
Tut tut tut
Suara intercom di mejaku berbunyi, panggilan dari ruangan Pak Catur yang masuk.
[Mbak tolong keruangan saya sekarang] perintah pak Catur.
[Baik, Pak]. Aku.
"Selamat pagi Pak " sapaku sambil membuka pintu ruangan pak Catur.
"Selamat pagi, mbak, silahkan duduk dulu, maaf aku menyuruhmu datang pagi-pagi, ada hal penting yang ingin aku bicarakan sama kakung, dan tentunya ada hubungan dengan mbak, tapi kita tidak bisa bicara di sini kita ke rumah mbak Priska" ucap Pak Catur langsung berdiri" Kenapa semalam tidak balas wa-ku mbak, jam berapa kamu tidur semalam?" tanya pak Catur.
"Semalam jam sepuluh saya sudah tidur pak, maaf tidak tahu jika bapak Wa, maaf pak hari ini, saya banyak kerjaan dan saya juga harus menyiapkan laporan untuk rapat minggu depan jadi jika saya ikut bapak ke rumah Priska bagaimana dengan kerjaan saya?" bantahku karena aku males untuk keluar dengan Pak Catur, akhir -akhir ini pak Catur selalu buat alasan agar bisa bersamaku, dan aku takut akan menimbulkan fitnah apalagi di kantor tidak ada yang tahu tentang status kami.
"Saya, tahu mbak, mbak jangan khawatir, tidak lama setelah selesai, kita bisa kerjakan di rumah mbak Priska toh, perlengkapan di rumah mbak Priska juga memadai, tinggal bawa beberapa berkas yang penting." perintah pak Catur.
"Benar- benar tidak masuk akal" gerutuku.
"Baik, jika mbak tidak berkenan minimal kita temui kakung dulu habis itu kita bisa kembali ke kantor, bagaimana ?" tawar pak Catur.
"Baiklah." jawabku karena sudah malas berdebat, kalaupun berdebat juga percuma pasti kalah juga.
__ADS_1
Aku bangkit dari duduk melangkah dan mengikuti langkah pak Catur keluar dari ruangannya.
Saat kami keluar para karyawan baru mulai berdatangan untuk masuk kantor. Sapaan ramah dari para karyawan selalu di jawab dengan ramah pula oleh pak Catur. Pak Catur tipe atasan yang ramah, namun sangat disiplin dalam hal pekerjaan.
Kami berdua bergegas menuju parkiran tempat mobil pak Catur terparkir. Tanpa banyak tanya aku ikuti perintah pak Catur, dan hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit kita sudah sampai di kediaman bu Priska, di sana bu Priska masih memakai pakian rumah, pak Anam, dan kakung yang sudah duduk di meja makan dan ternyata menunggu kedatangan kami berdua.
Kami berlima sarapan bersama di kediaman bu Priska, aku tak habis pikir keanehan apalagi yang akan di kakukan oleh pak Catur, kemaren bilang urgent ternyata hanya ingin, ninjau pabrik dan jalan-jalan, sekarang juga begitu ternyata hanya mengundangku untuk sarapan di rumahnya bu Priska dengan alasan ingin ngobrol hal penting dengan Kakung.
"Kenapa bengong, Fah?" tanya bu Priska padaku saat duduk di ruang keluarga.
Pak Catur, pak Anam dan Kakung entah pergi kemana, mereka hanya bilang akan nailk di atas sebentar.
"Sedikit, makanya aku tidak masuk kantor hari ini, kebetulan Tono menawarkan untuk ngajak kamu kesini ya sudah sekalian buat teman, dan ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan jadi bisakan kamu bantu saya ngerjain nya, aku sudah minta ijin Tono tadi pagi." ujar bu Priska padaku.
"Ehmmm.... " jawabku bingung karena aku gak tahu harus bagaimana sedang pekerjaanku sendiri masih banyak yang belum terselesaikan.
"Kamu di sini saja mbak Fah, bantuin mbak Priska, soal pekerjaanmu nanti aku kerjakan, kamu jangan khawatir mbak, tidak akan aku potong kok gajimu, dan jika aku belum kesini jangan pulang dulu." pesan pak Catur yang sudah berdiri di dekat sofa.
"Baik, Pak," jawabku " Sekarang pak Catur mau kemana ?" tanyaku.
"Aku kembali ke kantor, tolong bantu mbak Priska saja, jangan khawatirkan aku" gurau pak Catur sambil senyum kecil.
__ADS_1
"Terima kasih, Ton, aku antar kamu kedepan" ucap bu Priska.
"Terima kasih mbak" ucap Pak Catur.
Mereka berdua berajalan menuju ke depan entah apa yang di bicarakan, aku masih duduk di sofa ruang tengah menunggu bu Priska datang.
"Kamu gak apa-apa kalau Afifah bantuin aku, Ton ?" tanya bu Priska pada pak Catur.
"Jangan khawatir mbak, aku bisa handle semua kok, yang penting nanti jangan biarkan Afifah pulang sendiri sebelum aku datang, titip ya mbak " ucap Pak Catur sebelum masuk ke mobilnya.
"Hemmm... Iya, jangan khawatir aku akan jaga calon adik iparku." ucap bu Priska.
"Terima kasih mbak, untuk semuanya, aku tinggal dulu, tapi jangan lupa laporannya harus aku terima sore ini lho mbak awas jangan molor, sudah aku pinjamin sekretaris andalanku lho mbak" ucap Pak Catur di iringi tawa.
"Beres, nanti siang juga sudah selesai, sekretaris andalan apa calon istri?" gurau bu Priska.
"Dua-duanya tapi jangan sampai dia tahu, rahasia mbak." bisik pak Catur.
"Ya... Ya... Dah dan pergi!" usir bu Priska.
Pak Catur pergi meninggalkan kediaman bu Priska, sedang bu Priska menghampiriku dan mengajaku untuk menyelesaikan pekerjaannya yang harus selesai siang ini juga.
__ADS_1