TALAK

TALAK
Part 277 TALAK


__ADS_3

Di dalam ruanganku aku segera mengerjakan beberapa berkas laporan panti singgah, di panti singgah tidak banyak orang hanya ada seratus orang yang tinggal di panti singgah selain merawat para lansia yang tinggal di panti singgah, kami juga memberikan pelayanan kesehatan secara gratis bagi warga sekitar yang tidak mampu jadi panti mempekerjakan beberapa dokter dan perawat yang mumpuni dan juga kami terbantu dengan adanya dokter dan suster yang sedang magang, mereka semua melayani dengan senang hati dan juga ramah. Untuk dokter dan suster pihak panti menggunakan sistem gaji, jadi untuk setiap hari dokter yang stnad by tidak sama. Waktu berjalan begitu cepat tidak terasa hari sudah menjelang sore, sebelum pulang aku sempatkan diri untuk menjenguk para lansia, aku temani mereka ngobrol dan bersendau gurau di ruang santai. Mereka sangat antusias setiap kali aku datang menyalami dan memeluk mereka sudah menjadi rutinitasku setiap kali menjenguk mereka di panti singgah. Setelah sekitar satu jam aku habiskan waktu bersama mereka aku pamit pulang, aku benar-benar sangat terharu ketika mereka melontarkan doa-doa terbaik untukku dan keluargaku.


"Mbak Rom, aku pulang dulu ya, terima kasih sudah menjaga mereka dengan baik," ucapku.


"Sudah menjadi tugas kami buk, untuk lansia yang berada di rumah sakit besok sudah bisa kita jemput, Buk," lapor mbak Romlah.


"Baik, mbak tolong besok diurus seperti biasa ada apa-apa segera lapor saya, pastikan mereka tidak kekurangan suatu apapun." perintahku.


"Inshaallah semua sudah tercukupi," jawab mbak Romlah sopan.


Aku meninggalkan panti asuhan dengan diantar oleh sopir, setiap kali datang ke panti aku selalu pulang sebelum pak Catur pulang, Kalaupun ada berkas yang harus aku selesaikan berkas tersebut aku bawa pulang.


Setelah beberapa menit perjalanan aku sudah sampai di rumah, anak-anak sudah pada mandi, bersih, cantik dan ganteng. Sebelum aku menjumpai anak-anakku aku bersihkan diriku sendiri dulu.


Aku melihat anak-anak yang sedang beraktifas sore dengan para susterku, Afwa dan Afwi selain bermain mereka sedang belajar menghafal surat pendek, sungguh beruntung aku memiliki keluarga seperti sekarang untuk pengasuh anak-anakku pak Catur memilih mereka yang pintar ngaji minimal, pendidikan umum tidak menjadi patokan dalam keluargaku, memang bisa dikatakan aneh tapi itu faktanya.


"Alhamdulillah anak bunda sudah pintar ngajinya," seruku memuji kedua putraku yang sedang belajar menghafal surat pendek.


"Bunda... Bunda... Bunda!" Afwa, Afwi dan Abidah berlari menghampiriku.


Aku memeluk mereka bertiga " Bunda kambgen sekali hari ini kakak sama adik sedang belajar apa saja?" tanyaku pada mereka.


"Afwa belajar menghafal surat ehmmm... apa ya ehmmm... Sebentar aku ingat-ingat dulu." ucap Afwa yang masih mengingat-ngingat.


"Apa hayo, dik Afwi tahu gak sedang menghafal surat apa?" tanyaku pada Afwi.


"Ehmm.... Ya aku ingat surat Al-humazah bunda." jawab Afwa dan Afwi berbarengan.

__ADS_1


"Pinter anak bunda, sudah hafal apa belum?" tanyaku.


"Afwi sudah." jawab Afwi girang.


"Afwa juga sudah bunda." jawab Afwa tak kalah girang.


"Nah sekarang kalau adik Abidah, sedang berlajar apa?" tanyaku.


Abidah tidak menjawab dia malah langsung melafalkan surat al ikhlas walau tidak sempurna namun dia cukup pintar.


"Pinter-pinter semua anak bunda, bunda sayang sekali ayo sekarang bunda mau dengar mas Afwa dan mas Afwi menghafal." ucapku.


"Aku dulu!" seru Afwa antusias.


"Aku dulu!" seru Afwi tak kalah antusias.


"Baik bunda." jawab si kembar.


Aku dengan kedua putraku menghafal suary Al-humazah bersama-sama sambil menunggu adzan magrib tiba, karena tadi pak Catur sudah mengirim pesan akan pulang telat lagi maka untuk sholat magrib berjamaah formasi masih seperti biasa tanpa ada pak Catur. Namun hati ini pak Catur pulang tidak sampai larut, tepat jam tujuh tiga puluh pak Catur sudah sampai rumah. Selesai membersihkan diri pak xsyut langsung bergabung dengan anak-anak, aku dan Pak Catur menidurkan sendiri anak-anak, ini salah satu cara keluargaku agar anak-ansk tetap bisa merasakan kasih sayang dari ayahnya yang sangat sibuk. Setelah anak-anak tidur aku tingglkan mereka, dan semua aktifitas harus berhenti di jam sembilan malam, jadi semua pekerjaku sudah bisa istirahat dijam sembilan malam, bahkan kadang jam delapan sudah selesai semua.


Selesai menidurkan anak-anak pak Catur masuk ke ruang kerjanya, aku juga kembali mebereskan pekerjaanku tentang panti asuhan dan panti singgah lansia. Dua jam aku berkutat dengan laptopku di dalam kamarku sambil menunggu Alifa yang terlelap di dalam bok bayinya. Setelah aku tutup laptopku aku menghampiri pak Catur yang masih berkutat dengan pekerjaannya di komputernya.


"Mas sudah malam." ucapku lembut, aku sudah berdiri di samping pak Catur.


"Tidak terasa, ya sudah kita istirahat dulu." sahut pak Catur langsung menutup laptopnya.


Kami berdua segera masuk ke kamar, keadaan rumah sudah sangat sepi, karena jam sebelas malam mereka sudah pada tidur nyenyak.

__ADS_1


"Bagaimana pekerjaan ayah hari ini?" tanyaku saat kami sudah sama-sama berada di atas kasur.


"Alhamdulillah, semua lancar, bagaimana dengan kerjaan bunda?" tanya pak Catur padaku.


"Kalau bunda kerjanya kan nyantai Mas, dan alhamdulillah semua baik-baik saja, alhamdulillah mas anak-anak sudah pada pinter, tadi Afwa dan Afwi sudah hafal surat Al-humazah, mereka lancar sekali, dan juga Abidah juga ikut-ikutan menghafal." pameekj pada pak Catur"Lihat mas tadi sama mbak-mbak di video." Aku menunjukan video kami saat menghafal surat pendek tadi.


"Masyaallah," Pak Catur sangat bahagia saat melihat dan mendengar video kami tadi" Tidak rugi mas memiliki kalian, kalian memang benar-benar anugerah buat mas, terima kasih sayang, sayang sudah rela melahirkan anak-anak dan juga mendidiknya dengan baik." ungkap pak Catur bahagia.


Kami berdua sebisa mungkin untuk selalu bercerita sebelum tidur, aku dan Pak Catur berusaha untuk membangun komunikasi dengan baik, terjadi kesalah pahaman itu sudah hal yang lumrah dalam berumah tangga, namun kami berdua berusaha untuk tetap tenang. Biasanya jika kami sudah tidak ada titik temu jalan satu-satunya ya tidur, karena tidak mungkin kami bertengkar dengan suara keras sedangkan selama ini selalu ada bayi yang selalu tidur dengan kami.


"Alhamdulillah mas, bagi Dinda mas dan anak-anak juga merupakan anugerah terindah." ucapku bahagianya.


"Berapa usis Dinda sekarang?" tanya pak Catur padaku.


"Emang kenapa, Dinda sudah kelihatan tua ya?" tanyaku penuh selidik.


"Ya, iya sih tapi tambah cantik saja." gombal pak Catur.


"Ehmmm."


"Dua tahun lagi masih bisa nambah generasi lagi dong." ucap Pak Catur.


"Ya, Allah mas!" seruku aku gelitiki pak Catur.


"Ampun sayang, kalau di kasih rejeki lagi kan ya syukur alhamdulillah, sayang." ucap Pak Catur sambil tertawa.


Akhirnya kami berdua tertawa cekikikan sendiri dan saling balas menggelitiki.

__ADS_1


"Sudah sayang ayo tidur nanti Alifa terbangun," ajak pak Catur.


__ADS_2