TALAK

TALAK
Part 111 TALAK


__ADS_3

"Hayo siapa yang tahu, kalau benar jawabnya Paman kasih hadiah sesuai permintaan kalian." ucap Pak Catur bahagia.


"Karena ayamnya budek(tuli)!" seru Zahra asal sambil nyengir.


Kami semua yang mendengar jawaban dari Zahra langsung tertawa terpingkal-pingkal.


"Kenapa budek, Zah?" tanya mbak Yah.


"Di panggil pelan-pelan gak dengar, ya akhirnya di teriyaki baru dengar Berhubung yang manggil jengkel begitu ayamnya datang langsung di sembelih terus di goreng deh." jawab Zahra polos.


"Bukan mbak!" sergah Afriana tak mau kalah.


"Lalu apa Af?" tahu Zahra sambil manyun.


"Karena ayamnya mau di sembelih dan ayamnya masih mau bermain jadinya teriak-teriak minta tolong." jawab Afriana asal.


Kami berempat mendengar kekonyolan Afriana dan Zahra benar-benar terpingkal-pingkal.


"Berhubung jawaban kalian benar semua kalian akan Paman kasih hadiah, kalian mau minta apa, baju, tas sekolah, buku atau sepatu, yang lain juga boleh." ucap Pak Catur.


"Zahra juga dapat Paman?" tanya Zahra bekum percaya jika akan mendapat hadiah dari Pak Catur.


"Tentu, tapi habiskan dulu makanannya, dan ngajinya harus rajin, semalam siapa yang hafalannya lancar?" tanya pak Catur pada Afriana dan Zahra.


"Kita berdua sama-sama lancar lo Paman, kata pak puh hafalan kita berdua bagus." jawab Afriana antusias.


"Benar nih!" goda pak Catur.


"Paman gak percaya sih, tanya saja sama pak puh dan bulek Naf, yang mbak Zah." gerutu Afriana.

__ADS_1


"Kalian hanya boleh memilih hadiah satu saja dari Paman OK, tidak boleh lebih." ucap mas Jamal menasehati Afriana dan Zahra.


"Benar yang di katakan pak puh, kalian hanya boleh milih satu hadiah kalau ingin pintar." nasehatku dengan lembut.


"Baiklah sesuai keputusan bapak Jamal dan ibu Afifah, hadiahnya cuma dapat satu saja, jika kalian hafalannya juz amma lancar Paman akan kasih kejutan lagi." ucap Pak Catur bahagia.


"Terima kasih Paman, Zahra senang sekali!" seru Zahra bahagia.


"Aku juga satu saja, Paman asal jangan pecat ibukku ya Paman, terima kasih, sebenarnya Afri gak dapat hadiah juga tidak apa-apa asal ibukku tetap bisa bekerja dan dapat uang banyak buat sekolah Afriana dan bisa bikin rumah yang bagus seperti punya pak puh Jamal." ucap Afriana sedikit melo.


Pak Catur tidak menjawab namun langsung memandangi ke arahku dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Afri, jangan khawatirkan ibuknya, Afri, Afri, tahu nggak jika ibunya Afri itu pintar dan juga rajin bekerja mana boleh Paman memecat ibunya Afri, makanya Afri harus rajin ngaji dan sekolahnya biar pintar ngaji seperti ibunya." nasehat pak Catur lembut.


Setelah menunggu sekitar lima belas menit menu pesanan kami datang secar bersamaan. Anak-anak sangat antusias ketika melihat menunya yang di Tata rapi dan lucu, akhirnya kami berempat menikmati menu kami tanpa bersuara hanya mendengarkan celotehan Afriana dan Zahra yang sangat senang sekali, Afriana menceritakan pada Zahra jika sekarang adalah yang kedua kalinya makan di restaurant yoshinoya.


"Baik pak." jawab Zahra.


"Iya, pakpuh Afri, juga sudah capek." sahut Afriana yang sudah selesai makannya.


"Yuk kita beli hadiah, Zahra mau beli apa dan Afriana mau beli apa?" tanya pak Catur pada Afriana dan Zahra.


"Aku mau tas punggung, buat sekolah." jawab Zahra gembira.


"Aku mau sepatu buat sekolah." jawab Afriana polos.


"Baiklah kita cari toko sepatu dan cari toko tas setelah selesai makan." ucap Pak Catur antusias.


Di saat mereka masih ngobrol aku bangkit dengan alasan pergi ke toilat, tanpa sepengetahuan pak Catur aku ambil kwitansi yang ada di atas meja aku segera menuju kasir dan membayarnya, terus terang aku sangat sungkan jika harus di bayari terus oleh pak Catur. Ketika pak Catur mencari kwitansi aku pura-pura tidak tahu, pak Catur memanggil pelayan resatauran untuk meminta kwitansi lagi.

__ADS_1


"Mbak kwitansinya hilang, bisa minta kwitansi lagi, saya mau bayarnya." ucap pak Catur pada pelayan resatauran.


"Maaf, pak sudah di bayar oleh istri bapak." jawab pelayan resatauran sopan sambil menunjuk ke arahku.


"Oh, terima kasih." jawab pak Catur langsung menata ke arahku.


Mataku membelalak ketika mendengar jawaban dari pelayan resatauran, sedang pak Catur menunjukan sebuah senyuman kebahagiaan, mas Jamal dan mbak Yah hanya saling pandang, Afriana dan Zahra sibuk sendiri dengan minumannya.


Karena sudah selesai semua dan sudah aku bayar kami berenam meninggalkan resatauran yoshinoya, kami mencari toko yang menjual sepatu dan tas supaya menyingkat waktu karena aku sendiri juga sudah capek. Tanpa minta persetujuan dari kami pak Catur membawa anak-anak masuk ke dalam toko Nike " Mateng ini mahal semua." gumamku dalam hati sambil memilihkan sepatu untuk Afriana.


"Fah, kok masuk sini sih ini kan maha-mahal." bisik mbak Yah padaku.


"Aku juga nggak tahu mbak, yang penting mbak pilih saja buat Zahra asal anak-anak senang" bisikku pada mbak Yah, sedang mas jamal ikut melihat lihat sepatu juga.


"Lihat Fah satu tas seharga sekwintal padi." bisik mbak Yah padaku sambil menunjukan harga tas yang di pegangnya.


"Mas, juga bisa ambil biar aku yang bayar mas." ucap Pak Catur pada mas Jamal .


"Tidak usah, terima kasih wong kerjaanku saja hanya tukang ngaret gak perlu pakai sepatu semahal ini." tolak mas Jamal sopan.


"Mbak Yah mungkin, buat senam." Pak Catur ganti menawarkan pada mbak Yah.


"Terima kasih, cukup buat Zahra saja, yang penting anak-anak senang." tolak mbak Yah sopan.


"Nah, kalau yang ini cocok buat mas nya Zahra." ucap Pak Catur sambil menunjukan sepatu olah raga keluaran terabaru harganya saja bikin pingsan hampir dua juta untuk sepasang sepatu.


"Terima kasih, pak benar tidak usah, masnya baru saja beli cukup Zahra dan Afriana saja." tolak mas Jamal sopan.


Dengan sedikit drama akhirnya kami memilih sepatu dan tas buat Afriana dan Zahra saja itupun kami memilih dengan harga yang paling murah, kami milih yang harganya di bawah lima ratus ribu ketika memegang sepatu buat Afriana dengan harga empat ratus ribu dalam hatiku bergumam" Seumur-umur baru kali ini beli sepatu dengan harga super mahal, biasanya hanya mampu beli yang harga lima puluh ribu paling mahal seratus ribu."

__ADS_1


__ADS_2