TALAK

TALAK
Part 206 TALAK


__ADS_3

Afriana sangat kegirangan saat melihat kedua adiknya yang sedang tidur, dia mengajak adiknya ngoceh sedang kedua adiknya merespon dengan menggerakan anggota tubuhnya. Aku dan Pak Catur hanya geleng-geleng kepala.


"Af, nanti adiknya bangun jangan keras-keras bicaranya." ucapku lembut.


Afriana tertawa kecil " Buk boleh gendong adik?" pinta Afriana dengan senyum girangnya.


"Boleh tapi tunggu adik sudah agak besar ya, sekarang tulang adik masih belum kuat, jadi kak Afri, belum boleh gendong." bujukku lembut.


Afriana tidak membantah, Afriana anak yang manis dia sangat nurut sekali, Afriana dengan senang hati bermain dengan adiknya, aku melihat ekpresi Afriana seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Buk, ayah, adik di kasih nama siapa ya?" tanya Afriana polos.


"Kakak mau kasih nama ke adik gak?" tanya pak Catur yang sudah ikut berdiri di samping box bayi bersama Afriana.


"Bagaimana jika kasih nama Afwa dan Afwi saja, biar mirip dengan namaku Afriana." celoteh Afriana polos.


"Boleh, bagus juga, bagaimana bunda?" pak Catur mengusap kepala Afriana lbut seraya menoleh kearahku meminta persetujuanku.


Aku mengangguk tanda setuju, Menurutku nama yang di usulkan juga memiliki makna yang indah.


"Kak Afri tahu nggak arti dari nama adik?" tanyaku ingin ngetes Afriana.


"Kalau gak salah, artinya pemaaf dan penyayang." jawab Afriana sambil mikir.


"Pintar anak ayah." Puji pak Catur pada Afriana dengan senyum lembut.


Semakin hari hubungan keluargaku semakin harmonis, biar sudah ada dua jagoan kecil dalam pernikahanku dengan Pak Catur nyatanya pak Catur tetap menyayangi Afriana dulu malah bisa di katakan jika pak Catur semakin hari semakin sayang dengan Afriana.


Soal nama kami berdua tidak masalah walau kami sudah menyiapkan nama namun kami sepakat tetap menggunakan nama usulan dari Afriana, supaya Afriana tetap merasakan kasih sayang dari kita.

__ADS_1


Sepasaran, di kampungku saat kelahiran bayi banyak sekali adat istiadat yang kita lakukan, sepasaran yang artinya lima hari kelahiran dan biasanya di barengi dengan pupak puser dan pemberiam nama, dan jika ada rejeki langsung diadakan acara aqiqohan. Seperti sekarang semenjak aku lahiran rumahku selalu ramai karena kerabat dan tetangga datang untuk menjenguk bayiku, disamping keluargaku dan keluarga pak Catur, ada teman datang untuk membantu pelaksanaan acara sepasaran.


Acara masih seperti biasa di pagi hari diawali dengan khotmil Qur'an yang sudah menjadi tradisi di keluargaku, dan aku bersyukur pak Catur tidak keberatan dengan tradisi d keluargaku malah pak Catur dengan senang hati menyetujuinya bukan hanya khotmil Qur'an, menyantuni anak yatim piatu tetap menjadi priotitas kedua dalam keluarga kami, dan ternyata suamiku juga sudah menyediakan sumbangan untuk dibagikan ke fakir miskin.


Lantunan ayat suci Al qur'an sudah mulai melantun merdu sejak selesai sholat subuh, suara merdu suamiku mengawali khotmil Qur'an kali ini, ya suamiku sendiri yang melantunkan surat Alfatihah dan surat Albaqaraah sebagai pembuka. Suasana rumah semakin damai dengan alunan merdu dari para hafizd, dan lagi sanak saudara yang membantu pelaksanaan acara sepasaran membuat suasana semakin meriah. Untuk menu hidangan kami memilih jasa katering, supaya ringan karena undangannya banyak, dan dari segi tenaga warga di perumahan tidak seperti di kampung.


Rumahku sudah dihias sedemikian mewah, ya menurutku sangat mewah, walau mama dan suamiku mengatakan sederhana, ya itulah perbedaan pandangan secara sederahana antara orang kaya dan orang biasa seperti diriku.


Acara khotmil Qur'an berjalan lancar, setelah dhuhur acara di lanjutkan dengan acara menyantuni anak yatim piatu, untuk acara menyantuni fakir miskin sudah ada orang khusus yang di tugaskan oleh suamiku, supaya mereka membagikan langsung ke rumah orang yang di tuju, tidak luput tatanggaku juga ikut merasakan sedekah dari suamiku.


Acara inti dilaksanakan setelah sholat isya, pemberian nama dan pembacaan sholawat alberjhanji dengan mengundang santri dari bupuh Nyai dan Mbah Yai, tempat mengajiku dulu, dan tentunya tetap mengundang jamaah masjid perumahan juga, untuk mempererat tali silaturokhim, karena kami di perumahan sebagai pendatang baru dan tidak begitu kenal dengan warga perumahan.


Mbah Yai yang memimpin doa serta memotong rambut kedua jagoanku sebagai simbol, sebelum dipotong rambutnya kedua bayiku digendong oleh suamiku dan papa di bawa keliling memutari para jamaah yang hadir. Alhamdulillah acara berjalan lancar kedua bayiku juga tidak rewel.


Aku ditemani oleh mbak Priska, mbak Rani, Nina, duduk di kamar, sedangkan keluargaku sudah sibuk dengan sendirinya membantu kelancaran acara. Setelah selesai pemberian nama kedua bayiku di bawa masuk kamar lagi oleh pak Catur dan Papa.


"Mbak Pris tolong tungguin istri dan anakku dulu, aku mau keluar sebentar." pesan pak Catur pada mbak Priska sebelum keluar.


"Tenang saja Ton, sudah kamu cepetan kesana." usir mbak Priska sambil menggendong anakku yang no dua.


"Ya Allah, Fah, mirip banget!" seru mbak Priska, walau sudah beberapa kali melihat anakku mbak Priska tetap kagum pada kedua anakku "Yang ini namanya siapa?" tanya mbak Priska.


"Afwi, bupuh." jawabku sambil me yudi Afwa, ya anakku yang pertama bernama Afwa Sholahudin Cakra dan yang kedua Afwi Sholahudin Cakra.


"Bagus sekali mbak namanya?" tanya Nina sambil ikut menimang Afwi.


"Alhamdulillah, Afwa dan Afwi itu Afri yang kasih nama, katanya biar serasi dengan Afri." jelasku jujur.


"Huh, capek sekali." keluh mbak Irma yang baru masuk ke kamarku.

__ADS_1


"Istirahat dulu mbak." ucapku lembut sambil menyusui Afwa.


"Tapi seru Fah, sudah lama tidak ke acara kaya gini." ucap mbak Irma ikut duduk di samping mbak Priska.


"Ya dulu waktunya lahiran Rahma, Akita juga baru tiga bulan." seloroh mbak Priska.


"Pris, gantian biar aku gendong." pinta mbak Irma.


"Nanti, aku mau gendong dulu." tolak mbak Priska.


"Jangan pelit-pelit to Pris, kamu kan dekat bisa sering ke sini." serbah mbak Irma.


"Mbak Irma juga boleh kok kesini terus." Mbak perisja tetap tidak memberikan Afwa pada mbak Irma.


"Kalau aku sering ke sini, siapa yang gaji kamu, sini biar aku yang gendong." Mbak Irma tetap memaksa


"Mbak Ir, Afwa sudah sekesai nyusunya, mbak boleh gendong." ucapku pada mbak Priska.


"Yeah, aku dapat." mbak Irma langsung girang seperti dapat mainan.


Mbak Irma dan mbak Priska benar-benar konyol walau bukan saudara kandung mereka akrab seperti saudara kandung saja.


"Barakaallah keponakan bupuh yang ganteng." Puji mbak Irma pada Afwa.


"Mbak Pris, sekarang waktunya Afwi nyusu, tolong bawa ke sini." Aku meminta mbak Priska untuk membawa Afwi ke aku.


"Afwi ganteng, nyusu yang banyak biar kuat, dan habiskan biar ayahmu tidak kebagian." cerocos mbak Priska sambil menyerahkan Afwi padaku.


Aku hanya senyum-senyum saja mendengar ucapan mbak Priska yang ngelantur. Mbak Priska dengan telaten tetap berada di sampingku, sedang mbak Irma sudah duduk di sofa sambil gendong Afwa dan bermain dengan Afwa.

__ADS_1


__ADS_2