TALAK

TALAK
Part 175 TALAK.


__ADS_3

Sepulang dari kantor aku langsung mandi dan segera beristirahat, tubuhku benar-benar tidak bertenaga, pak Catur mengambil Afriana dari rumah orang tuaku, karena di rumah yang kami tempati belum ada pembantu jadi kami masih menitipkan Afriana ke-keluargaku, sebab pembantu yang sesuai dengan kriteria kita, belum bisa masuk kerja harus menunggu seminggu lagi. Menjelang magrip pak Catur dan Afriana sampai rumah rumah, tadinya aku ingin ikut menjemput Afriana namun pak Catur melarangku.


"Assalamu'alaikum Buk!" seru Afriana begitu masuk rumah.


"Wa'alaikum salam." sahutku bangkit berdiri dan menyambut kedatangan Afriana serta pak Catur.


"Buk, tadi dibawa-in bothok onthong (jantung pisan), sama mbah." ucap Afriana sambil menyodorkan bungkusan kresek ungu padaku.


"Alhamdulillah, PR-nya sudah di kerjakan apa belum Af?" ucapku dengan sebuah senyuman, akupun segera membawa kresek dari Afriana ke meja makan.


"Sudah buk." sahut Afriana terus mrngikutiku.


"Hemm, kelihatannya enak banget." suara pak Catur yang sudah berdiri di sampingku.


"Sholat magrip dulu baru makan!" perintahku.


"Tadi Aku sudah makan bareng mbah dan bulek Nafisa, buk tadi asik di perutnya bulek gerak-gerak lucu sekali, kalau adiknya bulek Nafisa keluar boleh ya aku ajak main ke sini, bolehkan? Yah." oceh Afriana polos penuh harap.


"Tentu boleh sayang, nanti kalau ibuk punya adik Afriana senang nggak?" kata pak Catur yang masih berdiri di dekat meja makan sedang Afriana duduk sambil terus ngoceh.


"Seneng banget, jadi adikku ada dua, tapi perut ibuk kok gak besar kaya perut bulek Nafisa?" celoteh Afriana.


"Soale ibuk makannya tidak sebanyak bulek Nafisa." sahutku asal.

__ADS_1


"Iya, Af, ibuk makannya sedikit jadi gak besar-besar perutnya," pak Catur ikut menimpali juga asal "Sekarang sudah magrip ayo sholat dulu, jangan sampai telat." ajak pak Catur lembut.


Kami bertiga langsung bergegas untuk mengambil air wudhu, kami bertiga sholat berjamaah di mushola kecil yang ada di rumah pak Catur, selesai sholat magrip kami bertiga makan bersama namun dengan menu seadanya, nasi masak sendiri sedang lauknya beli dan juga botok jantung pisang pemberian orang tuaku. Selesai makan kami bekerja sana dalam membersihkan bekas makan, bersama sambil bercengkerama di ruang makan yang ada di dapur. Aku yang mencuci piring, Afriana mengelap meja sedang pak Catur yang membersihkan lantai dan juga menata sisa makanan kedalam kulkas.


"Selesai, sebentar lagi isya!" seru pak Catur girang, seperti anak-anak yang menemukan mainan kesukaannya.


"Aku juga sudah selesai!" seru Afriana tak kalah girang.


"Dah, sekarang kalian segera ke mushola sebentar lagi adzan isya." perintahku.


"Baik Bu komandan." gurau pak Catur.


"Ayah manggil ibuk kok bu komandan sih, Yah." protes Afriana tanda tidak paham.


"Kalian ini, dengar tuh sudah adzan isya, ayo cepetan sholat!" perintahku pada mereka berdua, aku juga sudah selesai mencuci piring.


"Kalau bareng gini kan enak, ayo Af." seru pak Catur.


Selesai sholat isya, aku mendampingi Afriana untuk menata jadwal pelajaran dan menyiapkan untuk kebutuhan sekolah untuk esok hari, walau aku sudah menikah semaksimal mungkin aku tatap akan memperlakukan Afriana sama seoerti dulu, Karena aku berharap dengan menikah kasih sayang antar aku dan Afriana tidak luntur aku malah ingin banyak kasih sayang yang Afriana dapat dariku maupun dari suamiku, alhamdulillah sampai hari ini hal itu terwujud, pak Catur dengan tulus menyayangi kami berdua.


"Boleh masuk!" seru pak Catur yang sudah berada di ambang pintu kamar Afriana.


"Boleh Ayah." sahut Afriana senang.

__ADS_1


Pak Catur masuk dengan senyum tulus "Bagaimana Afri, suka dengan kamar ini?" tanya pak Catur yang duduk di ranjang Afri.


"Suka sekali Ayah, terima kasih Ayah."


"Sudah selesai apa belum belajarnya?" tanya pak Catur pada Afriana lembut.


"Sudah Ayah."


"Afri, kalau sekolah dari sini kejauhan apa tidak?" tanya pak Catur lagi.


"Jauh sih, tapi...." ucap Afriana berhenti.


"Af, Ibuk sama ayah ada berencana mau mindahin kamu ke sekolahnya mbak Rahma, sekolahannya lebih dekat." jelasku.


"Tapi Buk, teman Afriana di sana, dan di sekolahnya mbak Rahma pasti mahal, nanti Ibuk .... Aku gak ingin ibuk kecapekan kerja" ucap Afriana berubah sedih


Ya itulah Afriana selalu memikirkan keadaanku, karena dari kecil Afriana selalu aku tinggal untuk bekerja.


"Af, Af, sayang Ayah?" tanya pak Catur langsung memeluk dan membelai Afriana layaknya ayah dan anak, Afriana tidak menjawab hanya mengangguk "Sekarang Afriana jangan khawatir ayah akan bekerja lebih keras lagi agar Afriana bisa sekolah, dan ibuk akan tetap di rumah bersama Afriana dan adik-adik nanti." pak Catur memberi pengertian pada Afriana.


Afriana mendongak melihat wajah pak Catur penuh tanya" Benar yang dikatakan Ayah, Af, Ayah Afri kan orang hebat." rayuku


"Terima kasih, Ayah, terima kasih Ibuk."

__ADS_1


__ADS_2