TALAK

TALAK
Part 115 TALAK


__ADS_3

"Assalamu'alaikum mbak Fah." sapa pak Catur yang sudah berdiri di depan mejaku dengan sopan dan senyum mengembang indah.


"Wa'alaikum pak." jawabku sopan dengan senyum yang mengembang.


"Kata satpam kamu berangkat sangat pagi-pagi sekali ada masalah dengan pekerjaan?" tanya pak Catur padaku penuh selidik.


"Tidak pak, saya hanya memfoto copy dokumen saya untuk kelengkapan sidang besok." jawabku jujur.


"Masuk ke ruanganku mbak!" perintah pak Catur meninggalkan ruanganku dan menuju ruangannya.


"Baik pak."


"Astaqfirullah hal'adzim... !"


Aku lupa belum membuatkan teh panas pahit yang menjadi kesukaan pak Catur. Sebelum menuju ruangan pak Catur aku menuju pantri untuk membuatkan teh buat pak Catur, kebetulan di pantri ada petugas cleaning servus yang sedang membuat minum juga.


"Mbak, Afifah tumben baru bikin teh buat bapak!" seru cleaning servis.


"Eh iya bu, tadi lupa banyak selalu pekerjaanku." jawabku asal.


"Mbak Fah, benar-benar rajin, selalu datang tepat waktu, aku salut sama kamu mbak, padahal menurut cerita dari para karyawan pak Catur itu katanya perfect sekali, dan harus tepat waktu katanya pekerjaannya juga bantal sekali." cerocos ibu-ibu cleaning servis.


"Jangan memuji berlebihan bu, saya rasa semua karyawan yang bekerja di perusahaan Cakra lima juga sangat baik dan di siplin." ucapku dengan senyum manis dan sopan.

__ADS_1


"Tapi sayangnya tidak ada yang tahu istrinya pak Catur, benar-benar misteri." ucap cleaning servis.


"Kaya sinetron saja bu, misteri, yang penting gaji kita lancar bu," kelakarku " Saya pergi dulu bu, mau mengantar ke pak Catur nanti kekamaan." pamitku sopan, aku segera meninggalkan pantri menuju ruangan pak Catur dengan segelas teh pahit yang sangat panas sekali.


Tok Tok Tok.


"Masuk!" perintah pak Catur dari dalam.


"Maaf, pak kelamaan tadi saya lupa belum buat teh untuk bapak." ucapku jujur dengan senyum sopan.


"Tidak, mengapa duduklah mbak!" perintah pak Catur sopan.


Aku segera duduk setelah meletakan segelas teh di atas mejanya pak Catur.


"Kurang tahu pastinya pak, kendalanya masih sama saya harus berhadapan dengan iblis kiriman dari sang dukun, dan entah sampai kapan, karena saya juga kurang tahu pastinya, semoga dengan semua bukti yang ada hak asuh Afriana tetap jatuh di tangan saya pak." jawabku jujur.


"Jika mbak memerlukan bantuan pengacara nanti aku bisa minta pengacaraku untuk membantu mbak,dan aku juga berharap semoga hak asuh Afriana tetap berada di tanganmu, mbak, aku sendiri juga tidak rela jika hak asuh Afriana jatuh di tangan mantan suamimu, jika itu terjadi aku akan ikut berjuang untuk mendapatkan hak asuh Afriana dan jika besok hasilnya tidak sesuai dengan jeinginan mbak, mbak bisa naik banding aku akan siapkan pengacara untuk mbak." jelas pak Catur dengan tatapan yang menggambarkan sautu pengharapan.


"Terima kasih pak, atas tawaran bantuannya, doakan saja semoga besok sidangnya segera selesai dan tidak perlu naik banding, sebenarnya saya sudah sangat lelah dengan semua ini, saya berharap cepat selesai, saya tidak perlu sering ambil cuti, dan agar saya bisa fokus bekerja dan mendidik Afriana dengan benar, itu saja harapan saya sekarang, lepas dari mas Ringgo agar saya bisa hidup tenang dengan Afriana anakku," entah angin apa pagi ini Aku mengeluarkan keluh kesahku pada pak Catur dengan tiba -tiba tanpa ada perencanaan sama sekali, padahal sebelumnya aku tidak pernah berkeluh kesah padanya " Maaf pak, jika saya berkeluh kesah." ucapku ketika aku menyadari semua ucapanku.


"Aku malah senang bisa mendengarkan keluh kesah mbak, berarti mbak sudah menganggap aku sebagai teman dekat." ucap Pak Catur dengan senyuman kebahagiaan.


"Maksud bapak?" tanyaku karena aku kurang paham.

__ADS_1


"Maksudku... Sekarang kita harus siap-siap untuk meting sudah waktunya kita untuk pergi meting di hotel Merdeka." ucap Pak Catur santai.


"Haaahhh... !" seruku.


"Maaf pak bukannya hari ini kita tidak ada jadwal meting, untuk meting di hotel merdeka dengan pihak agency periklanan kan masih selasa depan bukan sekarang." jawabku segera karena semalam juga sudah aku pastikan jika minggu ini tidak ada jadwal meting di luar kantor dan di dalam kantor, jadwal kita hanya bekerja seperti biasa.


"Aku salut sama kamu mbak biar kamu memiliki masalah yang sangat berat namun kamu tetap memptioritaskan pekerjaanmu dengan baik, dan kamu bisa memisahkan antara masalah pribadi dan masalah pekerjaan." Pak Catur malah memujiku dengan sangat antusias.


"Terima kasih pak, bagaimanapun saya tidak ingin di pecat karena di anggap tidak professional dalam bekerja, dan sebenarnya hanya pertanyaan yang masih mengganjal di hati saya pak." ucapku penuh kebimbangan.


"Apa?" tanya pak Catur dengan ekpresi penasaran.


"Apa benar bapak akan memecat saya, seperti yang bapak katakan beberapa hari yang lalu saat pulang dari plaza lawu?" Aku memberanikan diri untuk bertanya langsung pada pak Catur.


"Manurut mbak, bagaimana?" Pak Catur bukannya menjawab malah bertanya balik padaku.


"Kalau memang harus di pecat, ya berarti saya belum mampu dan belum pantas untuk mengemban tugas-tugas dari bapak." jawabku setenang mungkin.


"Apa pantas aku memecat mbak?" Pak Catur malah kembaki bertanya padaku lagi.


"Jelas pantas saja jika saya tidak bisa melaksanakan tugas-tugas saya dengan baik dan benar, secara bapak kan pimpinan dan juga Putra dari pemilik perusahaan ini pak." jawabku lagi selogis mungkin.


"Jangan di pikirkan soal itu, dan lagi buang jauh-jauh pikiran negatif mbak tentang pikiran calon istriku terhadap Afriana, semua akan baik-baik saja." ucap Pak Catur penuh penekanan.

__ADS_1


Sekarang aku yang kembali tidak paham dengan jawaban dari Pak Catur, tidak tanya tidak menjawab malah balik bertanya, akhirnya dengan hati yang masih penasaran aku kembali ke ruanganku untuk melanjutkan pekerjaanku sendiri.


__ADS_2