TALAK

TALAK
Part 252 TALAK


__ADS_3

Lima belas menit telah berlalu pak Catur sudah kembali, ternyata dia kembali tidak sendirian dia kembali sudah bersama dengan Asiyah yang berjalan di belakangnya.


"Assalamu'alaikum," Pak Catur dan Asiyah memberi Salam secara bersamaan.


"Wa'alaikum salam," sahut kami bertiga.


Asiyah langsung menyalamiku dengan ta'dzim, dia juga menyalami Afriana Rahma dan juga pak sopir, mereka bertiga biar beda kelas dan beda kamar mereka sangat akrab seperti saudara kandung.


"Bagaimana Yah," tanyaku ikut penasaran.


"Alhamdulillah, pihak pesantren memberi ijin tapi hanya seminggu tidak boleh lebih." jawab pak Catur langsung duduk di sebelahku.


"Alhamdulillah," sahut kami bertiga, Afriana dan Rahma sangat bahagia.


"Sekarang berkemas, ambil tas kalian dan bawa bekal ini bagikan ke teman kalian, dan yang ini nanti bagian mbak As, kasihkan teman-temanmu, yang ini buat kamu sendiri mbak As, hati-hati di sini ya, jika perlu," perintah pak Catur pada anak-anak.


"Terima kasih Pak, Buk, nanti titip Salam buat mbak Qib," ucap Asiyah bahagia.


Afriana dan Rahma segera beranjak dari tempat duduknya untul ke kamar mereka mengambil tas sambil membawa bekal mereka untuk di bagikan ke teman-temna sekamarnya.


"Kalian cepat kesini, nanti bantu mbak Asiyah untuk membawakan bekalnya," pesanku pada Afriana dan Rahma yang baru memakai sandalnya.

__ADS_1


"Iya, Buk," jawab Afriana.


"Baik tante," sahut Rahma.


"Mbak As, bagaimana ada keluhan selama menuntut ilmu di sini?" tanyaku.


"Alhamdulillah semua baik-baik saja buk," jawan Asiyah sopan "Adik namanya siapa buk?" tanya Asiyah, Asiyah baru pertama kali melihat Alifa.


"Namanya Alifa, mbak," jawabku.


"Mbak, As, jika Rahma dan Afriana bersikap tidak baik pada mbak As atau menemui mereka berdua bikin masalah mbak As, tolong tegur saja dan bilang ke kami ya atau ke pengurus pesantren." pesan pak Catur lembut pada Mbak Asiyah.


"Mereka berdua adik yang manis kok Buk, Pak, bahkan banyak yang tidak tahu jika dik Afriana dan dik Rahma itu keluarga Cakra, karena mereka berdua benar- benar tidak pernah menyombongkan diri, mereka benar-benar rendah hati dan suka menolong, mereka bisa berbaur dengan siapapun biarpun sama orang seperti kami yang berasal dari kalangan biasa seperti saya, mereka sangat bisa menghargai orang lain." jelas Asiyah penuh kedungguhan.


"Assalamu'alaikum," Afriana dan Rahma sudah kembali dengan membawa tas punggungnya dengan wajah berbinar-binar.


"Wa'alaikum salam," sahut kami semua.


"Ibuk dan bapak mau pulang sekarang apa nanti?" tanya Asiyah.


"Setengah jam lagi mbak, lagian ketemu mbak Asiyah baru beberapa menit," jawabku.

__ADS_1


"Coba mbak Asiyah ceritakan selama menuntut ilmu di sini, saya ingin tahu dengan perkembangannya!" pinta pak Catur.


"Mbak As, dulu yang cerita aku dan Afriana nanti di rumah saja." ucap Rahma antusias.


Seperti biasa kami akan meminta mereka bertiga untuk bercerita setiap kali melakukan kunjungan, jadi mereka sudah sangat hafal dengan rutinan kami. Mendengar cerita dari mereka benar-benar bikin hati teraduk-aduk, kadang susah kadang juga lucu. Seperti sekarang Asiyah menceritakan tentang bagaimana temannya yang sering ngantuk di kelas tapi tidak pernah ketahuan, hingga ada beberapa temannya yang aneh di suruh hafalan ternyata salah yang di hafalkan, dan keseruan mereka jika di akir bulan belum mendapat kiriman tidak punya sabun atau alat mandi mereka akan saling neminjami. Setelah hampir setengah jam akhirnya Asiyah menghentikan ceritanya.


"Jika kiriman kami tidak cukup mbak Asiyah bilang ke kami ya, jangan sungkan anggap saja kami ini orang tuamu, sama halnya mbak Qib, kamu itu sudah kami anggap anak, ya, kami tidak ingin anak -anak kekurangan." ucap pak Catur lembut.


"Alhamdulillah, kiriman dari bapak dan ibuk sudah lebih dari cukup, bahkan kiriman dari bapak dan ibuk itu dijadikan stock sama teman-teman, di akir bulan, oh ya pak buk teman-teman saya mengucapkan banyak terima kasih atas kiriman dari bapak dan ibuk di setiap bulan." ucap Asiyah.


"Sama-sama, sebenarnya semua itu rejeki mereka sendiri namun sama Allah di titipkkan ke saya, kok mbak," ucap Pak Catur bijak.


"Teman-temanku tadi sangat antusias dan bahagia, Buk, Yah, soalnya jarang -jarang ada makanan mahal dan dalam jumlah yang lumayan banyak!" seru Afriana bahagia.


"Syukurlah, Af bantuin mbak As bawa kirimannya ke kamarnya." perintah pak Catur lembut.


"Iya, Yah, ayo mbak!" Afriana sangat antusias.


"Mbak As, ini uang jajanmu, ini tadi ada titipan dari mbak Qib untukmu, gunakan dengan baik ya." ucap Pak Catur sambil menyodorkan amplop berisi uang yang tidak banyak hanya seratus ribuan karena jumlah uang saku buat para santri sudah ditentukan oleh pihak pesantren tidak boleh lebih dari jumlah ketentuan.


"Terima kasih pak buk, mari assalamu'alaikum," pamit mbaj Asiyah.

__ADS_1


Mereka bertiga berjalan beriringan, Afriana dengan Rahma membawa sebungkus kiriman dari kami, sedang Asiyah juga membawa sebungkus kiriman dari kami menuju kamarnak Asiyah. Sebenarnya kirimanku hanya sedikit makanan, jajan, alat mandi, alat memcuci pakaian, beras, makanan ringan lainnya, sambel kacang tidak boleh ketinggalan setiap kali kirim ke pesantren.


__ADS_2