
Hari ini pekerjaanku sangatlah banyak begitu pula pak Catur hingga tak terasa waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam, dan seperti biasa aku minta tolong pada Fauzan untuk menjemputku, pertama aku tidak membawa sepeda motor, kedua aku tidak mau merepotkan pak Catur karena kita berdua sama-sama lagi banyak kerjaan.
Jam sepuluh lebih lima belas menit aku menuju ruangan pak Catur di dalam pak Catur masih asyik dengan komputernya.
"Selamat, malam pak, sekarang sudah jam sepuluh lebih, lebih baik bapak pulang dan segera istirahat." ucapku memperingatkan pak Catur.
"Malam, mbak maaf sampai gak tahu, kalau begitu sebentar aku tutup dulu komputernya, aku segera antar kamu untuk pulang." jawab pak Catur sedikit terkejut.
"Terima kasih, bapak tidak usah mengantar saya, karena Fauzan sudah menunggu saya di pos satpam, kalau tidak ada yang harus saya kerjakan lagi, saya pamit pulang dulu." ucapku berpamitan.
"Maaf, mbak harusnya saya yang ngantar mbak, karena di sebabkan saya mbak menjadi telat pulang." ujar pak Catur sambil mematikan komputernya dan merapikan sendiri mejanya.
"Tidak masalah, pak toh biasanya juga Fauzan yang jemput saya, kalau begitu saya permisi dulu pak." pamitku sopan.
"Tunggu sebentar mbak, kita keluar bareng, kebetulan saya juga sudah selesai." ucap Pak Catur.
Aku dan Pak Catur meninggalkan ruangan bersama-sama, pak Catur mengikuti langkahku menuju pos satpam di mana Fauzan sudah menungguku di sana. Begitu sampai di pos satpam aku segera pamit pulang dengan di boncengan oleh Fauzan, sedang pak Catur juga pulang dengan mengendarai mobilnya.
Sesampainya di rumah seperti biasa rumahku dalam keadaan sepi, karena Afriana sudah tidur dengan ibuku di rumah orang tuaku, sedangkan bapakmu masih duduk di teras sendirian.
"Belum tidur pak?" tanyaku pada bapak.
__ADS_1
"Fah, cepat mandi segera sholat dan dzikir, untuk saat ini biarkan Afriana tidur di rumahku, kelihatannya bakal ada tamu." ucap bapakku saat aku mau masuk rumahku.
"Inggih pak." jawabku sopan.
"Fah, kali ini agak berat dari yang dulu, jadi kamu jangan sampai lengah, segera sucikan dirimu dan mintalah pertolongan kepada Allah SWT, kali ini dari arah timur mungkin lebih dari satu." nasehat bapakku.
"Inggih, pak, saya harus bagaimana?" tanyaku.
"Seperti biasa saja, jangan sampai keduluan segera sucikan dirimu!" perintah bapak padaku.
"Inggih pak."
"Astaqfirullah hal'adzim, aku kan belum suci," gumamku dalam hati karena baru ingat jika sedang udzur.
Yang tadinya aku ingin segera sholat dan mengaji akhirnya aku hanya membaca duduk menehamkan mata dan dzikir saja, serta melafadzkan beberapa doa yang bapak ajarkan padaku.
Kali ini aku merasakan ada hawa sedikit panas dalam rumahku, dan aku juga merasakan sedang terjadi pertarungan sengit di udara, aku tetap duduk membaca dzikir dan doa-doa pengusir teluh yang pernah di ajarkan bapak padaku.
Seperti yang bapak katakan tadi, ya kali ini tamu yang datang memiliki kekuatan yang lumayan kuat dan jumlahnya ada tiga makluk banas pati.
"Jangan pernah kau ganggu keturunanku, pulanglah, kembalilah pada juraganmu!" perintah kakek bersorban putih tegas.
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak akan pulang, dan aku baru akan pulang setelah aku berhasil menjalankan tugas dari tuanku." ucap banas pati berapi-api.
"Baiklah, jika kalian kalah segera tinggal kan daerah kekuasaanku dan jangan kau ganggu lagi keturunanku." ucap kakek bersorban putih.
Kakek bersorban segera membaca dzikir dengan tasbih di tangan serta seekor harimau putih yang mulai ikut bertarung dengan banas pati.
Malam ini benar-benar menjadi malam paling mencekam, karena kali ini yang di inginkan bukan saja ingin mencelakaiku namun juga ingin membuat Afriana celaka.
Jam satu malam pertarungan baru selesai, dan tubuhku benar-benar terasa lemah setelah pertarungan tadi, "Alhamdulillah, Engkau masih menyelamatkan keluarga hamba ya Allah." ucapku dalam hati.
Dari luar aku mendengar auman harimau yang menandakan bisa memenangkan pertarungan tadi. Tidak berselang lama suara bapak dari luar sedang memanggil namaku, aku segera membukakan pintu rumah, bapak dan Fauzan sudah berdiri di depan pintu rumahku.
"Fah, kamu tidak apa-apa kan ?" tanya bapakku khawatir.
"Mbak, apa yang kamu rasakan?" tahta Fauzan padaku.
"Alhamdulillah, tidak apa-apa cuma badanku pegal-pegal semua." jawabku lesu karena memang sudah terlalu lelah.
"Istirahat lah, Fah, besok saja kita bahas, malam ini, aku dan Fauzan akan tetap bejaga-jaga, takutnya mereka kembali di saat kamu lengah, jangan lupa kunci pintunya." nasehat bapakku.
"Inggih pak." jawabku segera masuk kembali kedalam rumah untuk istirahat karena tubuhku benar-benar lelah.
__ADS_1