
Suasana di dalam rumahku sangat menyenangkan, kami semua sibuk dengan aktifitas masing-masing, anak-anak bermain dengan riangnya. Pukul empat sore mbak Yah dan Nafisa memutuskan untuk pulang karena waktu sudah sangat sore.
Anak-anak malam ini cepat sekali terlelap mungkin karena ke capek an habis bermain, bahkan Afriana jam setengah delapan sudah tidur dengan nyenyaknya. Malam ini terasa sepi sebab anak-ansk sudah tidur aku memutuskan untuk menemani suamiku bekerja di dalam ruang kerjanya. Sebuah tumpukan berkas di atas meja minta untuk segera di selesaikan, dengan senang hati tanpa diminta aku bantu suamiku.
"Mas, sudah larut aku kepingin tidur tapi kok lapar." keluhku.
"Bunda mau makan apa?" tanya pak Catur dengan sabar, kali ini dia sudah paham akan ngidamku yang bikin menguras emosi.
"Kepingin sate." ucapku enteng tanpa dosa.
"Baiklah, ayah belikan." pak Catur segera menutup layar komputernya.
"Ikut." pintaku manja.
"Sudah malam bunda." jawab pak Catur.
"Aku pokok ingin ikut." kekehku.
"Ayo, kalau begitu."
Aku segera memakai hijab, udara malam ini lumayan dingin aku dan Pak Catur memakai jacket, dengan mengendari sepeda motor N-max nya suamiku, kami berdua membelah ramainya suasana malam minggu, lapangan gulun yang menjadi tujuan kami, karena biasanya di sana banyak sekali penjual beraneka ragam jenis makanan. Pak Catur memarkirkan motornya, suasana sudah tidak seramai tadi sore, padahal biasanya jika malam minggu kaya gini pengunjung berkali lipat. Pak Catur mengajakku memutari lapangan gulun sambil jalan santai, penjual sate, ya suamiku langsung mengajakku untuk menuju penjual sate.
"Pak, satenya dua porsi seperti biasa pakai lontong semuanya , di makan di sini." pinta suamiku pada penjual sate tersebut.
"Baik, Pak, sudah lama sampean tidak kesini." ucap penjual sate tersebut dengan ramah.
__ADS_1
"Iya pak lagi banyak kerjaan dan setelah menikah langsung punya anak jadi sibuk dengan anak-anak." jawab suamiku seolah sudah terlalu akrab.
Aku dan suamiku duduk di lantai beralaskan tikar plastik, di sekitar kami juga ada pengunjung yang sedang menikmati akir pekan mereka secara bersama-sama. Sepasang muda midi mendominasi pengunjung lapangan gulun tersebut.
"Mas kok akrab sekali dengan penjual sate iti?" tanyaku.
"Dulu sering kesini bersama Rahma dan mbak Priska, namun semenjak menikah mas baru kali ini datang kesini." terang pak Catur.
"Oh, pantesan seperti sudah akrab gitu." ucapku.
"Silakan pak," tukang sate memberikan dua porsi sate pada kami "Saya kira sampean sudah pindah tugas mas?" tanyak tukang sate sambil menaruh dua porsi sate di depan kami.
"Iya memang pindah, pak, tapi pindah tugasnya harus jaga anak dan istri." seloroh pak Catur santai.
"Terima kasih." sahut kami berdua ramah.
Tidak salah pak Catur mengajakku untuk makan di tempat ini, rasanya memang enak sekali sebenarnya aku sudah berkali-kali makan sate dari tempat ini, namun baru kali ini Aku beli dan makan di tempat sebab biasanya Fauzan yang membawakannya. Satu porsi sate dihadapkanku sudah ludes tidak tersisa, namun anehnya aku masih ingin makan lagi.
"Mas lagi." pintaku.
"Sayang jangan banyak-banyak gak baik untuk kandungan bunda." nasehat pak Catur padaku.
"Mas." rengekku manja.
"Baiklah, mas pesankan lagi tapi jangan pakai lontong ya." ucap Pak Catur.
__ADS_1
Aku menganggukkan kepala tanda setuju, suamiku memesankan lagi satu porsi sate, tidak perlu nunggu lama satu piring sate sudah mendarat di depanku. Tanpa menungu komando aku langsung menyantapnya kali ini Aku di suapi oleh suamiku.
"Sudah mas, kenyang sekali." tolakku pada tusukan ketiga.
"Ya sudah mas habiskan," ucap Pak Catur sambil makan satenya" Pak tolong bungkuskan sepuluh bungkus!" seru suamiku pada penjual sate tersebut.
"Baik mas, di tunggu ya.( jawab penjual sate ramah.
"Mas banyak amat beli satenya?" tanyaku.
"Buat pak satpam dan orang di rumah." jawan suamiku enteng, ya aku kebiasaan suamiku yang selalu memikirkan orang lain.
"Mas kenapa dulu mas tidak pernah ngajak Dinda kesini, kan enak." protesku.
"Enakan di atas ranjang." bisik suamiku di telingaku takut di dengar oleh orang lain.
"Mas apaan sih." keluhku kesal.
"Kan bener sayang, lagian mas kan sibuk Dinda sendiri langsung hamil sedang Dinda dulu selalu lemas, namun kali ini kelihatannya Dinda jauh lebih segar dan tambah cantik." puji suamiku setengah berbisik takut di dengar oleh orang lain.
Sambil menunggu pesanan sate kami jadi, setelah membayar kami jalan-jalan dulu menikmati udara malam di area lapangan, biar sudah malam ternyata pengunjungnya tetap ramai mereka datang dan pergi silih berganti. Selama ini aku memang belum pernah datang kesini di malam hari selain malas aku memang tipe orang tidak suka dolan di malam hari, sehingga aku tidak begitu paham hingar bingarnya kota Madiun.
Satu jam aku dan Pak Catur menikmati suasana malam di kota, karena jam sudah menunjukan pukul dua belas malam kami bedua memutuskan untuk pulang, tidak lupa kami berdua mengambil pesanan kami tadi.
Malam semakin dingin suamiku mengendarai motor dengan kecepatan lamban dia takut aku kedinginan dengan hawa dingin di luar, ya nyatanya memang dingin biar sudah pakai jaket dinginnya masih bisa menusuk tulang, untuk mengurangi rasa dingin di tubuhku aku peluk erat suamiku.
__ADS_1