TALAK

TALAK
Part 65 TALAK


__ADS_3

Perjalananku di Jakarta telah berakhir, setelah melakukan banyak pekerjaan di kantor pusat, dan melakukan beberapa kali rapat, sepuluh hari sudah aku dan pak Catur di Jakarta molor tiga hari dari yang diperkirakan. Dengan penerbangan pagi aku dan Pak Catur meninggalkan kota Jakarta untuk kembali ke kota madiun.


Dari bandara solo ke kota Madiun aku dan pak Catur naik kereta api karena kebetulan pak Anam lagi tidak enak badan jadi tidak bisa menjemput, sedangkan bu Priska harus tetap bekerja di kantor. Begitu sampai di kota Madiun kami berdua tidak langsung pulang kerumah malah langsung pergi ke kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang harus segera deadline.


"Mbak Fah sudah malam, ayo aku antar pulang." ucap Pak Catur yang sudah berdiri di depan meja kerjaku.


"Terima kasih, pak sedikit lagi, lima belas menit karena besok saya juga siang baru datang ke kantor." jawabku sambil terus menatap layar monitor dang menyimpan file.


"Ya maka dari itu, aku ingin kamu segera istirahat supaya besok kamu segar dan punya tenaga saat sidang." jelas pal Catur.


"Bapak, ngantar saya? Bukannya tadi kita ke kantor naik taksi, lalu?" tanyaku sedikit bingung.


"Aku, tadi sudah ngambil mobil, kamunya saja yang gak tahu terlalu serius bekerja sampai ada orang lewat tidak tahu." gerutu pak Catur sambil duduk di sofa sebelah meja kerjaku.


"Besok kamu sidang jam berapa, dan di antar oley siapa?" tanta pak Catur padaku.


"Besok, tetap mas Jamal yang mengantar, pak." jawabku jujur.


"Baiklah, semoga sidangmu besok berjalan lancar, dan.... !" ucap Pak Catur menggantung.


"Terima kasih pak." jawabku sopan " Dan apa pak?" Aku balik tanya kepada pak Catur.


"Dan kamu bisa kembali ke kantor lebih awal." jawab pak Catur sekenanya.


Akhirnya pekerjaanku berakhir di jam setengah sembilan malam, pak Catur mengantarku pulang memakai mobilnya karena aku bawa koper dua, satu koper isi baju dan satunya lagi jajan. Saat aku mau kembali ke kota Madiun, keluarga pak Catur sudah membelikan beberapa jajan bahkan pak Catur sendiri membelikan boneka melody buat Afriana, entah kapan belinya aku juga tidak tahu.

__ADS_1


"Terima kasih pak sudah mengantar saya." ucapku sopan saat ikut membantu menurunkan koper dari mobil pak Catur.


"Sama -sama mbak, aku juga terima kasih karena kamu sudah bekerja dengan maksimal sehingga membuat saya bisa mencapai target." jawab pak Catur.


"Alhamdulillah, ibuk pulang!" seru Afriana saat keluar dari rumah dan langsung memelukku.


"Alhamdulillah, ibuk kangen!" seruku dan langsung berpelukan.


"Mbak, kok bawaannya banyak banget, kaya mau pindah saja perasaan waktu berangkat koper mbak Fah kecil, la pulang kok berubah jumbo semua." cerocos Fauzan sambil mendorong koper untuk di masukan kedalam rumahku namun aku tidak menghiraukan ucapan Fauzan.


Saat aku melepas kangen dengan Afriana dan juga ibu serta Nafisa aku tidak menghiraukan lagi jika masih ada pak Catur, saat aku baru sadar ternyata pak Catur sudah duduk di kursi plastik yang ada di ruang tamu rumahku bersama Fauzan dan bahkan segelas teh hangat juga sudah tersaji di meja plastik yang ada di ruang tamu.


"Maaf pak, Af, ayo salim sama paman, oh ya Af, paman juga membelikan boneka melody buatmu, ayo bilang terima kasih sama paman." perintahku pada Afriana.


Tanpa membantah Afriana langsung bersalaman dengan Pak Catur, Afriana tidak lupa mencium tangan pak Catur juga" Terima kasih bonekanya, paman." ucap Afriana sopan.


"Buk, ayoo di buka, aku tidak sabar pingin lihat boneka melodinya." rengek Afriana manja.


"Ayo."ucapku.


Akhirnya aku, Afriana, Nafisa, serta ibuku membuka koper yang ada bonekanya di atas tukar karena rumahku masih berkantaikan tanah, aku sangat terkejut begitu membuka satu koper di kertas sudah di tulisi" Untuk Afriana sayang" Ya semua hanya untuk Afriana, satu boneka melodi besar, baju, sepatu, sandal, tas slempang untuk bermain, dan tas punggung untuk sekolah, bahkan Nafisa juga ikut sangat terkejut.


"Alhamdulillah, boneka besar dan bagus, bajunya juga bagus-bagus, ibuk ini buat Afri semua?" tanya padaku Afriana girang


"I... I... Iya, Af." jawabku sedikit tidak percaya dengan isi kopernya.

__ADS_1


"Mbak, kok banyak sekali belanjaannya ?" tanya Nafisa lirih.


"Aku juga tidak tahu, Naf!" jawabku lirih


"Terus, siapa yang beli?" desak Nafisa.


"Aku gak tahu Naf, wong tadi pagi yang masukin koper ke mobil, dan membawa juga pak Catur ya aku kira punya pak Catur." jawabku jujur.


"Bilang apa Af, sama paman, ini semua paman yang belikan untuk Afri " perintahku pada Afriana.


"Terima kasih paman, Afri suka sekali, semua bagus-bagus." ucap Afriana sangat senang, ya ini pertama kalinya Afriana mendapat hadiah dalam jumlah banyak.


"Alhamdulillah, kalau Afri suka, paman juga ikut senang asal Afri bahagia."


"Terima kasih sekali paman, ini pertama kalinya Afri dapat hadiah yang banyak, paman beli buat Afri banyak sekali kalau uang paman habis bagaimana?" tanya Afriana berubah sedikit bimbang.


"Afri sayang, kalau uang paman habis paman akan bekerja lebih giat lagi agar paman punya uang banyak dan bisa beli hadiah untuk Afri, asal...." ucap Pak catur menggantung.


"Asal apa paman?" tanya Afriana penasaran.


"Asal Afriana, pintar ngaji, sholat lima waktunya tidak bolong dan rajin sekolah." ucap Pak Catur lembut.


Aku dan keluargaku tidak percaya dengan apa yang pak Catur lakukan, bahkan Afriana sampai begitu akrabnya dengan Pak Catur, pak Catur memperlakukan Afriana dengan lembut penuh kasih sayang.


Aku membiarkan Afriana pak Catur dan Fauzan untiuk ngobrol dan bercengkerama, sedang aku sibuk membuka koper satunya, koper yang isinnya baju-bajuku dan oleh-oleh buat keluargaku, walau saat belanja yang bayar pak Catur semua, bahkan ada beberapa bungkus jajan pemberian bu Cakra dan bu Irma.

__ADS_1


Jam sepuluh malam akhirnya pak Catur pamit pulang setelah bercengkerama dengan Afriana, wajah pak catur yang tadinya terlihat lelah sekarang sudah berubah menjadi segar dan juga terlihat bahagia. Kami semua mengantar pak Catur sampai di halaman tempat mobil pak Catur terparkir.


__ADS_2