TALAK

TALAK
Part 171 TALAK.


__ADS_3

"Ih mas, udah lepasin gerah nih." keluhku manja.


"Siapa yang gerah, mas gak gerah malah dingin banget, pinginnya memeluk Dinda dan ananda kaya gini." ucap Pak Catur


"Kalau gini kapan selesainya mas!" rajukku agar pak Catur melepas pelukannya.


"Bawa secukupnya saja, Dinda, kalau kita main kesini tidak perlu bawa baju, Dinda jangan terlalu capek, ingat minggu pagi kita masih ada acara dengan anak yatim piatu di villa." ucap Pak Catur yang sudah melepas pelukannya dan duduk di sebelahku sambil ikut melipat baju untuk di bawa pindah ke rumah pak Catur.


"Iya, mas ini juga cuma sedikit lagiankan bajuku tak banyak, tak mungkin kecapek-an, kan mas, mas, yakin dengan calon bayi kita?" tanyaku sedikit ragu, jujur aku takut jika pak Catur kecewa kalau aku tidak hamil diwaktu dekat, apalagi pernikahanku baru saja dua minggu yang lalu.


"Kapan pun kita diberi rejeki mas akan tetap ikhlas menerimanya, jika sekarang belum ya nanti, mas tahu kalau Dinda cemas, jangan khawatir Dindaku sayang." pak Catur menatapku lembut dan menangkup kedua pipiku gemas" Yang penting kita harus tetap berusaha jangan sampai bolong." ucap Pak Catur dengan senyum yang sulit diartikan.


"Mas, begini amat sih, perasaan dulu mas itu datar-datar saja tak tahunya." rajukku manja.


"Kenapa?, sekarang kan sudah halal, kalau dulu ya gak mungkin aku makan kamu sayang." ucap Pak Catur dengan senyum khasnya.


"Sebaiknya mas, di luar temani Afri saja ya, kalau begini malah gak rampung-rampung, kalau sampai gak rampung nanti malam gak aku kasih jatah, ini biar Dinda kerjain sendiri saja, sayang ya." akhirnya dengan lembut aku usir pak Catur dari kamar, tanpa protest pak Catur mengikuti perintahku.


"Cepetan sayang, nanti malam aku kasih hadiah." bisik pak Catur di telinga ku sebelum meninggalkan kamar.

__ADS_1


Melihat tingkah pak Catur aku hanya bisa geleng-gekeng kepala, bagaimana tidak, dulu dan sekarang sangat jauh berbeda dulu terlihat sangat mandiri namun sekarang, dia juga mulai manja.


Prenikahanku dengan Pak Catur masih berada di situasi yang membahagiakan, aku dan Afriana pindah dan tinggal di rumah pak Catur, Afriana juga sangat senang, dia tidak membantah sedikitpun, bahkan keduanya sangat akrab sekali. Malam ini kami bertiga pergi ke pusat kota untuk refreshing bersama keluarga, ini pertama kalinya kami bertiga keluar bertiga saja. Setelah capek jalan-jalan kami bertiga kembali ke rumah, Sesampainya di rumah Afriana segera masuk rumah dan tidur di kamarnya setelah aku temani sebentar.


Pagi ini pak Catur berangkat ke kantor untuk mengecek kantor, berhubung aku masih dalam cuti pak Catur melarangku untuk ikut, dan lagi Afriana tidak ada temannya.


"Buk, rumah ayah gede banget." ucap Afriana saat duduk di ruang tengah, karena baru pindah kami berdua menata barang bawaan kami di taruh di kamar.


"Afri, suka?" tanyaku.


"Suka, tapi... !" ucap Afriana berhenti.


"Jika ibuk dan ayah kerja pasti sepi." jawab afriana jujur.


"Nanti ada mbak yang kerja di sini, selain bersih-bersih mbaknya akan temani Afri bermain." hiburku.


"Mbaknya berapa buk?" tanya Afriana polos.


"Ibuk belum tahu." ucapku jujur.

__ADS_1


Jam dua siang Pak Catur sudah kembali dari kantor, karena tidak masak kami keluar untuk membeli makan di luar, setelah makan pak Catur tidak mengajak kembali ke rumah namun pak Catur malah me garahkan mobilnya ke pabrik baru yang baru jadi bulan ini namun belum diresmikan.


Mobilnya pak Catur belok ke villa, ya villa yang modelnya sesuai dengan gambar yang pernah aku pilih dulu. Villa itu kini sangat Indah dan banyak sekali pekerja yang sedang menghiasi villa untuk acara besok.


"Selamat datang Dindaku sayang di rumah Dinda dan keluarga." ucap Pak Catur dengan senyum puas dan bahagia.


Tanpa terasa air mataku jatuh, masih ku ingat beberapa waktu yang lalu ketika pak Catur memintaku untuk memilihkan gambar model villa, yang tanpa aku sadari jika semuanya untuk diriku sendiri.


Pak Catur mengajak kami untuk masuk, semuanya sesuai dengan usulku dulu, tidak ada yang berbeda. Aku melihat lihat villa yang sangat klasik nan elegant, Afriana dengan senang hati langsung berlari kesana kemari seolah sudah hafal betul.


Dekorsi yang pak Catur gunakan juga model klasik, malam ini kami menginap di villa mengingat besok akan ada acara berbagi dengan anak yatim piatu selain untuk tasyakuran pernikahan juga untuk tasyakuran menempati villa baru.


Mulai subuh kami sudah di sibukan dengan berbagai kegiatan, terutama pembukaan khotmil Qur'an, pagi di awali dengan khotmil Qur'an, siangnya setelah dhuhur di lanjut dengan acara berbagi dengan anak yatim piatu, acaranya sangat sederhana namun sangat bermakna, bagaimana tidak seorang Catur Cakra masih menedepankan ajaran agama dengan baik.


Acara berjalan lancar tanpa ada Halangan suatu apapun, semua tamu undangan mendapat bingkisan special dari Pak Catur.


Setelah acara selesai mbak Priska dan semua keluarga pamit pulang kini yang ada di villa hanya ada aku pak Catur dan Afriana, serta satpam yang bertiga menjaga villa selama ini.


"Dinda tidak menyangka jika selama ini kangmas sudah merencakan semuanya dengan matang." ucapku saat kami berdua berbaring di atas ranjang.

__ADS_1


"Dan mas juga tidak menyangka jika Dinda menerima lamaran dari mas dengan ikhlas, terima kasih sayang." ucap Pak Catur dan langsung mencium keningku penuh kasih sayang.


__ADS_2