TALAK

TALAK
Part 145 TALAK


__ADS_3

Tepat jam sepuluh pagi rombongan keluarga Cakra datang untuk yang kedua kalinya, kali ini tidak lagi aku sambut dengan daster dan wajah penuh pasir namun aku sudah memakai gamis broklat warna peach dengan taburan mutiara serta dengan hijab besar dengan warna senada, ya walau bukan mutiara asli, dengan riasan wajah yang natural namun tetap elegant.


Ketika rombongan keluarga Cakra datang keluargaku menyambutnya dengan bahagia, begitu pula seluruh keluarga Cakra yang ikut dalam lamaran, dari wajah-wajahnya memancarkan sebuah kebahagiaan yang tulus.


Di saat bersalaman denganku semua memuji akan penampilanku tidak ketinggalan pula pak Catur, ya pak Catur semakin terpukau dengan penampilanku " Subhanaallah, bidadari surgaku " Puji pak Catur pasalnya aku tidak pernah merias wajahku secara berlebihan, kalaupun kerja aku hanya memakai bedak tipis dan lipstick warna natural.


Hari ini hanya membahas ulang tentang penentuan hari dan jalannya acara pernikahan kami, mulai dari akad nikah sampai keluarga Cakra ngunduh mantu di kota Jakarta. Lamaran berjalan lancar, kedua keluarga tidak henti-hentinya saling melontarkan sebuah candaan, sehingga lamaran kali ini lebih santai, tidak seperti minggu lalu, dan aku dapat melihat dari pacaran wajah pak Catur yang terus menerus menyunggingkan senyum kebahagiaan, dan tidak henti-hentinya memandangku dengan pandangan penuh kegaguman.


Semua keluarga kembali melakukan sesi foto, ketika sesi foto Afriana selalu ikut tidak pernah ketinggalan, bahkan pak Catur tidak pernah melepaskan Afriana dari tangannya, sampai-sampai yang hadir dalam acara lamaran sangat terharu akan kedekatan Afriana dan Pak Catur.


"Subhanaallah, serasi sekali pantas sekali Afri, jadi anaknya." bisik mbak Us, yang duduk di sebelahku.


"Ya, aku rasa juga begitu, Us, tapi adikmu itu yang gak peka." bisik mbak Yah, ikut nimbrung.


Ketika kedua kakakku, berbisik-bisik aku tidak menjawab, dari pada tambah runyam.


"Nduk, Fah, rampung pacobamu, Gusti Allah ora sare nduk." bupuh kakaknya ibukku ikut buka suara untuk menasehatiku penuh dengan kasih sayang.


"Inggih, bupuh, pangestunipun." Aku meminta doa restu dari bupuhku.


Bupuh membalasnya dengan sebuah senyuman yang tulus, menu yang di suguhkan oleh keluargaku cukup sederhana, dan sesuai dengan pesanan mama maka oseng kembang kates tetap menjadi menu utama dalam acara lamaranku kali ini.


Sepanjang acara lamaran tak henti-hentinya pak Catur menyunggingkan sebuah senyum terindahnya.


Selesai acara lamaran keluarga Cakra pamit pulang, namun tidak dengan Pak Catur, pak Catur memilih tetap tinggal di dalam rumah orang tuaku dengan alasan ingin mengenal mbak Us dan mas Sapta suami mbak Us. Adzan dhuhur berkumandang para kaum lski-laki segera menuju mushola untuk sholat berjamaah, karena di rumah banyak yang harus di kerjaan maka kaum perempuan hanya mbak Yah, dan ibukku yang pergi ke mushola untuk sholat berjamaah, aku dan mbak Us, memilih sholat di rumah berjamaah di rumah.


"Assalamu'alaikum." terdengar suara salam dari luar para kauk lelaki pulang dari mushola.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam." sahutku dan mbak Us bersamaan.


Karena sudah capek, walau pekerjaan dapur belum selesai kami semua memilih bersantai dulu di ruang tamu, kali ini hanya keluargaku dan Pak Catur saja tinggal. Antara aku dan Pak Catur tidak terlalu banyak bicara karena masih sangat sungkan.


"Nak Catur ini kaka kedua Afifah, nanya Uswatun khasnah dan ijo suaminya Sapta wijaksono sekarang mereka tinggal di luar kota, jadi kalian belum saling kenal." bapakku memperkenalkan pak Catur dengan mbak Us dan mas Sapta.


"Catur, mbak, mas." pak Catur dengan percaya diri dan ramah langsung memperkenalkan diri pada mbak Us dan mas Sapta.


"Us, kakak kedua Afifah." Mbak Us memperkenalkan diri.


"Sapta iparnya Afifah, suami dari Us." Mas Sapta tidak ketinggalan ikut memperkenalkan diri.


"Dik, Catur bagaimana bisa kamu tertarik dengan adikku yang super polos ini, dia soal pekerjaan memang jago, tapi kalau soal hati loading lemot, namun sebagai kakak aku yakin dia sangat setia sekali, dan dia mampu untuk menjaga nama baik keluarga, tolong jaga adikku ini." Mbak Us langsung berpesan pada pak Catur.


"Inshaallah, mbak Mohon doa restu nya, memang tidak mudah mbak untuk menaklukan adik mbak itu, jujur kalau wanita lain pasti dia yang ngejar-ngejar aku, la ini lain dari pada yang lain." ucap Pak Catur ramah.


"Aamiin yarobbal'alamin." kami semua mengamini doa mas Sapta dengan tulus.


"Ini konsep-konsep riasan dan dekorasi akad nikah, kalian pilih yang mana?" mbak Us menunjukan beberapa contoh dekorasi dan riasan saat akad nikah dari ipadnya.


"Aku yang minimalist ini saja mbak." aku langsung menunjuk pada gambar putih minimalis "Kang mas, bagaimana?" tanyaku pada pak Catur dengan sedikit canggung.


"Kang mas?" seru semua yang mendengar panggilanku, mereka langsung melihat ke arah aku dan Pak Catur.


"Biar beda mbak, mas." Pak Catur langsung menjelaskan pada mereka.


"Manis!" seru mbak Us.

__ADS_1


"Yang ini kurang greget, ganti yang ini saja bagaimana Dinda ?" Pak Catur menunjukan pada gambar lainnya, harganya lumayan mahal lima juta untuk dekorasinya saja.


"Baiklah, kalau Kang mas maunya begitu." aku menyetujui usul pak Catur.


"Mbak Us, pilih yang ini, kapan bisa melunasi ?" Pak Catur bertanya pada mbak Us.


"Biasanya, setelah acara selesai baru pelunasan sekarang DP dulu lima puluh persen dulu, berhubung ini hadiah dari kami bertiga yaitu, Aku, mas Jamal dan Fauzan jadi untuk dekorasinya kalian jangan khawatirkan, yang penting acaranya lancar." mbak Us menjelaskan pada kami berdus


"Terima kasih, mbak, tau saja kalau aku tak cukup uang." ucapku bahagia dengan langsung memeluk mbak Us dan dengan cengiran manis dari bibir ku.


"Sama-sama, ya tahu lah ." ucap mbak Us" Afri, kamu tahu sekarang acara apa?" mbak Us bertanya pada Afriana yang sedang bermain dengan Zahra di dekat pintu.


"Iya, bupuh, ada apa bupuh." Afriana langsung menghampiri mbak Us.


"Paman ini siapa?" mbak Us ingin tahu jawaban Afriana.


" Bukan Paman bupuh, tapi Ayah Afri, jadi Afri punya dua bapak." jelas Afriana polos.


Mendengar jawaban Afriana aku sangat terkejut, karena dengan mudahnya dia menjawab bahkan dengan ekpresi wajah yang berbunga-bunga.


"Afri, sayang sama ayah?" mbak us kembali bertanya pada Afriana, sekedar untuk memastikan kesiapan Afriana dalam menerima pal Catur.


"Sayaaang... Sekali, sebab ayah juga sayang sama Afri." jawab Afriana tetap dengan nada polosnya.


Aku belum membicarakan ini pada Afriana, entah siapa yang memberitahu Afriana aku tidak tahu.


"Fah, kamu jangan heran jika Afriana begitu, bapak dan nak Catur sudah membicarakan hal ini dengan Afriana." jelas bapakku sambil menikmati hidangan yang ada di depannya.

__ADS_1


__ADS_2