
Jam enam pagi pak Catur sudah meninggalkan rumah orang tuaku karena dia harus kembali bekerja di kantor. Di samping dia harus kembali ke kantor dia juga ingin memastikan bahwa sopir utusannya menjemput mas Ringgo benar-benar berangkat, dan beliau juga menastikan bahwa kendaraanya dalam keadaan bagus.
Kini anak-anak mulai beraktifitas seperti biasa, satu persatu aku bantu anak-anak balitaku untuk mandi dengan dibantu oleh Afriana. Bukan hanya Afriana Zahra dan Habibah mereka cukup cekatan dalam membantuku. Akirnya dalam satu jam semua anak-anakku sudah selesai mandi semua.
"Mbak, Fah, itu sustermu datang!" seru Nafisa memberitahuku.
"Apa?" tanyaku.
"Ini lo mbak susternya anak-anak sudah datang," seru Nafisa lagi.
"Sebentar aku ganti baju," jawabku.
Selesai ganti baju aku buka pintu kamarku.
"Selamat pagi buk," sapa dua susterku.
"Pagi, kalian ke sini sama siapa?" tanyaku.
"Tadi diantar sama bapak sopir, setelah itu bapak sopir pergi lagi, bapak bilang ibuk dan adik-adik ada di sini dan baru pulang nanti sore, jadi bapak menyuruh kami datang ke sini," jelas dua susterku.
"Baiklah kalau begitu," sahutku enteng.
Semua penghuni rumah orang tuaku pada sibuk dengan sendirinya para anak-anak mereka juga sibuk dengan aktifitasnya masing-masing, kini anak-anak di bawah pengawasan kedua susterku, namun Alifa tetap di bawah pengasuhanku.
Mas Jamal sudah kembali ke rumahnya, Fauzan sudah berangkat bekerja mas Sapta juga sudah kembali ke rumahnya sejak setelah sholat subuh tadi, kini tinggal bapak.
Aku masih ingat jika hari ini jadwal penjemputan mas Ringgo, menurut informasi mereka akan sampai di rumah sekitar setelah sholat dhuhur.
__ADS_1
Kini aku bergabung dengan saudaraku yang sedang berada di dapur mereka selalu saja sibuk di dapur jika sedang berkumpul di rumah orang tuaku.
"Sarapan Fah," ibukku menawariku sarapan.
"Ya, sebentar lagi," sahutku.
"Sustermu suruh sarapan dulu," perintah mbak Yah.
"Biasanya mereka sudah makan," sahutku lalu duduk di kursi meja makan.
"Biasanya kan?" tanya mbak Us "Siapa tahu hari ini belum," ucapbakbus lagi.
"Sebentar aku sarapan dulu setelah aku sarapan aku suruh mereka untuk sarapan," ucapku sambil menyendok nasi.
"Fah, siapa nanti yang akan mengantar Afriana?" tanya mbak Yah.
"Sopir, bapak dan mas Jamal to," sahutku.
"Kerumah bapaknya," sahutku.
"Dalam rangka apa?" tanya mbak Us.
"Itu mas Ringgo sudah sembuh dan hari ini sudah holeh pulang, sekarang mereka berangkat menjemput, makanya Afri kita jemput sabtu kemarin, dan kemarin kita juga sudah datang kerumah orang tua mas Ringgo," jelasku.
"Lalu bagaimana dengan Afriana?" tanya mbak Us penasaran.
"Dia masih sama, sulit untuk membangun kepercayaan Afri pada bapaknya," sahutku sambil menerawang.
__ADS_1
"Sabar, Fah, yang penting sekarang Afriana sangat menyayangimu dan juga ayahnya." ucap mbak Us.
"Ya, mbak, Afri lebih sayang ke ayahnya dari pada bapak kandungnya, sebenarnya aku juga sudah berusaha menasehatinya, tapi ya begitulah mbak, yang aku tahu Afri belum bisa menerima kehadiran bapaknya, aku tahu dia sebenarnya merindukan kasih sayang dari bapak kandungnya namun dia masih belum bisa melupakan kenangan buruknya dulu, itu sebabnya kami memutuskan untuk menginap di sini mendampingi Afri," jelasku lagi.
"Aku ikut prihatin Fah," ucap mbak Us.
"Semua sudah takdir mbak, aku sendiri sebenarnya juga tidak ingin bercerai dan menikah lagi, tapi ya mbak bisa lihat sendiri sekeras dan sekuat apapun aku memperrahankan rumah tanggaku aku tetap di buang, bersyukur sekali sekarang aku memiliki suami yang benar-benar bertanggung jawab anak-anak yang manis dan mrnggemaskan," ucapku
"Ya, saking tanggung jawabnya enam tahun sudah punya momongan empat," kelakar mbak Us.
"Hidupku sekarang itu bagai pepatah jawa ya mbak, sumur, dapur, kasur," kelakarku.
"Ya memang harus begitu, Fah, emange aku gak yo sama saja, mas mu itu juga melarangku ikut bekerja tapi ya aku kasihan melihat masmu yang bekerja sendirian," ucap mbak Yah.
"Sama halnya mas Fauzan," tambah Nafisa "Dinikmati saja di manjakan suami," tambah Nafisa lagi.
"Baru kali ini kita bisa ngerumpi kaya gini," ucap mbak Us.
"Biasanya yang gak kompak itu kamu Us," keluh mbak Yah.
"Akukan jauh mbak," kilah mbak Us memang benar adanya rumah mbak Us di luar kota dan memakan waktu kurang lebih dua jam perjalanan.
Kami di dapur asyik dengan obrolan kita yang entah tidak terarah. Setelah kami menyelesaikan sarapan bersama dengan saudaraku kami bersantai di ruang tengah, tidak lupa aku suruh kedua susterku untuk sarapan walau ditolak aku tetap menyuruhnya sarapan, tentu saja dengan sebuah rayuan jika masakan mbak-mbak ku sangat berbeda dengan menu masakan di rumahku padahal ya sama saja cuma beda orang yang masak.
Kini aku ikut menunggu anak-anak yang sedang bermain di halaman rumah orang tuaku, sudah bisa aku bayangkan bagaimana wajah Afwa, Afwi dan juga anak lainnya mereka asyik bermain air dan juga lumpur, anak-anak begitu sangat menikmatinya, walau Afwa dan Afwi terlahir dari keluarga Cakra yang kaya raya namun aku tetap membebaskan anak-anak untuk tetap bisa bergaul dengan siapapun, toh anak-anakku sering aku ajak ke panti asuhan yang aku kelola, jadi sudah sangat biasa bagi Afwa dan Afwi bergaul dengan siapapun juga.
Seperti biasa jika kami datang ke rumah orang tuaku anak-anak tatangga tidak akan sungkan untuk mengajak anak-anakku bermain bersama. Tawa polos menghiasi wajah bocah-bocah kecil itu, hingga setelah satu jam aku suruh meraka berhenti karena waktu juga sudah agak siang.
__ADS_1
Aku membersihkan anak-anakku dan juga anak tetangga dengan di bantu oleh salah satu susterku dan juga Nafisa, kami memandikan anak-anak bersamaan di sumur belakang rumah sambil bermain air. Untuk semua susterku yang sudah lama bekerja denganku mereka sudah sangat hafal akan kebiasaanku.
Selesai memandikan anak-anak aku suruh susterku untuk menggantikan bajunya anak-anak, kini anak-anak aku serahkan pada susterku sekarang aku cuci baju anak-anak menggunakan mesin cuci dan juga membersihkan tempat bekas anak-anak mandi tadi.