain buat adik kecil yang di dalam perut Bunda." celoteh Nafisa sambil membelai kepala Afwi yang sedang minum Asi.


"Kamu itu apaan sih Naf, Naf." omelku.


Mbak Inayah yang berada di sampingku tertawa cekikikan mendengar ocehan Nafisa yang ngalor ngidul.


"Mumpung masih anget cepetan di makan mbak, pisangnya!" perintah Nafisa yang duduk di sampingku.


"Hmm." sahutku langsung aku comot satu pisang goreng buatan suamiku.


"Mbak minta satu ya?" goda Afifah.


"Ibuk sama bu Naf itu lucu, persis kakak adik kandung." celetuk mbak Inayah dengan senyum cekikikan.


"Ya, gitu mbak mereka itu, dulu aku kira Nafisa itu adik kandungnya ibuk, habisnya mereka itu jemur padi saja bareng-bareng, padahal waktu itu ibuk menjabat sebagai sekretarisku." jelas pak Catur sambil menggoreng pisang.


"Lah, ibuk bisa jemur padi juga masa ibu jemur padi?" mbak Inayah dan mbak Qibtiyah tidak percaya.


"Wong ndeso ya jelas bisa to mbak." sahut Nafisa percaya diri.


"Tapi mas akhirnya jatuh cinta sama tukang jemur padi kan." celetuk Nafisa.


Kami semua tertawa bersama-sama, pak Catur dengan sendirinya menceritakan bagaimana peejalnnya dulu hingga bisa menikah denganku. Mbak Qibtiyah dan Mbak Inayah yang baru tahu jadi heran.


"Pantas saja bapak sayang banget sama ibuk, lawong ibuk itu bagai berlian." puji mbak Qibtiyah.

__ADS_1


"Rame sekali ada apa sih?" tanya ibuku yang baru masuk dapur.


"Orang-orang itu to Buk, cerita ngalor ngidul gak karuan," sahutku " Ayo Afwa mau minum gak? Sini sayang." Aku menurunkan Afwi sekarang ganti Afwa yang aku susui.


"Kalau begini caranya dan masih tambah satu lagi bisa-bisa mas Catur gak kebagian nen nen nya dong." celetuk Nafisa tanpa dosa.


"Ya Allah Naf, kamu kesambet setan apa sih?" gerutuku.


"Kata siapa gak kebagian, yo tetep kebagian dong Naf." sahut pak Catur ikut-ikutan somplak seperti Nafisa.


"Setannya mas Fauzan." jawab Nafisa enteng.


"Awas gosong!" seru ibukku "Goreng-goreng kok ya sambil guyonan."


"Biar gak kerasa panas buk, lagian jarang-jarang bisa masak sambil guyon kaya gini." sahut pak Catur sedikit kalem.


"Setiap hari kesini masakin juga gak apa-apa kok mas." ucap Nafisa.


"Tuh, Naf sudah mateng kamu bawa ke depan dan kasihkan ke anak-abak dan lihat anakmu." perintah ibukku.


"Biar saya saja buk yang ngasihkan." ucap Qibtiyah sopan.


"Gak, usah mbak, biar Nafisa saja." kekeh ibukku.


"Iya, buk." Nafisa langsung membawa satu piring pisang coklat dan pisang keju untuk di berikan anak-anak yang sedang bermain di halaman depan.


"Sini tak goreng e le, kamu istirahat saja." pinta ibukku.


"Ibuk istirahat dan bermain dengan anak-anak saja, sekali-kali saya mask bust ibuk." ucap Pak Catur sopan.


"Kamu kepanasan gitu keringatmu sampai sejagung-jagung." ucap ibukku.


"Biar asin gak perlu nambah garam." celetukku.

__ADS_1


Kami semua yang ada di dapur kembali tertawa bersama sama, dari luar aku mendengar suara Nafisa yang sedang menyuruh anak-anak untuk berhenti bermain dan mencuci tangan.


"Yang, sudah cuci tangan sini ayo makan pisang goreng, yang gak cuci tangan gak dapat pisang goreng lo, jangan lupa sebelum makan berdoa dulu!" seru Nafisa lembut, Nafisa sebagai guru taman kanak-kanak memang sangat luwes berbsur dengan anak-anak.


__ADS_2