TALAK

TALAK
Part 194 TALAK


__ADS_3

Kegiatan pagi ini sudah mulai rame sejak selesai sholat subuh, mbak Yah mbak Us serta ibukku sudah sibuk di dapur, Fauzan bapak, pak Catur, mas Sapta suami mbak Us, ikut sibuk menyiapkan tikar dan sound untuk acara khotmil Qur'an mas Jamal belum datang karena harus merawat ternak dulu, hari ini pak Catur sengaja ambil cuti dari kantornya karena ingin berpartisipasi dalam acara kekuaragaku. Setengah enam pagi para undangan khotmil Qur'an sudah datang, aku Nafisa dan ibukku menyambutnya dengan senang ramah, setelah berbasi basi sebentar akhirnya acara khotmil Qur'an di mulai, khotmil Qur'an di buka oleh Nafisa, dan aku yang melanjutkan surat befikutnya, untuk urusan Afriana ada pak Catur yang mengantar Afriana ke sekolah, semakin hari pak Catur semakin dekat dan akrab, bahkan jika orang tidak tahu mereka menganggap Afriana anak kandung pak Catur.


Supaya tidak kekelahan dan kandungan ku tetap stabil, aku undur diri dan beristirahat sebentar dari acara khotmil Qur'an, aku tidak begitu memikirkan akan pak Catur, entah apa yang dia lakukan setengah hari ini. Aku ingin beristirahat di dalam kamar saat aku masuk rumahku sendiri aku melihat pak Catur sedang duduk di meja makan sambil mengamati laptopnya.


"Mas," sapaku lembut dan menghampiri pak Catur.


"Capek?" tanya pak Catur padaku.


"Iya, mau istirahat sebentar," sahutku.


"Istirahatlah sayang, mau di temani?" Pak Catur menawarkan diri.


"Mas gak sibuk?" tanyaku.


"Baiklah, anak ayah, ayah tutup dulu laptopnya, ayah temani istirahat," ucap Pak Catur lembut, dan langsung menutup laptopnya.


Pak Catur dengan sabar menenaniku berbaring sebenarnya bukan karena ngantuk, tapi karena pinggangku yang sudah mulai pegal, dan harus segera di baringkan.

__ADS_1


"Sini mas pijitin," ucap Pak Catur begitu aku sudah berbaring di atas ranjang, dengan lembut pak Catur memijit pinggangku, "Anak ayah yang pinter, ayah bangga pada kalian semoga," ucap Pak Catur dan mencium perutku, pak Catur paling suka membelai atau mencium perutku.


"Mas," ucapku.


"Iya sayang," sahut pak Catur yang masih membelai lembut perut dan pinggangku.


"Terima kasih, terima kasih mas sudi membantu keluargaku," ucapku lirih.


"Mas, itu menikah dengan keluarga Dinda, jadi sudah sewajarnya jika mas ikut berartisipasi, mas sapta saja sampai di bela-belsin nginep segala, yang belum aku tahu rumahnya mbak Us." ucap Pak Catur.


"Jadi mas sudah tahu rumah mas jajal dong?" tanyaku.


"Allah hu Akbar, mas ? Jadi mas waktu sudah betencana untuk menikahi Dinda dong?" tanyaku penasaran.


"Tentu, mas punya cerita, perasaan dulu Dinda itu tak secantik sekarang, tapi sangat manis, waktu itu mas merasakan jika mas akan kembali ke sini lagi ," ucap Pak Catur.


"Terus?" tanyaku.

__ADS_1


"Terus sekarang aku sudah menikah dengannya, dan sekarang semakin hari semakin manja," ucap Pak Catur.


"Mas kapan sih mas lihat Dinda kok Dinda gak tahu mas?" tanyaku penasaran.


"Dulu aku melihat Dinda pertama kali saat dinda sedang menggendong Afriana di halaman rumah bapak, waktu itu aku hanya bisa menangis, berharap anak dan istriku kembali, pernah aku ingin menghampiri dan ingin mengambil Afriana, kakung melihatku segera membawaku pulang, aku tidak pernah menyangka sekarang aku bisa memiliki Afri dan ibunya Afri," terang pak Catur sambil terus memijit lembut pinggangku.


"Jadi?" tanyaku.


"Jadi, sebaiknya Dinda istirahat dulu, kira-kira jam berapa khotmil Qur'an selesai?" tanya pak Catur padaku.


"Biasanya habis dhuhur sudah selesai, kenapa ?" tanyaku.


"Mas suka mendengar Dinda mengaji, " Puji pak Catur padaku.


Aku dan Pak Catur berbaring di atas ranjang kurang lebih sekitar satu jam, setelah aku rasa enakan aku kembali bergabung dengan mereka yang sedang melakukan khotmil Qur'an. Alhamdulillah acara khotmil Qur'an berjalan lancar, selesai tepat waktu. Setelah selesai acara khotmil Qur'an aku ikut membantu membungkus rujak kedalam plastik, beberapa tetangga, teman Nafisa dan suadara susah mulai berdatangan untuk kondangan. Semua orang disibukkan dengan tugas masing-masing hilir mudik tetangga yang rewang mambawa rantang untuk berbagi makanan dengan tetangga menambah ramainya suasana di desa. Acara masih seoerti biasa habis magrip kenduri bapak-bapak satu RT, dan setelah habis isya acara inti yaitu pembacaan sholawat dan memandikan Nafisa serta Fauzan selaku orang yang di tingkepi( tujuh bulanan), Bupuh Nyai selaku tetua yang ditunjuk kelargaku untuk memulai mandi dan memimpin doa. Nafisa memakai kebaya dan selendang lengkap dengan hijab serta make up sederhana, sedang Fauzan memakai sarung, mereka duduk di kursi plastik di depan kursi sudah tersedia dua bak berisi air hangat yang sudah di tambahi dengan bunga setaman, kami memandikan tidak menggunakan gayung untuk mengambil air namun menggunakan kelapa yang di belah menjadi dua.


Acara begitu meriah setelah Bupuh Nyai yang memandikan kini giliran kedua orang tuaku, setelah kedua orang tuaku lalu kedua orang tua Nafisa, selanjutnya para kerabat, setelah air dalam bak habis, setelah selesai memandikan, terakir memecah kelapa yang di pakai untuk memandikan tadi, anak-anak kecil sangat antusias karena di Akhir acara pasti ada yang namanya rebutan uang koin yang di debar oleh Fauzan dan Nafisa. Selanjutnya keduanya mengganti bajunya dengan baju yang kering dan Nafisa memakai make up sederhana, setelah selesai ganti baju Fauzan dan Nafisa duduk di tikar dengan dua baskom besar berisi rujak yang sudah di bungkus ke dalam plastik, Fauzan dan Nafisa pura-pura jualan rujak, para tetangga atau kerabat, dengan uang seadanya membeli rujak dan bisa mengambil sesuka hatinya.

__ADS_1


Pak Catur yang baru pertama kali melihat prosesi tujuh bulanan di kampung sangat heran dan antusias, dan Pak Catur mengabadikannya ke dalam sebuah foto dan video.


__ADS_2