
Setengah hari ini aku habiskan waktuku di panti asuhan, aku mengecek seluruh penghuni panti, anak-anak di panti asuhanku memang tidak banyak, hanya sekitar dua ratus anak, dua ratus anak itu mayoritas usia SD, hanya beberapa yang duduk di bangku sekolah atas, anak-anak panti asuhanku masih sekolah di sekolah umum sekitar, karena kami belum bisa membangun sekolahan sendiri. Untuk antar jemput sekolah panti susah memfasilitasi dengan adanya mobil antar jemput, bersyukur sekali banyak rekan kerja dari keluarga Cakra yang menjadi donatur tetap di panti yang aku kelola, selain suster di panti aku juga mempekerjakan satu dokter anak, selain dokter tetap juga ada dokter yang sedang magang, jadi untuk fasilitas kesehatan sudah cukup mumpuni.
Tidak semua anak yang terdaftar menjadi anak panti tidur di dalam panti, yang masih memiliki keluarga mereka tetap saya anjurkan untuk tetap tinggal bersama dengan keluarganya supaya tetap mendapat cinta dan kasih sayang yang cukup dari keluarga, biasanya pihak panti hanya membantu dalam hal biaya sekolah, selain itu pihak panti juga memberikan pengobatan gratis bagi seluruh penghuni panti maupun keluarganya. Jadi yang tinggal di panti hanya mereka yang benar-benar tidak memiliki keluarga sama sekali.
"Mbak Na, aku tinggal dulu ke panti singgah, maaf tidak bisa di sini terlalu lama, Inshaallah lusa saya ke sini soalnya masih mau menyiapkan bekal Afriana untuk balik pondok." pamitku pada mbak Inayah.
"Iya, Buk, nanti sore saya mau kerumah, ketemu dik Afri sudah lama tidak berjumpa dengan mbak Afri, kangen." ucap mbak Inayah.
"Silakan datang ke rumah mbak, mbak Na tolong pastikan bayi tadi harus ada yang jaga dua puluh empat jam." pesanku pada mbak Inayah.
"Baik, buk." jawab mbak Inayah.
Setelah aku berpamitan aku pergi meninggalkan panti asuhan, aku dan sopir ku menuju ke panti singgah para lansia, Sesampainya di panti singgah aku langsung mencari mbak Romlah, seperti info dari para suster lainnya aku segera menuju ke salah satu ruangan di mana mbak Romlah sedang melakukan pemeriksaan pada salah satu pasien yang sedang dalam keadaan kurang sehat.
"Assalamu'alaikum mbak Rom," sapaku begitu masuk ruangan.
"Wa'alaikum salam buk, alhamdulillah ibuk sudah datang, tadinya aku mau nelpon ibuk," jawab mbak Romlah tenang.
"Ada masalah mbak?" tanyaku
"Iya, Buk, mbah ini harus segera kita kirim ke rumah sakit buk, karena peralatan medis kita tidak memadai, Asma beliau kambuh." lapor mbak Romlah.
"Segera kirim ke rumah sakit jangan sampai telat," perintahku " Siapkan ambulan, aku akan ikut dengan ambulan," ucapku " Mbak tolong mbak pulang dulu dengan sopir dan tolong jaga Alifa, saya akan ke rumah sakit." perintahku pada suster.
"Baik buk," jawab susterku yang sudah hafal dengan kegiatanku.
"Buk, ambulan sudah siap, kita berangkat sekarang," perintah mbak Romlah.
__ADS_1
Aku mbak Romlah dan salah satu dokter panti ikut dalam mengantar seorang lansia yang berusia sekitar delapan puluhan tahun yang mengidap sakit Asma. Perjalanan kami menuju rumah sakit tidak ada kendala apapun, Sesampainya di rumah sakit aku dan mbak Romlah segera mendaftarkan pasien, dengan cekatan pasien segera di bawa ke IGD supaya segera mendapat perawatan.
Setelah mendapat perawatan hampir dua jam akhirnya pasien masih bisa tertolong, karena aku harus membelanjakan keperluan Afriana untuk bekal ke pondok aku segera pamit ke mbak Romlah, karena tadi Aku ikut naik ambulan maka aku pulang ke rumah dengan naik taxi, tidak butuh waktu lama aku sudah sampai di rumah, sesampainya di rumah aku segera mandi dan ganti baju sebelum aku memegang bayiku karena aku baru saja dari rumah sakit.
Af," seruku begitu melihat Afriana yang sedang bermain dengan adik-adiknya di taman.
"Ya buk," sahut Afriana.
"Ayo kita belanja keperluanmu," ajakku.
"Tadi mbak Rahma telpon katanya sudah di bekanjakan semua sama bupuh Priska," jawab Afriana.
"Kapan?" tanyaku "Kok bupuh gak telpon ibuk," ucapku.
"Kata bupuh, bupuh sudah telpon tadi, tapi ibuk tidak mengangkat." sahut Afriana.
Aku segera mengecek hp ku aku cek satu persatu chat yang masuk, memang benar ada panggilan dan pesan dan mbak Priska yang belum sempat aku aku baca, setelah membaca pesan dari mbak Priska aku segera menelpon balik ke mbak Priska, menang benar adanya untuk bekal Afriana dan Rahma mbak Priska sudah membelanjakannya, dan sudah di rata rapi sehingga besok tinggal berangkat saja. Selesai ngobrol dengan mbak priska aku kembali bergabung dengan anak-anakku.
"Assalamu'alaikum," Salam Mbak Inayah yang baru saja sampai.
"Wa'alaikum salam, mbak Na, ayo sini, " pintaku.
"Wa'alaikum salam buk Na," sahut Afriana.
"Mbak Afri bagaimana kabarnya, Buk Na kangen, tambah besar saja dan cantik," Puji mbak Inayah pada Afriana.
"Ih, Buk Na, Afri masih sama kok buk, kalau Afri tambah kecil namanya bukan pertumbuhan dong buk, namanya penyusutan," canda Afriana.
__ADS_1
Akhirnya kami bercengkerama, melepas kangen Afwa dan Afwi begitu tahu mbak Inayah datang mereka langsung berhamburan memeluk mbak Inayah. Mbak Inayah menyambut dengan senang hati.
"Mas Afwa mas Afwi, kangen ibuk gak ?" tanya pak Inayah pada Afwa dan Afwi yang berada dalam pelukan mbak Inayah.
"Buk Na, Buk Lom mana?" tanya Afwa.
"Iya, Buk Na, Buk Tom mana?" kini ganti Afwi yang bertanya.
"Buk Romnya sedang menjaga nenek," jawab mbak Inayah.
"Buk Na kok lama gak kesini sih?" tanya Afwi.
"Buk, Na lagi sibuk menjaga adik, sekarang buk Na punya banyak adik kecil di rumah, mas Afwa dan mas Afwi mau melihat adik gak?" tanya mbak Inayah pada si kembar.
"Mau-mau buk Na," sambut Afwa dan Afwi girang." Bunda boleh ya kita lihat adiknya buk Na," pinta Afwa dan Afwi.
"Nanti kalau pas longgar kita melihat adik kecilnya buk Na," jawabku.
"Adik kecilnya ada berapa buk Na?" tanya Afwa.
"Berapa ya ada banyak, adiknya," sahut mbak Inayah.
"Adiknya kok gak di ajak kesini sih buk Na?" tanya Afwi.
"Adiknya lagi tidur dan belum boleh di ajak kesini," sahut mbak Inayah lembut.
"Buk Na ayuk kita main." pinta Afwa dan Afri yang sudah menarik mbak Inayah untuk bermain bersama.
__ADS_1
Mbak Inayah langsung mengikuti arah kemanapun Afwa dan Afwi mengajaknya, mereka bermain, ayunan, prosotan dan juga bermain naik turun di sebuah tangga yang terbuat dari tali. Mereka bermain dengan bahagianya Afriana tidak ketinggalan dia juga ikut bergabung dengan adik-adiknya dan juga mbak Inayah.