
Sesampainya di rumah bu Priska kami semua segera turun, pak Anam dan rombongan sampai lebih dulu sedang mobil pak Catur datang setengah jam lebih lambat. Kami semua istirahat sebentar di ruang tamu, karena jam sudah menunjukan pukul setengah lima lebih aku memilih pamit pulang, untung saja sebelum pulang kami semua menjalankan ibadah sholat asyar di warung caping gunung jadi pak Catur mengendari mobilnya dengan santai.
"Maaf, pak boleh minta tolong untuk antarkan saya ke kantor." pinta ku pada pak Catur dengan sopan.
"Kamu mau pulang, Fah?" tanya mama Cakra padaku.
"Iya, ma, soalnya sudah sore." jawabku sesopan dan selembut mungkin.
"Ton, antar pulang langsung mantu mama dan besok pagi tugasmu menjemput mantu mama, harus selamat!" perintah mama Cakra.
"Tidak usah, ma, biar saya pulang sendiri saja, lagian saya dengan Pak Catur juga belum sah menjadi pasangan suami istri jadi, biar saya pulang sendiri saja, besok inshaallah saya akan datang pagi-pagi sekali, untuk sekarang pak Catur, cukup mengantar saya mengambil motor di kantor saja." tolakku sehalus mungkin agar mama Cakra tidak tersinggung dengan penolakanku.
"Nah, sekarang mama tahu sendirikan, bagaimana susahnya untuk menaklukan hati mantu mama ini, dia selalu menolak, kalau dulu mama langsung melamarnya aku yakin pasti langsung di tolak, bersyukur mengikuti nasehat kakung, untuk langsung melamar pada bapak dan ibuknya." ucap Pak Catur.
Mendengar pengakuan dari Pak Catur ingin rasanya aku tutup mukaku dengan mangkuk bakso, bagaimana tidak malu jika beberapa hari yang lalu dengan percaya dirinya aku menyuruh pak Catur jika ingin melamarku cukup datang pada orang tuaku, dan ternyata pak Catur sudah datang duluan sebelum aku ngomong. Betapa bodohnya aku, tidak pernah peka dengan segala ucapan keluarga pak Catur, maupun segala ucapannya pak Catur, aku benar-benar mati kutu sekarang, karena aku berpikir tidak mungkin pak Catur akan jatuh hati pada wanita seperti diriku, seorang wanita dengan status janda beranak satu, miskin dan kampungan. Sedikit kelebihanku hanya karena aku dapat nikmat otak yang encer, sehingga Allah memberiku kepercayaan dengan memberi posisi yang bagus di pabrik Cakra.
__ADS_1
"Sampai kapan kalian akan tetap bersikap formal kaya gitu, mbok yang mesra gitu ganti panggilan kek minimal!" protes mama Catur dengan penuh keheranan.
"Yang pasti sampai, mbak Fah, siap paj, kalau aku sih yang senang-senang saja." jawab pak Catur santai dan mafih tetap duduk si sofa ruang tengah.
"Mereka itu menang unik, ma, biarin saja yang penting kita tetap bisa ngunduh mantu." sergah papa Cakra, santai.
Jujur saja aku semakin mati kutu dibuatnya, rasanya ingin sekali aku keluar dari ruangan ini saking malunya, dengan segala pujian yang mereka lontarkan padaku. Tanpa aku sadari ternyata keluarga Cakra sudah benar-benar mengunginkanku jauh-jauh hari.
"Karena sudah sore saya pamit dulu, ma, pa, tolong pamitkan pada yang lain. " pamitku langsung berdiri dan menjabat tangan mama dan papa Cakra dengan ta'dzim.
Aku dan Pak Catur masuk ke dalam mobil pak Catur, tanpa bertanda lagi pak Catur langsung mengarahkan mobilnya menuju kantor, begitu sampai di parkiran kantor, keadaan parkiran sudah sepi hanya ada beberapa sepeda motor para karyawan yang sedang lembur karena jejar deadline.
"Terima kasih pak." ucapku sopan begitu mobil sudah berhenti di parkiran.
"Sikap seperti inilah mbak, yang aku suka darimu, pokoknya kamu sangat istimewa buatku, kamu tetap tenang, semoga pernikahan kita nanti langgeng sampai akhirat." ucap Pak Catur sambil memandangku dengan sangat teduh.
__ADS_1
"Semoga Allah meridhoi niat baik kita pak, aamiin yarobbal'alamin." doaku tulus.
"Aamiin yarobbal'alamin, ya Allah." Pak Catur ikut mengamininya dengan tulus.
Begitu aku keluar dari mobil pak Catur, aku segera menuju parkiran sepeda motorku untuk mengambil motorku.
"Mbak, Fah, tumben sudah mau pulang." sapa pak Fikri dari devisi keuangan.
"Iya, pak tadi habis meting dari luar sudah capek, jadi ya saya minta pulang cepat." jawabku sekenanya.
"Saya salut dengan sampean mbak, tidak mudah untuk bisa mengimbangi kinerja GM kita yang baru, apalagi sekarang kemajuan pabrik kita sangat pesat, meduduki peringkat pertama dari seluruh cabang yang ada di Indonesia, pasti sampean harus kerja ekstra." puji pak Fikri mengutarakan kesalutannya.
"Semua berkat semua staf yang bisa di ajak kerja sama pak, tanpa adanya pihak lain yang mendukung saya rasa, saya juga tidak mampu pak, dan yang nomor satu berkat Ridho Allah." ucapku.
"Iya, ya mbak, ya sudah mbak ayo pulang keburu kesorean nanti di tunggu anak-anak." pamit pak Fikri dan langsung menstarter motor N-max nya.
__ADS_1
"Mari, pak." akupun langsung menstarter motor maticku menuju rumahku sendiri.