TALAK

TALAK
Part 209 TALAK.


__ADS_3

Kedua anakku kalau siang tidur pulas namun jika malam mereka selalu ngakak begadang, sehingga membuatku selalu ngantuk disiang hari. Pagi tadi pak Catur pemit akan pulang telat namun nyatanya jam dua sianh dia sudah sampai rumah dengan sopirnya, ya untuk akhir-akhir ini pak Catur menggunakan sopir karena takut ngantuk sebab malam sering begadang dengan kedua putra kami.


"Mas." sapaku, penuh tanda tanya, begitu melihat pak Catur masuk kamar dalam keadaan lesu.


"Badanku rasanya pegal sekali, jadi aku gak jadi bermagkat ke pabrik baru, aku mau istirahat." sahut pak Catur sambil menaruh tasnya.


"Istirahatlah mas," aku menghampiri suamiku yang duduk di sofa dan sudah memejamkan mata, aku cek ternyata suhu tubuhnya juga panas " Mas demam?" Aku langsung cemas.


"Sedikit, tolong ambilkan obat penury panas saja InsyaAllah akan baik-baik saja." sahutnya masih memejamkan mata.


"Pindah dulu di ranjang dan tidurlah, biar anak-anak di kamarnya sendiri." ucapku.


"Biar meraka di sini saja." pinta pak Catur.


"Mas kan lagi demam, gak baik anak-anak jika tetep di sini, sekarang aku panggilkan dokter." ucapku langsung memencet dokter langganan kami.


Aku minta tolong mbak Inayah dan mbak Qibtiyah untuk memindahkan Afwi dan Afwa ke kamar bayi karena aku tidak ingin mereka terkontaminasi. Tidak berselang lama seorang dokter datang dan memeriksa keadaan suamiku.


"Bagaimana keadaan suamiku dok?" tanyaku cemas.


"Bapak butuh istirahat barang beberapa hari, " ucap Dokter "Bapak harus banyak istirahat supaya tenaganya cepat pulih jangan masuk kantor dulu." nasehat sang dokter.


"Terima kasih dok." ucapku.


"Masih boleh gendong bayi kan dok?" tanya pak Catur pada dokter.

__ADS_1


"Tentu boleh jika sudah sehat, sekarang jangan dulu takutnya menular ke anak bapak, karena bayi mudah sekali tertular." dokter menjelaskan pada kami


"Terima kasih dok."


"Semoga lekas sembuh, bapak harus istirahat total." nasehat dokter lagi.


Selesai memeriksa dan memberi obat pada suamiku aku mengantar dokter sampai pintu depan, sebemum masuk kbali ke kamarku, aku menengok kedua bayiku yang sedang tidur pulas di ranjangnya, mereka do tank oleh mbak Inayah karena hari ini jadwal mbak Inayah masuk.


"Mbak Na, tolong titip anak-anak dulu, setengah jam lagi waktu mereka nyusu, aku lihat bapak dulu." ucapku pada mbak Inayah.


"Baik, bu." jawab Inayah sopan.


"Terima kasih mbak Na." Aku pergi meninggalkan mereka setelah membelai kedua putraku.


Aku kembali masuk ke kamar, aku lihat suamiku memejamkan matanya dan badannya sangat panas, aku segera ke dapur untuk mengambil air dan juga handuk kecil untuk mengompres pak Catur.


"Tidurlah Mas, Dinda tahu jika mas kecapek-an." sahutku sambil mengompres keningnya.


"Maaf." ucapnya sendu tangannya menggenggan tanganku.


Aku tersenyum manis padanya sambil terus mengompres keningnya, mungkin pengaruh obat pak Catur sudah tidur pulas, aku tetap ngompres keningnya namun aku tatap melihat jam waktunya anak-anak untuk nyusu. Aku tinggalkan kamarku aku biarkan pak Catur istirahat karena sejak aku hamil tua sampai melahirkan pak Catur jarang sekali tidur, dia benar-benar sangat siaga.


Aku bergegas masuk ke kamar si kembar di sana mbak Inayah dibantu Qibtiyah sedang menggendong kedua anakku dengan Afriana yang juga ikut berada di kamarnya. Si kembar ternyata sudah bangun dan sudah mulai rewel karena lapar.


"Ayo sayang, maafin bunda ya sayang." ucapku langsung mengambil Afwi dari gendongan Qibtiyah, karena Afwi yang nangis maka Afwi dulu yang aku susui.

__ADS_1


Afwi langsung diam begitu sudah mulai nyusu, sedang Afwa masih berada di gendongan Inayah bermain dengan Afriana. Tidak pernah aku sangka Afriana begitu sangat menyayangi kedua adiknya, tadinya aku takut jika Afriana akan cemburu dengan kehadiran adiknya.


Selesai minum susu kedua bayiku tidak tidur karena waktu mereka untuk mandi sore, sore ini aku sibuk mengurusi pak Catur yang sedang tidak enak badan, untuk kedua bayiku aku meminta mbak Inayah dan mbak Qibtiyah untuk menjaga Afwa dan Afwi. Sepulang dari kantor mbak Priska datang kerumah dengan sekretatisnya pak Catur.


"Bagaimana keadaan Tono? " tanya mbak Priska begitu duduk di sofa.


"Masih tertidur mbak, demamnya tinggi, efek setiap malam begadang." ucapku sedih dan tidak enak.


"Biarkan dia istirahat, suamimu itu seperti papa Cakra, dia sayang sekali dengan keluarga, inshaallah akan segera sehat kembali, kamu jangan merasa tidak enak begitu, dulu papa juga begitu setiap malam tidak tidur sewaktu adik-adik rewel dan yang paling lama rewelnya ya suamimu itu." nasehat mbak Priska ternyata mbak Priska tahu akan ekpresiku.


"Ya mbak." sahutku sedikit lega.


"Aku mau minta bantuanmu, Fah, tolong periksa file ini, aku tahu kamu bisa membantu kami." pinta mbak Priska.


"Iya maaf, Bu karena saya sebagai sekertaris bapak saya belum bisa mengimbangi kinerja bapak, sekali lagi saya minta maaf." sekretaris pak Catur mengutrakan permohonan maafnya.


"Tidak apa, nanti akan segera aku cek bila sudah selesai aku akan berikan ke suamiku." ucapku ramah dan sopan.


Aku dapat membaca ekpresi sekretaris pak Catur, sebenarnya bukan sekretaris pak Catur yang tidak dapat mengimbangi kinerja pak Catur namun karena Akhir-Akhir ini pak Catur lebih memilih memerhatikan ke keluarganya jadi urusan kantor sedikit abai.


"Mbak Pris boleh kita bicara sebentar." pintaku pada mbak Priska.


"Baik Fah."


"Sebentar kami tinggal dulu." pamitku pada sekretaris pak Catur.

__ADS_1


Aku dan mbak Priska menuju taman belakang, aku ingi menanyakan tentang pekerjaan suamiku dan kedaan perusahaan karena aku tidak ingin kerana kelalaina suamiku bisa merugikan banyak orang. Aku tidak ingin ada karyawan yang di PHK, dan membuat perputaran pabrik melambat, kerena semenjak aku tidak ke kantor suamiku sama sekali tidak mengeluh alam pekerjaannya, suamiku selalu mengatakan semua baik-baik saja.


__ADS_2