TALAK

TALAK
Part 260 TALAK.


__ADS_3

Hidup di kampung itu memang sangat menyenangkan, seperti sekarang disaat kami sedang enak-enak bersantai tiba-tiba ada tetangga yang memberi satu kresek buah mangga ada yang sudah matang dan ada yang masih setengah matang, dan mangganya ada dua jenis, mangga gadung dan mangga manalagi. Begitu orang yang ngantar mangga pulang mbak Yah dan Fauzan segera membuka dan menghitung untuk membutuhkan ucapan tetangga, tadi.


"Berapa?" tanyaku.


"Gadungnya sepuluh buah, lima matang yang lima masih setengah matang," jawab Fauzan.


"La itu berapa Yah?" tanya ibukku pada mbak Yah.


"Sama buk," jawab mbak Yah.


Tidak lama kemudian mobil pak Catur memasuki halaman rumah orang tuaku, mbak Yah, Afwa dan Afwi langsung menengok keluar, dari dalam mobil keluar Afriana, Zahra mas Jamal dan terakir pak Catur, mbak Yah segera menghampiri Zahra, kami semua pindah di rumah orang tuaku, karena mereka berempat menuju rumah orang tuaku.


"Capek." keluh Zahra langsung duduk di sofa ruang tamu orang tuaku.


"Mandi dulu Zah, biar cepet ilang capeknya." nasehat mbak Yah.


"Sebentar buk masih keringetan," jawab Zahra malas.


"Bagaimana kabarnya mbak Zahra," sapaku pada Zahra.


"Bulek, alhamdulillah baik bulek," jawab Zahra sopan dan langsung bersalaman denganku.


"Syukurlah, kamu sudah makan?" tanyaku.


"Sudah bulek tadi di sekolahan, makan bekal dari ran tadi bersama teman-teman," jawab Afriana masih lesu.


"Buk, nanti mbak Zahra nginep di rumah mbah, aku juga mau nginep di rumah mbah, boleh?" tanya Afriana padaku.


"Pamit ayah dulu, kalau ayah ngijinin ibuk juga ngijinin," tuturku.

__ADS_1


"Baik, nanti tak minta ijin ayah." sahut Afriana girang.


Afriana sudah paham dengan sistem didikan yang kami berikan, antara aku dan Pak Catur kita sejalan dalam metode mendidik anak, sampai hari ini Afriana sangat hormat dengan Pak Catur walau Afriana tahu jika pak Catur bukan ayah kandungnya, namun antara Afriana dan Pak Catur saling menyayangi sudah seperti anak kandung. Sore kami benar-benar ramai di rumah orang tuaku tadinya aku dan keluargaku akan pulang di jam empat sore namun nyatanya anak-anak tidak mau diajak pulang, dia sangat asyik bermain dengan anak-anak tetangga dan juga anaknya Nafisa.


Pak Catur dia sudah membaur dengan bapakku, mas Jamal dan Fauzan entah apa yang dibahas mereka di pekarangan belakang rumah. Pekarangan belakang rumah di bawah pohon asem menjadi tempat favorit bagi mereka, tempatnya sejuk dan teduh karena pohon asemnya yang sudah sangat besar sehingga sangat rindang.


Sore ini ibukku, mbak Yah dan Nafisa memasak lagi untuk hidangan makan malam, mereka memasak menu yang amat sangat sederhana, goreng ikan asin dan urap, namun kali ini tidak memasak daun pepaya namun urap kunci, lamtoro muda, daun beluntas semua di campur jadi satu.


"Buk, ayah di mana?" tanya Afriana padaku.


"Ayah di pekarangan belakang, di bawah pohon asem sama mbah Kung, pak puh dan pak lek," jelasku.


"Terima kasih buk." Afriana langsung pergi meninggalkanku yang berada di dapur.


"Bersyukur Afriana berada dalam asuhanmu Fah," ucap mbak Yah.


"Alhamdulillah, mbak," sahutku.


"Buk, aku sudah ijin ayah, ayah membolehkan aku untuk nginep di sini," lapor Afriana girang.


"Baiklah." sahutku, sebelum Afriana minta ijin ke pak Catur aku sudah menyampaikan niat Afriana pada pak Catur. Biarpun Afriana bukan anak kandung pak Catur aku dan Pak Catur memperlakukan Afriana sama dengan adik-adiknya, jadi semua keputusan aku serahkan pada pak Catur hasil berinding bersama.


Setelah selesai berjamaah sholat magrib semua sudah berkumpul di ruang tengah rumah orang tuaku, kami semua menikmati hidangan yang disediakan oleh orang tuaku, disaat kami sedang menikmati hidangan makan malam dari luar kami mendengar deru mobil berhenti di halaman rumah orang tuaku, ya kami sudah hafal tentang deru mobil tersebut.


"Mbak Us kayanya jadi datang," ucapku.


"Tadi katanya gak bisa datang," sahut mbak Yah.


"Assalamu'alaikum."suara mbak Us dan beserta anak dan suaminya memberi Salam.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam." sahut kami semua secara serempak.


"Masuk." sambut kami semua.


Anak-anak langsung girang mereka berhamburan menyambut kehadiran keluarga mbak Us.


"Katanya sibuk!" celetuk mas Jamal.


"Kejutan dong, masa keponakan datang gak hadir, aku ya iri masa aku ketinggalan terus." sahut mbak Us cuek.


"Gitu dong mbak Us, kan rame, jarang-jarang bisa ngumpul kaya gini," celetuk Fauzan.


"Rumahmu angkat saja di sini mbak," celetukku.


"Kamu pikir keong." sahut mas Sapta.


Kami saling sapa dan saling bersalaman satu sama lain, tadinya aku dan keluargaku mau pulang kini kami urungkan, gelak tawa, riuh anak-anak melengkapi kebersamaan kami.


"Ini aku bawakan bebek asap, enak banget," ucap mbak Us sambil menyerahkan sekresek putih di atas tikar.


"Alhamdulillah, kayanya enak banget, bajunya harum sekali." celetuk pak Catur.


"Buk, Pak ini enak sekali," ucap mbak Us.


Setelah semua sudah kembali duduk dengan tenang mbak Us segera membuka tas kresek tersebut dua besek bebek asap telah tertata rapi karena sudah di potong kecil-kecil, warnanya sangat bagus sekali coklat dan mengkilat, dari warna dan baunya suda sangat menggoda, namun entah dengan rasanya. Mbak Us segera mengambilkan bebek asap untuk bapak dan ibuk dulu sebelum yang lain ambil.


"Enak Us, gurih dan renyah kulitnya," celetuk bapak yang baru mencoba bebek asap tersebut.


"Iyo e, Us, ueanaak, warnanya bagus rasanya juga gurih, dimana kamu beli?" tanya ibukku.

__ADS_1


"Syukurlah kalau bapak dan ibuk suka, ini tadi beli di rumah makan di kotaku, restaurant yang baru buka sus bukan yang lalu, semua menu makanannya khas makanan cina," terang mbak Us panjang lebar.


__ADS_2