
"Mbak, ingin tetap di sini apa ikut aku jalan, aku mau ngecek bangunan yang di sebelah sana, setelah itu kita pergi, jangan sampai Afriana sudah pulang dari sekolah kita malah belum pulang." ucap Pak Catur dengan senyum penuh kebahagiaan sambil tangannya menunjuk arah yang di maksud.
"Saya ikut bapak saja, saya juga pingin ngerti soal bahan bangunan, biar tambah ilmu." ucapku dengan senyum mengembang.
Terus terang banyak sekali kejutan yang di lakukan oleh pak Catur, dan aku pun sama sekali belum begitu paham dengan karakter pak Catur itu bagaimana.
Kami berdua berjalan menuju bangunan yang pak Catur maksud, aku melihat semua pekerja, bekerja penuh semangat dan berbinar-binar bahagia, mereka memberikan senyuman ramah dam sopan pada kami berdua saat kami melintas dekat mereka.
Pak Catur meneliti dan menanyai beberapa pekerja tentang bahan kwalitas yang di pakai sama seperti sebelumnya, para pekerja dengan ramah juga menjawab, setelah di rasa cukup laki berdua meninggalkan lokasi pabrik.
Mobil yang kami pakai melaju pelan-pelan ke lokasi sekitar pabrik dan juga tanah tujuan yang akan di beli oleh pak Catur. Di lokasi tanah yang di jual sudah ada pak kepala desa yang sudah menanti, dan juga pemilik tanah yang hendak menjualnya.
Kami berdua turun dari mobil, mereka menyambut kedatangan kami dengan sopan. Pak Catur berbincang-bincang dengan Pak kepala desa dan pemilik tanah untuk menentukan harga tanah, sambil berjalan melihat situasi tanah.
Kata sepakat telah terjadi pak Catur resmi membeli tanah dengan harga normal "Terima kasih pak, untuk pembayaran besok senin saya akan datang dengan pengacara saya, sekalian saya minta surat-surat tanahnya" ucap Pak Catur senang.
"Terima kasih, sampai jumpa di hari senin pak Catur.'' ucap kepala desa dan pemilik tanah sopan.
Tak terasa jam sudah menunjukan pukul sebelas siang" Mbak jam berapa biasanya Afriana pulang dari sekolah." tanya pak Catur padaku.
" Jam dua belas siang Pak, karena sabtu tidak begitu banyak mata pelajaran dan tidak ada pelajaran tambahan." jawabku jujur.
" Masih ada waktu satu jam, ya sudah kita pulang sekarang, ayo mbak! " perintah pak Catur.
__ADS_1
Kami berdua menuju mobil, untuk meninggalkan lokasi, aku dapat melihat air muka bahagia pada pak Catur, entah apa yang membuatnya bahagia aku juga tahu, karena aku juga berusaha untuk tidak ingin mencari tahu.
"Mbak di mana Afriana sekolah?" tanya pak Catur padaku.
"Di SD XXXX pak," jawabku jujur.
"Baiklah, setiap hari sabtu apa kegiatan kalian?" tanya pak Catur padaku.
"Istirahat di rumah, kalau saya ya mencuci baju, melakukan pekerjaan rumah, nyapu merapikan rumah." jawabku jujur.
"Tidak pergi untuk bermain begitu?" tanya pak Catur.
"Kadang, oh ya pak saya ucapan banyak terima kasih, karena bapak selalu memberi hadiah kepada anak saya, saya tidak tahu dengan apa agar saya bisa membalas kebaikan bapak," ucapku.
"Melihat Afriana bahagia bagiku itu sudah sebagai balasan yang tiada ternilai bagiku, melihat senyum Afriana itu kebahagiaan tersendiri buatku mbak," jawab pak Catur tulus "Mbak, ehmm.... boleh kan aku menyayangi Afriana." pinta pak Catur penuh harap.
"Ehmm...."
"Begini pak, bukannya saya melarang takutnya nanti Afriana terlalu nyaman dan terbiasa dengan bapak, sedangkan bapak suatu saat pasti akan punya keluarga sendiri dan lagi saya tidak ingin Afriana terbiasa dengan kasih sayang yang bapak berikan ataupun berupa materi yang berlebihan dari bapak, maaf pak bukan maksud saya.... " ucapku belum selesai sudah di sela oleh pak Catur.
"Aku paham maksudmu, mbak, kamu jangan khawatir apapun yang terjadi aku akan tetap menyayangi Afriana seperti sekarang, sebagaimana aku menyayangi semua keponakanku, anggap saja aku paman barunya dan ehmmm.... Apa ya!" ucap Pak Catur menggantung.
"Saya harap bapak jangan berlebihan terhadap Afriana, pak, terima kasih kalau bapak menganggap Afriana seperti keponakan, sekali lagi saya ucapan bantal terima kasih, semoga Allah melimpahkan kebahagiaan dunia akhirat buat bapak, dan semoga bapak bisa menemukan pendamping hidup yang sholehah seperti ibu dulu," ucapku tulus.
__ADS_1
" Aamiin yarobbal'alamin, terima kasih mbak, sudah sampai jam sepuluh menit lagi Afriana keluar." ucap Pak Catur menghentikan mobilnya di depan pagar sekolahan Afriana.
"Hah.....!" Aku terkejut karena tanpa aku sadari pak Catur sudah menghentikan mobilnya.
"Aku ingin menjemput keponakan baruku." ucap Pak Catur dengan senyum bahagia seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan.
Tanpa aba-aba pak Catur sudah turun dari mobilnya, aku juga turun tidak berapa lama Afriana sudah keluar dari kelasnya.
"Af....!" seru pak Catur memanggil Afriana yang baru keluar dari kekasnya menuju gerbang.
"Paman, ibuk!" seru Afriana terkejut namun bahagia dan langsung bersalamam" Bagaimana Paman tahu sekolahanku? " tanya Afriana polos.
"Rahasia, ayuk kita pulang, habis ini kita ke rumah mbak Rahma, kita main di rumahnya mbak Rahma bagaimana, setuju?" ucap Pak Catur penuh kasih sayang, mereka berdua benar-benar akrab sudah seperti lama kenal.
"Mau... Mau Paman, tapi.....ehmmm!" ucap Afriana yang sudah duduk di mobilya pak Catur.
"Tadi Paman sudah minta ijin ibuk, dan ibuk mengijinkan" ucap pak Catur.
"Benar, Buk?" tanya Afriana padaku.
"Iya, benar." jawabku sedikit kikuk,
Entah kejutan apalagi yang akan Aku terima dari Pak Catur, kepala ku sedikit pusing menghadapi pak Catur yang penuh kejutan.
__ADS_1
"Horeeeee....!" seru Afriana bahagia.
Yang merasa bahagia bukan hanya Afriana, bahkan pak Catur terlihat lebih bahagia dari pada Afriana. Dengan senyum penuh kebahagiaan pak Catur mengemudikan mobilnya menuju rumahku, dalam perjalanan tak henti-hentinya antara pak Catur dan Afriana berceloteh ria, bahkan Afriana menceritakan kepada pak Catur semua kegiatannya selama di dalam kelas.