
Proses mediasi berjalan agak lama karena pertanyaan demi pertanyaan yang di lontarkan petugas ke kami sangat banyak dan detail. Aku tetap duduk dengan tenang dan ekpresi datar, sedang petugas semakin gencar mengintrogasi kita berdua.
"Ibu, Afifah pernahkah anda menyuruh pak Ringgo untuk bekerja?" tanya petugas.
"Pernah, pak, pikir saya kalau kita berdua bersama sama bekerja kan kita bisa hidup lebih baik, bahkan saya tawarkan, jika malu dengan sepeda motor yang sekarang saya bisa menukar dengan yang baru, dari slip gaji saya, saya bisa ambil kredit motor baru dengan mudah, sepeda motor yang kami pakai memang belinya tidak baru keluaran dealer, memang seken semua dan bayar kes, pikir saya biar seken asal tidak kredit biar tidak menambahi beban pikiran dan pengeluaran saya, mengingat saya bekerja seorang diri, dan juga menyesuaikan penghasilan dan kenutuhan kluarga" jelasku.
"Pak Ringgo hidup di kampung dan melihat denah lokasi desa anda, di sana masih banyak persawahan, apa tidak ada tetangga atau keluarga mengajak anda bekerja di sawah atau kuli bangunan, kasarannya begitu, dan melihat ijazah anda, anda bisa bekerja sebagai kurir atau penjaga toko maupun satpam. Sebenarnya banyak lho kesempatan bagi anda untuk mendapatkan penghasilan agar anda bisa menafkahi keluarga anda, kenapa anda tidak melakukannya?" ucap petugas.
Mas Ringgo tetap tidak menjawab dia hanya diam, mungkin bingung mau menjawab apa karena pertanyaannya memang sangat menyudutkan mas Ringgo.
"Ibu Afifah, apa tidak ada tetangga yang mengajak pak Ringgo untuk bekerja?" petugas ganti bertanya padaku.
"Sering, namun selalu di tolaknya dengan alasan pekerjaannya berat, dan dia merasa tidak mampu" jawabku apa adanya.
"Pak, Ringgo melihat dari kasus yang kalian hadapi ini masalahnya berasal dari anda sendiri karena anda sebagai kepala keluarga tidak menggunakan fungsi anda sebagai pemimpin yang bertanggung jawab. Saya melihat ini masalah ekonomi yang jadi pemicunya, pak Ringgo coba anda bekerja lebih giat, dan mungkin coba anda bekerja sebagai kontraktor dengan gaji lima ratus ribu perhari atau anda berangkat menjadi TKI luar negeri, seperti kerja di Jepang, Korea, atau Taiwan pasti uangnya banyak, dan anda serta anak istri anda bisa bahagia. Pak Ringgo seorang suami yang sehat seperti anda dan meminta nafkah kepada istri anda hukumnya dosa, pertanggung jawabannya di akhirat juga berat, jadi saya rasa iklaskan saja istri anda pergi, supaya anda tidak menanggung dosa yang lebih banyak lagi dan biarkan ibu Afifah mendapatkan kebahagiannya dengan caranya sendiri" nasihat petugas.
__ADS_1
"Baiklah untuk saat ini sampai di sini dulu, kita lanjutkan pada sidang selanjutnya" ucap petugas mengakiri mediasi kami.
"Terima kasih, pak " ucapku.
"Ibu Afifah, anda bisa ke counter untuk meminta jadwal sidang selanjutnya, untuk pak Ringgo jadwal sidang akan di kirim ke alamat anda" terang petugas.
"Terima kasih, pak" ucapku.
"Pak Ringgo, untung kok saya sudah beristri seumpama saya belum beristri langsung aku nikahi bu Afifah, dan lagi carilah istri yang lebih baik dari ibu Afifah, kalau sudah ketemu beritahu saya, di masa sekarang terlalu sulit mencari istri yang seperti bu Afifah, ibarat kata ibu Afifah itu wanita langka" ucap petugas sambil berdiri dan mengemasi berkas -berkasnya yang ada di atas meja, karena kebetulan kami yang terakir.
Mas Ringgo keluar duluan dan langsung menemui temannya yang sedang menunggunya di parkiran sepeda motor.
Aku segera menemui mas Jamal yang duduk di ruang tunggu entah sedang ngobrol dengan siapa aku juga tidak begitu memperhatikannya, yang ada dalam pikiranku selesai cepat pulang dan kembali ke kantor untuk bekerja karena aku hanya punya jatah cuti setengah hari.
"Sudah, mas tapi aku mau ke counter dulu, sebentar ya mas " ucapku saat berada di samping mas Jamal.
__ADS_1
"Ya" jawab mas Jamal singkat.
Aku langsung menuju he counter untuk nendaftarkan nomor sidangku agar aku mendapatkan jadwal sidang selanjutnya. Tidak butuh waktu lama aku hanya menunggu sepuluh menit petugas sudah memberiku jadwal sidang selanjutnya. Aku langsung menemui mas Jamal lagi, untuk segera pulang karena hari juga sudah sangat siang sedangkan aku juga harus kembali ke kantor untuk bekerja.
"Sudah, mas ayo pulang nanti aku keburu telat, belum makan dan juga belum mandi ganti baju " cerocosku di samping mas Jamal, sambil memasukan berkas ke dalam tas pundakku tanpa melihat ke arah mas Jamal.
"Kalau waktunya gak nutut ya ambil cuti lagi to Fah, sekalian seharian cuti " ucap Mas Jamal enteng.
"Bisa- bisa aku di pecat mas" ucapku cuek dan tetap sibuk dengan menata berkasku.
"Siapa yang berani memecat anda mbak, anda kira mudah mencari sekretaris sehebat anda " ucap lelaki yang duduk di sebelah mas Jamal.
"Kalau kantornya mbahku, aku bisa seenak saya sendiri mas , la ini kantornya orang yo mampus saya mas kalau di pecat" jawabku ketus tanpa menoleh ke arah sumber suara.
Setelah beberapa saat aku baru tersadar jika itu bukan suara mas Jamal, dan aku juga merasa kenal dengan suara itu, aku langsung menoleh ke arah sumber suara, lelaki dengan memakai kaos berkerah, memakai topi, serta celana jeans lengkap dengan sepatu olah raga.
__ADS_1