TALAK

TALAK
Part 179 TALAK.


__ADS_3

Waktu berjalan dengan cepat, tanpa terasa waktu ngunduh mantu di Jakarta hampir tiba, seperti hari ini kami semua sibuk menata barang untuk persiapan berangkat ke kota Jakarta. Keluargaku yang tidak ikut Fauzan dan Nafisa disamping kandungan Nafisa yang sudah besar, Nafisa juga takut naik pesawat. Kami semua berangkat bersama dengan nyarter mobil dari kota Madiun menuju bandara Adisoemarmo yang ada di kota solo, setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat jam kami semua mendarat dengan selamat di bandara Soekarno-hatta tangerang, di bandara pintu kedatangan ada mbak Irma beserta suami, mama dan juga papa yang menjemput kedatangan kami, mas Tri dan mas Dwi tidak mau ketinggalan juga ikut menjemput kami.


Kami semua menuju rumah keluarga Cakra, dengan beberapa mobil yang beriringan, sampai di sana kami semua di sambut hangat oleh semua orang yang ada di rumah keluarga Cakra, bunda ya bunda juga sudah berada di sana untuk menyambut kedatangan kami. Setelah saling bercengkerama sebentar kami beristirahat di rumah keluarga Cakra, kami semua nginep di rumah keluarga Cakra untuk mepererat tali persaudraan. Karena acaranya masih keesokan harinya, dan malam ini di rumah keluaraga Cakra sangat ramai, bayangin saja keluargaku dan keluarga pak Catur membaur jadi satu, dan juga anak-anak biar baru kenal mereka bisa membaur dengan cepat.


Karena semua undangan adalah para relasi keluarga Cakra maka acara di adakan pada malam hari, sore ini jam empat sore semua sudah berangkat ke hotel untuk melakukan persiapan, keluarga Cakra memilih hotel JW Marriot sebagai tempat resepsi. Kami semua disediakan tempat istirahat satu keluarga satu kamar. Setelah sholat magrip petugas make up datang, dan segera mulai meriasku, sedang pak Catur entah kemana di kamar aku ditemani mbak Irma dan mbak Priska karena Mbak Irma dan mbak Priska juga ikut di rias.


Jam delapan lebih tiga puluh menit aku dan Pak Catur keluar dari kamar menuju tempat diadakannya acara resepsi, diiringi oleh beberapa bridesmaid dan tidak ketinggalan Rahma serta Afriana dan juga Alya serta anak dari mas Dwi yang berjalan di depan membawa bunga, kami berdua melangkah menuju ke pelamina, di pelamina sudah ada kedua orang tuaku dan juga mama serta papa mereka memakai pakaian kebaya khas jawa, aku benar- benar terharu tidak pernah ternayabg olehku bakal megadakan pesta semewah ini.


Acara demi acara berjalan lancar mulai dari sungkeman, beberapa ritual jawa lainnya. Terakir acara memberi selamat, entah berapa ribu orang yang datang di resepsi kali ini, padahal mama bilang sekitar dua ribu orang saja, namun nyatanya tidak, pak Catur bilang kurang lebih sepuluh ribu orang yang di undang, dari dalam maupun luar negeri, semua relasi keluraga Cakra dan juga teman sekolah pak Catur juga. Jam sepuluh malam anak-anak sudah ngantuk, jadi beberapa keluarga meninggalkan temita resepsi untuk kembali ke kamar masing-maaing sedang Afriana tidur ikut mbak Yah dan mas Jamal.


"Mas." bisikku


"Capek?"


"He eh."


"Kita ke kamar kalau capek." ucap Pak Catur.


"Gak enak mas, acara belum selesai." tolakku halus.


"Fah, kalau sudah capek istirahat saja." nasehat mama yang berdiri di dekatku.


"Tapi mah."


"Sudah istirahat saja, Ton ajak Afifah istirahat, sebentar lagi acara selesai." perintah mama.


"Iya mah." sahut pak Catur


"Baik mah terima kasih." ucapku lega.


Pak Catur menuntunku menuju kamar hotel yang sudah di sewa oleh keluarga Cakra, kakiku rasanya pegal-pegal sekali ditambah perutku rasanya sedikit kram, karena terlalu lama memakai sepatu hak tinggi. Di saat berjalan di koridor hotel menuju kamar aku lepas sepatuku, pak Catur yang membawakan sepatuku sedang tanganku satu memegang perutku satunya memegangi lengan pak Catur. Begitu sampai di kamar aku langsung merebahkan tubuhku di atas kasur tanpa mempedulikan make up maupun gaun pengantin yang masih melekat di tubuhku, yang ada dalam pikiranku ingin istirahat saja, Akhir-Akhir ini Aku memang mudah capek.

__ADS_1


"Dinda, ganti bajunya dulu!" perintah pak Catur yang sudah membuka baju pengantinnya dan tinggal memakai kaos singlet saja.


"Sebentar lagi mas, aku capek sekali, rasanya perutku sedikit kram." keluhku pada pak Catur.


"Kram? sejak kapan?" tanya pak Catur langsung khawatir.


"Sejak sejam yang lalu mas, entahlah mungkin mau datang bulan." jawabku apa adanya.


"Sebentar, sebentar pernikahan kita sudah dua bulan sayang, dan terakir Dinda datang bulan pas kita menikah, berarti.... Aku panggilkan dokter sekarang," raut wajah pak Catur langsung berubah antara cemas, was-was dan senang, pak Catur segera memencet nomor dan melakukan panggilan" Sekarang Dinda jangan bergerak, biar mas yang bantu dinda untuk ganti baju, dinda berbaring saja," ucap Pak Catur membetulkan posisi baringku" Sayang jaga bunda, dan bertahan ya ayah akan selalu jaga kalian semua." lirih pak Catur lembut sambil membelai lembut perutku.


"Mas, berarti kemungkinan aku hamil?" tanyaku setengah tidak percaya, ya aku baru ingat setelah pak Catur membahas tadi tentang terakir aku datang bulan.


"Semoga sayang, sebentar lagi dokter datang, maaf sayang mas sudah teledor untuk yang kedua kalinya." air muka pak Catur berubah sedih dan dari matanya sudah keluar butiran kristal.


"Mas, Dinda tidak apa-apa mungkin hanya karena terlalu lama memakai sepatu hak tinggi makanya kakiku sakit dan perutku sedikit kram, mas jangan khawatir sebentar lagi juga sembuh." hiburku.


"Sekarang mas bantu Dinda ganti baju dulu, dokter baru sampai sekitar satu jam lagi, karena jalanan sedang macet, Dinda jangan banyak bergerak." perintah pak Catur padaku.


Aku nurut saja menuruti perintah pak Catur, dengan sabar dan telaten pak Catur menngganti baju pengantinku dengan gamis yang biasa aku pakai.


"Dokternya perempuan sayang, jadi tidak usah pakai kerudung tidak masalah." sahut pak Catur yang sudah merapikan bajuku.


"Mas aku mau ke toilet." ucapku dan aku bangun dari ranjang.


"Sebentar mas rapikan ini dulu." setelah merapikan bajuku pak Catur memapahku untuk pergi ke toilet.


"Mas kekuar saja, aku bisa kok mas." ucapku.


"Mas akan tunggu Dinda disini, mas tidak ingin Dinda celaka." ucap Pak Catur.


"Tapi mas!" protesku.

__ADS_1


"Mas sudah tahu semua sayang." jawab pak Catur enteng dan berdiri di sampingku terus memegangi tubuhku.


Akhirnya aku pasrah saja karena percuma berdebat dengan Pak Catur yang ada aku pasti kalah. Selesai dari kamar mandi pak Catur menuntunku kembali menuju ranjang. Pak Catur terus berada disampingku tidak melepaskan tangannya dari tubuhku, tangan pak Catur terus memeluk tubuhku dan juga sesekali membelai lembut perutku.


"Perutku sudah baikan kok mas, Dokternya gak usah kesini, suruh kembali saja." pintaku.


"Dokternya sudah memarkir mobilnya di parkiran hotel ini sayang, biar dokter memeriksa, mas ingin, Dinda dan Ananda selamat, mas tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, mas tidak ingin kehilangan lagi." terang pak Catur lembut namun seperti menyimpan sebuah penyesalan.


"Mas."


Tidak berapa lama pintu kamar hotel di ketuk, pak Catur segera membukakan pintu, dari balik pintu ada seorang dokter wanita serta mama, mbak Irma dan mbak Priska.


"Kenapa ton?" tanya mama cemas.


"Ya, Ton, Afifah sakit?" mbak Irma tak kalah cemas, begitu pula mbak Priska.


Seorang dokter wanita segera memeriksa tekanan darahku, dan juga memeriksa detak jantungku, serta memeriksa perutku.


"Selamat pak Catur, istri bapak sedang mengandung dan usia kandungannya sudah tujuh minggu." tutur dokter setelah memeriksaku.


"Alhamdulillah." pak Catur langsung mengucap syukur segera memelukmu dan menciumku haru.


"Alhamdulillah." mama, mbak Priska dan mbak Irma tak kalah terharu.


"Tadi perut istri saya kram dok, apa tidak berbahaya?" tanya pak Catur masig di selimut kecemasan.


"Untuk kandungan istri bapak cukup bagus dan kuat, cuma jangan sampai ibu kekelahan, tetap jaga pola makan serta perbanyak istirahat, ini saya kasih vitaminnya lebih baik segera diminum dan istirahat." nasehat dokter.


"Baik dok,terima kasih dok." sahut pak Catur bahagia.


"Terima kasih dok." Aku ikut mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


Pak Catur mengantar dokter kekuar dari kamar, mama memberi ucapan selamat dan juga memelukku tulus penuh kasih sayang.


"Terima kasih sayang, sudah menjadi cahaya di keluarga kami, sekarang mama tidak khawatir lagi tentang bubgsu mama." ucap mama menitikan air mata.


__ADS_2