
Mobil yang kami tumpangi sampai di kantor jam dua lebih tiga puluh menit. Namun begitu sampai di kantor pak Catur tidak ikut turun yang turun dari mobil cuma aku dan bu Priska. Aku juga tidak tanya mau kemana, toh hari ini tidak ada jadwal spesial dan Pak Catur juga seorang pimpinan jadi ya terserah dia, aku dan bu Priska menuju ruangan kita masing-masing.
Hari ini terasa cepat, entah karena aku sudah lega tentang kasus perceraianku yang sudah selesai atau karena jam setengah tiga baru masuk kantor sedang jam empat sore jam kantor sudah selesai.
Jam empat pas aku sudah menutup laptop dan merapikan meja kerjaku, aku Tata kembali berkas yang sudah aku kerjakan besok tinggal menyerahkan pada pak Catur.
"Mbak ikut saya!" perintah pak Catur dan ternyata sudah berada di depan meja kerjaku.
"Kemana pak?" tanyaku penasaran.
"Pulang, aku antar kamu pulang." jawab pak Catur santai.
"Pulang? Maaf pak bukannya bapak sebentar lagi mau lamaran, alangkah baiknya bapak jangan ngantar saya pulang, tidak baik, apalagi jika sampai terdengar oleh calon istri bapak." tolakku sopan.
"Calon istriku ada di depanku sekarang, " ucap Pak Catur langsung serius " Ternyata tidak mudah bagi mbak untuk bisa memahami." ucap Pak Catur.
"Saya harap bapak jangan bercanda yang aneh-aneh, sekarang yang ada di hadapan bapak itu cuma saya, pak." tegasku.
"Memang, sudah ayo aku antar kamu pulang, aku harap mulai sekarang jangan singgung lagi tentang siapa calon istriku, bila waktunya tiba kamu juga tahu!" perintah pak Catur.
"Saya naik ijek saja pak." ucapku sopan.
"Apa perlu aku potong gajimu, supaya kamu mau aku antarkan pulang." ucap Pak Catur lagi.
__ADS_1
"Baiklah, terserah bapak."
Akhirnya aku mengalah, aku dapat melihat pak Catur melangkah dengan senyum senang, ketika lewat lobi, keadaan kantor sudah sepi karena sudah pada pulang, aku ikuti langkah pak Catur menuju parkiran mobil tempat mobil pak Catur terparkir.
"Kenapa mbak kelihatannya kurang suka saya antar?" tanya pak Catur padaku karena wajahku sedikit kesal.
"Enggak kok, pak saya berterima kasih pada bapak karena bapak mau mengantar saya." ucapku.
"Sebenarnya aku itu mau ngambil oseng kembang kates dari ibukmu mbak makanya aku sekalian aku antar kamu, tadi Aku juga sudah ijin sama bapakmu, jadi tenang saja mbak." ucap Pak Catur santai.
"Apa?" tanyaku langsung terkejut"Kapan bapak pesan kembang kates pada ibukku?" tanyaku penasaran.
"Tadi dari rumah joglo, aku kerumah tuamu, aku kangen sama Afri ya sudah aku ke sana sendirian saja, sekalian ada hal penting yang aku bicarakan sama bapak." ucap Pak Catur.
Salama perjalanan pulang akhirnya aku memilih diam tidak lagi tanya atau berbicara, pikiranku berkelana sendiri pura-Pura memejamkan mata agar tidak di ajak Bicara oleh pak Catur.
Mobil pak Catur sudah belok ke arah rumahku dan orang tuaku, ketika aku turun pak Catur juga ikut turun, ternyata ibukku yang menyambut kedatangan kami berdua.
"Assalamu'alaikum buk," Aku mengucap Salam.
"Assalamu'alaikum buk." Pak Catur juga mengucap Salam.
"Wa'alaikum salam, masuk dulu le, ayo Fah!" perintah ibukku.
__ADS_1
Seperti biasa pak Catur selalu hormat pada kedua orang tuaku jika bertamu kerumah orang tuaku pak Catur selalu bersalaman dan menciumi tangan orang tuaku seperti yang aku lakukan.
Mendengar uacapan ibukku aku hanya bisa mengerutkan dahiku, sejak kapan ibukku memanggil pak Catur dengan sebutan le biasanya juga panggil pak.
"Bapak kemana buk?" tanya pak Catur pada ibukku,.
Kami bertiga sudah duduk di ruang tamu.
"Bapak ke sawah, nanti sebentar lagi pulang katanya tadi habis magrip baru musyawarah." ucap ibukku.
"Iya, buk tapi sekalian ngantar mbak Afifah, jadi saya tunggu saja di sini." ucap Pak Catur.
"Kalau begitu saya tinggal dulu pak, msu mandi!" pamitku
"Silahkan mbak." ucap Pak Catur ramah.
Aku menuju rumahku sendiri dengan perasaan tidak menentu, entahlah kedatangan pak Catur kali ini seperti ada sesuatu yang di rahasiakan dariku.
Selesai membersihkan diri dan sholat aku kembali ke rumah ibukku, aku lewat belakang jadi langsung pintu dapur karena lapar aku menuju ke meja makan tanpa menghiraukan kehadiran pak Catur, toh yang di cari pak Catur bukan aku tapi bapakku.
Aku buka lemari makanan, betapa terkejutnya aku di dalam lemari ada makanan sama persis dengan yang di pesan oleh pak Catur di rumah makan joglo tadi.
Walau masih dengan perasaan tidak percaya aku tetap makan namun aku memilih oseng kembang kates, berarti benar kata pak Catur tentang oseng kembang kates.
__ADS_1