
Selesai mandi dan berganti baju aku keluar dan menemui mereka, setelah aku kunci rumah orang tuaku kami berempat kembali ke rumah bu Priska, Rahma dan Afriana duduk di jok belakang, sedang aku duduk menemani pak Catur di depan.
Sesampainya di rumah bu Priska kami berempat turun, saat kami masuk di ruang tengah, di ruang tengah sudah ada bu Cakra, pak Cakra, Bunda, Mak, bu Irma, dan bu Priska, pak Anam, dan kakung sedang bersantai menunggu magrib tiba.
"Assalamu'alaikum, kakek, nenek, Rahma dan Afriana sudah datang, sink Afri aku kenalin!" seru Rahma girang.
"Wa'alaikum salam, cantiknya, sini nak." ucap bu Cakra.
"Ayo Afri salim dulu!" perintahku pada Afriana.
Afriana menurut perintahku dengan sopan bersalamam pada mereka dengan ta'dzim. Dari raut wajahnya aku dapat melihat mereka semua menyambut Afriana dengan hangat, bahkan pak Catur juga ikut senang ketika melihat kehangatan dalam pertemuan mereka dengan Afriana.
Selesai melakukan sholat magrib berjamaah kami semua pergi menuju rumah makan lombok idjo, Rahma dan Afriana selalu ingin berdua hingga semua orang yang melihatnya menjadi heran. Kami duduk berhadap-hadapan Rahma dan Afriana duduk di antara aku dan bu Priska, sebelah bu Priska ada mak dan Pak pak Anam, sebelahku ada bunda di depan ada pak Cakra, bu Cakra, pak Catur, kakung, suami bu Irma dan bu Irma.
"Mereka akrab sekali cocok jika jadi saudara." celetuk bunda di sampingku dengan mata sedikit berkaca-kaca.
"Kenapa bunda menangis?" tanyaku.
"Aku bahagia sekali melihat putrimu dan Rahma, mbak." ucap bunda tulus.
__ADS_1
"Terima kasih bunda, bunda jangan sedih, inshaallah pak Catur akan segera mendapatkan pendamping hidup, saya yakin pilihan pak Catur tepat dan inshaallah istri pak Catur bisa menyayangi bunda dengan tulus, bunda bisa memiliki cucu lagi." hiburku pada bunda.
Bunda langsung membelai punggungku dengan senyum tulusnya "Inshaallah mbak Fah, bunda yakin dengan pilihan nak Tono, bunda yakin pilihannya pasti wanita yang sholehah." ucap bunda
"Makan dulu bunda, kapan-kapam kalau saya longgar saya masakkan buat bunda." ucapku.
"Aku sebenarnya juga sudah kangen dengan masakanmu mbak Fah, bunda pasti ketagihan." celetuk bu Cakra yang ada di depanku " Benar kata mbak Fah, inshaallah pilihan Tono yang terbaik untuk kita semua." tambah bu Cakra untuk menghibur Bunda.
Acara makan malam berjalan lancar, selesai makan malam kami semua tidak langsung pulang, kami menuju mal Matahari untuk membeli sesuatu buat anak-anak, seperti biasa pak Catur mengajak anak-abak pergi ke toko buku, dengan bahagianya pak Catur menggandeng Afriana dan Rahma untuk memilih buku-buku buat mereka.
"Lihatlah Tono sangat cocok sekali." celetuk bu Irma yang ada di dekatku " Terima kasih mbak, kehadiranmu dan Afriana dalam keluarga kami membuat adikku bisa menemukan kembali kehidupan yang sesungguhnya, kami sangat bahagia jika.... " ucap bu Irma terputus.
"Bude Irma, lain kali ajak mbak Alya ya." tiba-tiba Rahma dan Afriana sudah berdiri di hadapan kami.
"Beli buku kisah-kisah Nabi bude." jawab Afriana ikut-ikutan manggil bude pada bu Irma.
"Anak manis, nenek suka sekali, kalian tambah pinter." bu Cakra ikut memuji Rahma dan Afriana.
"Terima kasih nenek." jawab Rahma dan Afriana senang.
__ADS_1
"Afri, beli yang perlu saja ya." nasehatku pada Afriana.
"Iya buk, ini cuma beli tiga kok buk, ceritanya bagus-bagus sekali buk." jawab Afriana senang.
"Kalian boleh beli lebih dari tiga, nah sekarang nenek yang bayar untuk kalian berdua, bagaimana, setuju kan?" ucap bu Cakra.
"Terima kasih nenek, Rahma mau beli pewarna boleh?" ucap Rahma girang.
"Boleh dong untuk cucu nenek yang cantik dan pintar, Afri juga boleh may beli apa biar nenek yang bayar." ucap bu Cakra lembut.
"Ehm.... " Afriana tidak menjawab dia langsung menatapku minta persetujuanku.
"Boleh Afri tapi ingat, yang perlu saja ya." pesanku pada Afri " Terima kasih bu untuk semua ini, semoga Allah membalas semua kebaikan keluarga ibu pada kami." ucapku bersunguh-sungguh.
"Mbak Fah, jangan begitu bagi kami melihat putra-putri kami bahagia, kami sudah bahagia, lihatkah betapa bahagianya anak ibu yang satu itu ketika bersama Afri, rasanya ibu tidak yakin jika anak ibu bisa kembali menjalani kehidupannya dengan bahagia seperti sekarang, jika mengingat beberapa tahun lalu rasanya hati ibu dan bunda benar-benar sedih, mbak, ketika dia berada di kota ini dan ketemu dengan kalian cahaya kehidupannya bisa kembali seperti dulu." ucap bu Cakra lembut.
"Sebentar lagi pak Catur menikah inshaallah kehidupan pak Catur semakin lengkap, sebenarnya saya sudah berkali-kali mengingatkan pada pak Catur agar tidak memanjakan Afri, takutnya istri pak Catur salah paham." Aku berharap dengan mengadu pada bu Cakra agar bu Cakra bisa menasehati pak Catur.
"Kamu jangan khawatirkan itu mbak, karena kamu dan Afriana akan tetap menjadi bagian dari keluarga kami, sudah jangan di pikirkan." ucap bu Cakra.
__ADS_1
"Bunda bahagia sekali kalian bisa menjadi bagian dari keluarga kami." tambah Bunda dengan senyum tulus.
Mendengar ucapan dari bu Cakra dan bunda membuat hatiku sedikit lega, mungkin mereka menganggap aku sebagai putrinya sebagai mana anggapan mereka seperti pada bu Priska.