TALAK

TALAK
Part 141 TALAK


__ADS_3

[Mbak Fah, besok jangan masuk kantor langsung ke rumah mbak Priska, mama sudah kangen] pak Catur.


Pagi-pagi aku membaca chat dari pak Catur hanya bisa geleng-geleng kepala.


[Baik, Pak] aku.


"Af, sudah siap apa belum, ayo kita berangkat!" seruku pada Afriana " Mas Jamal makanan untuk sarapan dan makan siang sudah aku siapkan, seperti biasa." ucapku pada mas Jamal yang sedang menikmati kopi di depan TV.


"Ya." sahut mas Jamal sambil menyeruput kopi.


"Sudah siap buk, pakpuh aku berangkat." pamit Afriana dan tidak lupa bersalaman dengan mas Jamal.


"Barakaallah, hati-hati." ucap mas Jamal.


"Assalamu'alaikum." pamitku dan Afriana.


"Wa'alaikum salam." jawab mas Jamal.


Aku antar Afriana ke sekolahannya dulu sebelum aku melajukan sepeda motorku menuju rumah bu Priska. Biarpun aku tidak diperbolehkan masuk kantor, namun karena masih jam kerja kantor maka aku tetap berangkat seperti biasa.


Begitu sampai di depan gerbang rumah bu Priska aku langsung memencet bel pagar rumah bu Priska, tidak begitu lama pintu gerbang terbuka, dan ternyata yang membukakan pintu gerbang pak Catur sendiri, bahkan pak Catur masih memakai kaos oblong dan celana pendek ala baju santai rumahan.


"Pagi, Pak." sapaku pada pak Catur begitu turun dari motor dan melepas serta menaruh helm di motorku.


"Pagi bu Catur," Pak Catur menjawab dengan senyum jahilnya " Silakan masuk bu Catur, sekarang ibu sudah di tunggu oleh bunda permaisuri Cakra." ucap Pak Catur masih dengan kejahilannya.


"Gak, enak di dengar orang pak pak, tolong pak seperti biasa saja bisa nggak sih!" pintaku sedikit sebal.

__ADS_1


"Nggak bisa, lagian ini juga bukan di kantor, di rumah juga cuma kita berdua, mama, bunda, mbak Priska, mak, dan mbak rewang e mbak Priska lagi ke pasar besar belanja, kakung, papa dan mas Anam habis ngantar Rahma langsung ke bengkel." jelas pak Catur yang sudah duduk di sofa.


"Jadi!" seruku.


"Jadi kenapa, jadi kita harus nunggu mereka pulang kata mbak Priska sejam lagi juga susah pulang." jelas pak Catur.


"Mbak Irma?" tanyaku.


"Ada di kamar atas, sedang ngecek kerjaan." jawab pak Catur.


"Huh berarti kita gak berdua dong." ucapku.


"Sekarang di sini kan memang cuma kita berdua saja." ucap Pak Catur masih tetap pada pendiriannya.


"Terus aku kesini di suruh ngapain, pak?" tanyaku.


Aku tidak menjawab aku hanya senyum nyengir karena memang aku sendiri belum terpikirkan tentang panggilan kusus buat pak Catur.


"Kalau di kantor, bisa seperti biasa tapu jika sudah tidak di kantor, ya jangan terlalu formal, sayang mungkin atau ehm.... !" ucapan pak Catur terhenti.


"Untuk saat ini jujur saya belum tahu harus manggil bapak bagaimana, saya harap bapak memaklumi!" pintaku penuh permohonan.


"Baiklah, namun jika di luar kantor dan tidak dalam urusan kantor, aku tidak lagi memanggilmu, mbak, namun mulai saat ini aku akan memanggil mu, dinda sayang." ucap Pak Catur dengan senyum yang mengembang indah.


"Tapi kita kan belum menikah pak." jawabku.


"Latihan, biar luwes." jawab pak Catur santai.

__ADS_1


"Oh.... baiklah, kalau dinda berarti pasangannnya kanda atau kang mas, kira-kira mau yang mana ?" akhirnya aku memberi pilihan pada pak Catur.


"Kang mas saja, ya aku suka dengan panggilan kang mas, tapi jangan sampai salah ucap nanti malah jadi ikan emas." gurau pak Catur.


Kami berdua akhirnya tertawa bersama -sama "Bapak gak ke kantor hari ini?" tanyaku pada pak Catur.


"K-a-n-g m-a-s." ucap Pak Catur penuh penekanan.


"Oh... I.. iya, lupa kang... mas." ucapku terbata-bata.


"Agak siang aku akan ke kantor soalnya ada hal yang ingin kita bicarakan bersama, hari ini mama menyuruh kita untuk memilih baju pengantin kita, dan juga di suruh milih konsepnya seperti apa, jadi kita tunggu mama pulang, dan juga untuk peningset." jelas pak Catur.


"Oh... Apa kita gak sebaiknya bikin yang sederhana saja, m... mas." ucapku sedikit kaku ketika mengucap kata mas, padahal biasanya dengan mas Jamal biasa saja.


"Sebenarnya cukup sederhana, karena kang mas hanya akan mengundang seluruh karyawan pabrik cabang dan para penggemarku, dinda tenang saja aku hanya ingin berbagi rejeki bersama mereka, jadi para tamu undangan cukup datang memberi doa restu, akan kang mas siapkan menu special dan souvenir special, sebagai bentuk rasa syukur kang mas karena telah di pertemuan dengan bidadari, dari kota Madiun." jelas pak Catur.


"Kalau di tempat dinda, hanya ada akad nikah saja di rumah, dan tidak ada pesta, apa ehm... ehm... kang mas tetap bersedia menikah dengan saya." ucapku.


"Yang penting kita sah menjadi suami istri, itu yang kang mas harapkan selama ini." ucap Pak Catur bersunguh-sungguh.


"Nah, gitu kan manis." seloroh mbak Irma dari atas tangga dan menghampiri kita berdua.


Tanpa kita sadar ternyata mbak Irma mendengarkan pembicaraan kami berdua.


"Mbak Ir." sapaku ramah, aku langsung berdiri dan menyalami mbak Irma.


"Terima kasih, Fah, oh ya ini ada kiriman foto dan contoh desain baju pengantin dari butik langganan mama, kalian pilih dulu, aku mau lanjutin kerja." perintah mbak Irma dan menyerahkan ipadnya padaku " Aku tinggal dulu sebentar may ke WC, nanti balik lagi kesini." ucap bu Priska langsung menuju WC yang ada di lantai bawah.

__ADS_1


__ADS_2