
Entah sebenarnya ada apa dengan diriku sekarang, aku begitu suka makan hasil masakan suamiku, seperti pagi ini aku minta di masakin pisang rebus, dan nasi goreng. Sebenarnya pagi ini pak Catur mau mengajak Afriana dan Rahma joging di taman komplek namun karena permintaan konyolku pak Catur mengurungkan niatnya untung saja pak Catur belum ngomong apa-apa pada mereka. Menu sarapanku kali ini sedikit unik, pisang rebus serta nasi goreng.
"Yah, nanti mbak kapan datang terus ayam panggangnya ada gak?" tanyaku sudah tidak sabar untuk bisa menyantap ayam bakar seperti kemarin.
"Mbak Yah bilang, sepulang Zahra sekolah, untuk ayamnya sudah di pesankan, bunda jangan khawatir, inshaallah tetap ada sesuai dengan pesanan bundaku." sahut pak Catur.
Anak-anak pagi ini asyik dengan dunianya, Afriana Rahma dan di kembar sedang bermain bersama di taman belakang rumah. Mereka berlari kejar-kejaran di taman belakang, selain main kejar-kejaran mereka juga main prosotan yang telah di bangun oleh suamiku. Di taman belakang sengaja dibangun tempat permain anak-anak, seperti kuda-kudaan, cangkir putar, maupun ayunan. Suamiku sangat perhatian akan kebutuhan keluarga kecilnya sehingga membuat kami semua sangat menyayanginya. Jam sepuluh pagi Nafisa dengan anaknya sudah datang, mereka datang hanya berdua saja karena Fauzan harus kerja sedang bapak dan ibukku istirahat setelah semalam jualan di pasar.
Suasana rumah semakin ramai dengan jerit tangis dan celotehan anak-anak. Aku dan suamiku memilih bergabung bersama anak-anak untuk ikut bermain di taman belakang. Mbak Yah dan Zahra datang di jam dua belas siang, sepulang jemput Zahra mbak Yah langsung datang ke rumahku dengan mengendarai sepeda motor. Aku melihat mbak Yah membawa satu kresek putih berisi dua bok, dan aku belum tahu apa isinya.
"Fah, ini ayam pesenanmu, masih anget soale baru mateng terus aku bawa kesini." ucap mbak Yah menyodorkan tas kresek tersebut padaku.
"Alhamdulillah, seruku, terima kasih mbak." aku sangat girang menerima tas kresek dari mbak Yah, bau harum dari bumbu ayam panggang khas ndeso sudah menusuk hidungku rasanya sudah tidak sabar untuk segera menikmati" Mbak Qib, mbak Na tolong jangan di sentuh tas kresek ini ya." perintahku pada mereka yang sedang berada di dalam dapur.
"Iya, Buk." jawab mereka setengah ragu.
__ADS_1
"Cukup ikuti perintah ibuk mbak, beliau lagi ngidam." pesan pak Catur mungkin menangkap gelagat dari mbak Qib dan mbak Na yang sedikit heran.
"Baik, Pak kali ini tingkah ibuk memang aneh-aneh saja, padahal dulu tidak pernah aneh-aneh." ucap mbak Qibtiyah jujur apa adanya.
"Iya, ayo Sholat dhuhur dulu!" seru pak Catur.
Mendengar perintah pak Catur semua langsung bergegas untuk mengambil wudhu melaksanakan sholat dhuhur berjamaah di rumah. Selesai sholat berjamaah kami semua mengumpul di taman belakang untuk menikmati makan siang dengan menu liwet makannyapun juga pakai daun pisang. Kami semua duduk di lantai beralaskan tikar, mbak Priska tidak ketinggalan juga,bak Priska tiba saat kami melaksanakan sholat dhuhur berjamaah. Yang Laki-laki hanya suamiku, pak satpam dan kedua anakku si kembar, kami sangat menikmati kebersmaan ini dengan bahagia walau tidak lengkap.
"Pawon Ndeso, mbak ini di mana ada restaurant pawon ndeso?, ini ayam yang mbak kasih kemarin kan?" tanyaku begitu membuka tas kresek dan melihat tulisan pawon ndeso pada kotak tersebut.
"Lo, dekat e sampean apa ada restaurant mbak?" tanyaku penasaran.
"Bukan restaurants hanya melayani pesanan saja." jelas mbak Yah sambil menata daun pisang untuk alas makan kami.
"Enak banget lo mbak." pujiku, karena faktanya memang enak banget, aku saja langsung ketagihan bukan hanya aku Afriana, Rahma dan Pak Catur juga menyatakan kelezatannya.
__ADS_1
"Rumahnya sebelah mana to mbak?" tanya pak Catur juga penasaran.
"Dekat cuma beda RT, saja di situ kan ada tulisannya, pokok sangat recommended sekali." jelas mbak Yah menggebu-gebu.
"Oh ini to alamatnya, Desa bantengan RT 18 rw 08 Wungu Madiun," seru mbak Priska yang menemukan alamatnya dalam bok ayam tersebut." Kayanya cocok ini buat acara ngumpul-ngumpul kaya gini, praktis tidak perlu ribet dari aromanya sudah menggugah selera." imbuh mbak Priska ikut menimpali.
"Harganyapun juga bersahabat kok mbak, untuk lokasi bisa cari di Google map mbak, mudah kok, pelayanannya juga sangat memuaskan." jelas mbak Yah antusias.
"Wah, benar-benar perlu di coba nih!" seru mbak Priska semakin penasaran.
"Dan lagi bisa kirim ke luar kota segala mbak." tambah mbak Yah semakin antusias.
"Mantap, bisa aku bawa ke Jakarta jika kerumah mama nanti." sahutku, karena kami berencana untuk mengunjungi mama.
"Mama dan mama pasti suka Fah." sahut mbak Priska atusias dengan ideku.
__ADS_1
Kami sekeluarga menikmati menu tersebut dengan perasaan bahagia, kini ngidamku ayam panggang khas ndeso telah terpenuhi. Afriana dan Rahma juga ikut senang bisa makan kembali ayam panggang seperti kemarin. Mbak Priska yang baru merasakan rasa ayam panggangnya langsung memuji kelezatanya tanpa henti.