
Sepulang dari rumah sakit kami tidak langsung pulang, pak Catur mengajakku untuk menikmati kebersamaan kita berdua di sebuah tempat wisata alam buatan yang dekat dengan kota, pak Catur mengajakku menuju kali bantaran sungguh aneh dan juga lucu ya bisa dibilang begitu. Kami memilih duduk di tepi kali bengawan Madiun sambil menikmati air kali bengawan Madiun yang mengalir dengan tenangnya. Taman wisata kali bantaran merupakan taman yang baru saja di buka dan menjadi menjadi icon tersendiri bagi masyarakat Madiun dan sekitarnya, di taman ini banyak sekali pengunjungnya mulai dari anak-anak sampai dengan orang dewasa, di samping murah tempat wisata ini juga memberikan fasilitas komplit untuk segala usia, berhubung ini bukan hari libur maka pengunjung tidak begitu ramai. Biasanya jika hari minggu ada car free day dan juga Sunday Market, dan jika sudah begitu maka pengunjung sangat padat dan berjubel, berbagai macam barang dagangan digelar disana.
"Mas, sejuk sekali." ucapku sambil menikmati semilir angin pagi da juga sengatan matahari yang menerobos melalui celah-celah dedauan beringin yang rindang.
"Sesejuk hatiku yang berada di hati Dindaku sayang." balas pak Catur dengan senyum indahnya.
"Ih, mas gombal," manjaku "Mas, kenapa mas tidak ke kantor hari ini?" tanyaku.
"Kenapa?"
"Ya, tidak apa-apa? Mas, kenapa mas berubah padahal kemarin mas sangat antusias menyambut kehadiran janin dalam kandungan Dinda kenapa sekarang mas menjadi tidak tenang begini?" tanyaku penasaran.
"Jujur, mas sangat bahagia mendapat kepercayaan lagi dengan tumbuhnya janin dalam kandungan Dinda, namun keterangan dokter tadi tentang pendarahan mengingatkan mas pada peristiwa beberapa tahun yang lalu, mas tidak ingin kehilangan orang yang mas sayangi, mas belum sanggup untuk kehilangan sayang, mas belum sanggup," pak Catur jujur apa adanya, bahkan matanya sudah merah menahan airmatanya agar tidak jatuh "Itu sebabnya mas ngajak Dinda kesini, mas ingin berpikir secara jernih."
"Mas, inshaallah Dinda dan anak kita selamat, kita akan selalu bersama-sama selamanya dunia akhirat." ucapku lembut, kini aku yang berusaha meyakinkan suamiku, ya aku paham akan perasaan suamiku, trauma yang dialaminya dulu benar-benar masih mengghantuinya, trauma kehilangan istri dan anak yang masih berada dalam kandungan istri pertamanya.
Kami bedua berbicara ringan, sambil melihat para pengunjung yang hilir mudik menikmati fasilitas taman kali bantaran, beberapa orang sedang memancing karena di kali bantaran ada fasilitas pemancingan.
"Mas, lihat itu sepasang kakek nenek, suatu saat jika anak-anak sudah besar kita pasti juga akan seperti mereka, anak-anak sudah berkeluarga sendiri dan kita akan berdua saja." celetukku.
"Itu sebabnya Dinda, mas ingin memiliki keturunan yang banyak, jadi suatu saat ketika kita sudah senja, masih ada ansk-anak dan cucu-cucu kita di sekeliling kita, seperti halnya papa mama dan ibuk bapak, ya walau Menurutku mereka kurang banyak." ucap Pak Catur yang sudah mulai bisa menguasai dirinya.
__ADS_1
"Memang mas mau punya anak berapa?" tanyaku, padahal aku sudah tahu jawabannya selalu sebanyak mungkin.
"Berapapun yang Allah kasih ke kita, mas dengan senang hati dan iklas akan mendidik dan merawat mereka semua sesuai dengan ajaran agama kita." ucap Pak Catur tulus "Astaqfirullah hal'adzim, sampai lupa belum kasih kabar ke mama dan ibuk!" seru pak Catur.
"Nanti, kita telpon mama dan ibuk." usulku.
"Mas punya ide bagaimana jika kita ke Jakarta, sekalian ngajak anak-anak jalan-jalan, nanti sore kita ke rumah ibuk, bapak, kabari mereka." usul pak Catur sangat antusias.
"Mas, gak ke kantor hari ini?" tanyaku.
Pak Catur menggelengkan kepala "Aku ingin menenani anak dan istriku." jawabnya.
Panas terik mulai meninggi, matahari pas berada di atas kepala, suara Adzan dhuhur dari masjid terdekat telah berkumandang secara bersahut-sahutan, akhirnya kami bedua memutuskan untuk pulang, pak Catur mengurungkan niatnya untuk ke kantor di siang hari, pak Catur memilih menghabiskan waktu bersama kami di rumah, sebelum pulang kami mampir di mesin ATM, aku lihat suamiku mengambil uang dengan jumlah yang lumayan.
"Buat?" tanyaku penasaran.
"Untuk bonus pekerja kita yang di rumah." terangnya
Aku hanya ber oh ria, aku sudah hafal dengan sifat pak Catur yang sangat dermawan, aku segera memasukan uang kedalam amplop tanpa protes.
"Mas kok cuma lima?" tanyaku.
__ADS_1
"Hari ini yang masuk kan cuma lima, jadi berikan dulu yang hari ini saja." jawab pak Catur sambil menstater mobilnya.
"Pa pa pa pa pa ma ma ma." itulah celotehan sambutan dari Afwa dan Afwi ketika milihat kami yang baru saja masuk rumah.
"Anak-anak bunda pintar, sudah makan apa belum sayang?" tanyaku lembut aku mengajak kedua putraku untuk duduk sofa di ikuti oleh pak Catur.
"Dah dah dah dah." jawabnya sambil menggelengkan kepala.
"Sudah apa belum sayang kok geleng kepala sih?" tanyaku lagi.
"Da da da da." keduanya masih dengan menggelengkan kepala.
Afwa dan Afwi termasuk anak yang aktif, mereka sangat menggemaskan postur tubuhnya yang sedikit gembul menambah nilai plus kelucuannya.
"Mbak Na, mbak Qib setelah ini kita kerumah mbah, mulai hari ini mbak Qib dan mbak Na harus ikut dengan kami jika Afwa dan Afwi kita ajak pergi, sebab mulai hari ini ibu tidak boleh terlalu capek, alhamdulillah kami mendapatkan rejeki lagi saat ini kandungan ibu sudah tujuh minggu." jelas pak Catur yang duduk di sofa bersebelahan denganku dan si kembar.
"Alhamdulillah." seru mbak Qibtiyah dan Mbak Inayah bersamaan.
"Mbak Na dan mbak Qib tidak usah khawatir, saya akan menambah suster lagi untuk menjaga ibu, mbak Na sebagai seorang suster pasti tahu resiko jarak kehamilan yang dekat." jelas pak Catur.
"Baik Pak , Bu." jawab mbak Inayah.
__ADS_1
"Sebagai bentuk rasa sykurku atas kehamilan ibu, semua yang bekerja di sini aku kasih bonus tidak banyak, namun semoga bermanfaat." ucap Pak Catur, pak Catur segera mengeluarkan amplop putih berisi uang dan memberikan langsung pada mbak Qibtiyah dan Mbak Inayah.
"Masyaallah, Pak, Bu, terima kasih, alhamdulillah semoga Allah melimpahkan rahmat dan nikmat yang tiada terkira untuk keluarga bapak dan ibu, alhamdulillah besok anak saya sudah bisa bayar uang buku." syukur dan doa mbak Inayah, mbak Inayah amat sangat girang dan terharu saking girangnya dua sampai menitikan airmata . Begitu pula Qibtiyah dua tak kalah girang dan teeharu, padahal memberikan bonus pada mereka itu sebenarnya sudah seperti kegiatan rutin, namun dengan jumlah yang berebeda, biasanya kami memberikan bonus hanya dalam jumlah ratusan saja namun rutin setiap bulan sehingga membuat para pekerja betah bekrjat pada kami, bukan hanya betah tapi juga sangat baik pada keluargaku.