
Sesampainya di rumah orang tuaku pak Catur makan dulu karena tadi kami belum sempat makan, menu yang di sajikan orang tuaku masih khas menu orang desa, kali ini oseng daun pepaya yang ada di atas meja, karena sudah masuk waktu dhuhur pak Catur sholat dhuhur dulu, begitu selesai sholat dhuhur langsung menuju ke kebun belakang rumah, pak Catur membawa cangkul aku membawa tumbu, aku ikuti langkah pak Catur hingga kami berhenti di sebuah lokasi yang telah di arahkan oleh bapak tadi, panasnya terik matahari tidak menyurutkan niat pak Catur untuk mengambil ubi dan ketela pohon dari kebon belakang rumah orang tuaku.
"Le, biar bapak saja jika kamu tidak bisa!" seru bapak yang menghampiri kami.
"Bisa pak, jangan khawatir." jawab pak Catur memulai mengayunkan cangkul untuk mengambil ubi Pak Catur mengambil ubi dulu.
Aku tidak heran akan kemampuan pak Catur dalam menggunakan cangkul walau tidak begitu lihai namun untuk ukuran orang kota yang notabennya tidak kenal dunia pertanian aku cukup bagus karena selama aku menjadi istrinya beberapa kali pak Catur menanam bunga atau tanaman lainnya sendirian juga di cangkul sendiri.
"Kamu kok yo bisa menggunakan cangkul to le?" tanya bapakku heran.
"Bisa Pak, tapi ya tidak begitu pintar hanya sekedar bisa, tapi kalau di suruh nyangkul di sawah yang luas jelas tidak kuat pak." jawab pak Catur jujur.
"Yang penting mas pandai nyangkul sawahnya mbak Fah, yo wes to." celetuk Fauzan entah kapan datang tiba-tiba sudah ikut nimbrung bersama kami di ladang belakang rumah.
"Maksudmu?" tanyaku.
"Lihat sekarang saja hampir dapat tiga." celetuk Fauzan tanpa dosa.
"Ya ampun Zan!" seruku aku timpuk Fauzan dengan tumbu yang aku bawa.
Kami berempat tertawa, pak Catur langsung berhenti dari nyangkul karena tertawa terpingkal-pingkal mendengar ocehan Fauzan.
"Apa perlu aku ajari kamu Zan.?" timpal pak Catur tanpa dosa.
__ADS_1
"Gak usah mas nanti istriku malah curiga." kelakar Fauzan.
"Hayo kenapa, curiga kenapa?" kini Nafisa dan anaknya ikut ikutan nimbrung bersama kita di ladang.
"Fauzan itu lo Naf, dia minta diajari caranya supaya cepat dapat momongan lagi, katanya satu masih kurang mau nambah lima lagi." bohong pak Catur di iringi tawa renyahnya.
"Satu aja repot ngurusnya mau nambah, kalau mbak Fah nambah berapapun yo aman-aman ae, wong mas Catur bisa nyewa suster banyak, la kita bisa-bisa mati bediri," ujar Nafisa asal "Mbak Fah, kali ini ngidammu kok aneh-aneh saja ya mbak, perasaan dulu gak serumit ini deh." keluh Nafisa keheranan.
"Iya e Naf, kali ini Aku harus ektra sabar mbakmu manjanya gak ketulungan." ucap Pak Catur apa adanya.
"Siapa juga yang melarangku untuk tidak KB." protesku.
"La ya, ya mbak." ucap Nafisa seolah membenarkan ucapanku.
"Siang-siang kok pada ngumpul di sini ada acara apa to?" tanya tetangga paruh baya yang kebetulan lewat mau pergi ke sawah.
"Cari ubi, lek." jawab bapakku dan Fauzan.
"Mampir lek," sapa Fauzan " La kamu siang-siang juga mau kemana to lek, masih panas gitu lo?" Fauzan balik tanya.
"Mau nyiangi padi, rumputnya lebat sekali, kalau gak di siangi panennya nanti jelek." jawab tetangga tersebut sambil terus melanjutkan langakahnya meninggalkan kami semua.
Selesai sudah acara mencari ubi dan ketela pohon di ladang, kami sudah dapat kurang lebih lima kilo, Fauzan membantu membawakan ubi dan ketela sedang aku dan Nafisa berjalan sendiri-sendiri, bapak gandeng anaknya Nafisa, sedang pak Catur membawa cangkul.
__ADS_1
"Sebentar kalian pulang dulu aku mau mencari daun pisang!" seruku begitu lewat ladang yang ada pohon pisangnya.
"Memangnya mbak bawa pisau?"tanya Nafisa.
"Enggak." sahutku enteng.
"Aku ambilkan." Nafisa bergegas pulang ambil pisau.
"Daun pisang buat apa bunda?" tanya pak Catur padaku.
"Mau bikin lemet, sayang itu ketela pohonnya banyak bisa dibikin berbagai macam menu makanan." sahutku, aku sudah membayangkan makanan yang terbuat dari ubi, seperti jemblem, lemet, maupun makanan lainnya.
"Hindari tape Fah, karena tape itu panas tidak bagus untuk orang hamil apalagi kehamilanmu masih muda." nasehat bapak sambil jalan.
"Ya pak." sahutku tanpa bantah.
Fauzan bapak dan anaknya Nafisa langsung pulang pak Catur dan Nafisa menemaniku untuk mencari daun pisang. Dengan cekatan aku mengambil beberapa lembar daun pisang, daun pisang aku biarkan dulu sebentar supaya layu, setelah layu baru aku pisahkan antara daun pisang dan pelepah pisang.
"Aku rasa anakmu itu perempuan mbak, soalnya kamu terlihat cantik, dan manjanya itu lo gak ketulungan." analisa Nafisa bak seorang indigo.
"Syukurlah kalau perempuan Afriana ada temannya." sahut pak Catur.
Hanya karena mencari ubi dan ketela pohon, tak terasa waktu sudah menunjukan jam dua lebih, setelah dapat ubi dan ketela aku dan Pak Catur segera pamit pulang karena sudah berjam-jam meninggalkan anak-anak di rumah dengan pengasuhnya padahal biasanya kemanapun kita pergi kita selalu bawa anak-anak.
__ADS_1