
Pak Catur pulang kerja agak telat, sehingga jam sembilan malam baru sampai rumah, Afriana setelah minum obat dia juga langsung tidur tadi di jam delapan sedangkan si kembar juga sudah tidur di jam setengah sembilan, begitu suara mobil pak Catur terdengar aku segera beranjak dari sofa segera menuju pintu utama untuk menyambut kedatangan pak Catur.
"Assalamu'alaikum." sapa pak Catur begitu masuk rumah.
"Wa'alaikum salam, ayah." aku menjawab salam pak Catur, aku bawakan tasnya dan tidak lupa mencium tangan pak Catur dengan ta'dzim.
"Anak-anak bagaimana?" tanya pak Catur.
"Alhamdulillah, semuanya baik-baik saja, cuma si kembar semakin aktif, sekarang dia mulai tidak mau minun Asi, setiap kali aku susui baru beberapa sedotan dua sudah tidak mau, bahkan tadi sampai dia gigit, mungkin karena rasanya tidak enak tapi pingin minum susu," jelasku sambil berjalan menuju kamar kami.
"Si kembar tahu jika ada adiknya di dalam sana." jawab pak Catur enteng.
"Bagaimana dengan Afri?" tanya pak Catur lagi
"Alhamdulillah sudah baikan setelah minum obat tadi
"Ayah, mandi dulu aku sispin." ujarku sambil menuju kamar mandi.
"Terima kasih, bunda, bunda istirahat saja biar ayah lakukan sendiri," tolak pak Catur halus.
"Tapi?" protesku
"Tidak ada tapi-tapi-an, sekarang bunda duduk di sini istirahat, tunggu ayah, sebentar ayah mandi dulu." ucap Pak Catur.
Pak Catur menuntunku untuk duduk di atas ranjang, aku sebenarnya tidak enak juga apa lagi beberapa hari ini anak dalam kandunganku sudah bisa mengerjai ayahnya jika malam tiba, sehingga waktu istirahat pak Catur jika malam pasti berkurang. Lima belas menit berlalu aku tetap duduk di ranjang menanti pak Catur yang sedang mandi, tidak lama kemudian pak Catur sudah keluar dari kamar mandi. Pak Catur memakai baju tidur seoerti biasa dengan celana pendek dan kaos oblong tanpa lengan.
__ADS_1
"Ayah, mau makan sekarang?" tanyaku.
"Tadi, ayah sudah makan di kantor," jawab pak Catur sambil nengeringkan rambut dengan handuk di tangannya.
"Ayah capek?"
"Tadi capek, tapi sekarang rasa capekku hilang, setelah aku melihat bunda dan anak-anak dalam keadaan baik-baik saja, apalagi bunda tambah cantik saja," ucap Pak Catur yang sudah berbaring di atas kasur di sebelahku dengan senyum khasnya " Kenapa ?" tanyanya.
"Tanya saja." ucapku.
"Ayah ingat, bunda pasti penasaran dengan telponku tadi pagi kan ?" tebak pak Catur "Inshaallah, ayah akan selalu ingat dengan janji ayah."
"Sebenarnya siapa yang sakit Yah, tadi siang Aku telpon mama, mereka semua baik-baik saja." ucapku.
"Sebelumnya ayah minta maaf, ayah harap bunda tidak marah pada ayah." ucap Pak Catur susah duduk bersandar di kepala ranjang.
"Beberapa waktu yang lalu ayah bersama bapak mendatangi keluarga Ringgo bapaknya Afri, maaf ayah tidak minta ijin ke bunda dulu karena waktu itu bunda dalam keadaan hamil, ayah secara tidak sengaja mendengar percakapan mas Jamal dengan bapak tentang keadaan Ringgo." ucap Pak Catur
"Apa?Lalu?" tanyaku terkejut dan juga aku tidak paham akan jalan pikiran pak Catur.
"Apa bunda benar-benar mau dengar? ayah harap bunda tidak marah pada ayah maupun bapak" ucap pak Catur meyakinkanku.
"Inshaallah, Dinda akan mendengarkan, inshaallah Dinda sudah ikhlas dengan semua yang terjadi." ucapku meyakinkan.
"Apapun yang ayah lakukan demi kebaikan kita semua terutama untuk Afriana bagaimanapun ada darah Ringgo di dalam tubuh Afriana, ayah tidak ingin Afriana berkecil hati karena memiliki ayah yang mengalami gangguan jiwa, ayah ingin keluarga kita bahagia, karena kebahagiaan Afriana kebagianku juga," jelas pak Catur " Ayah akan ceritakan semua jika bunda tidak marah pada ayah, tapi jika bunda marah pada ayah, maaf." ucap Pak Catur bijak.
__ADS_1
"Apa pantas bunda marah pada ayah, mungkin sedikit kecewa itu iya, kenapa ayah tidak cerita dari awal, walau Dinda yakin ayah melakuakannya pasti ada alasan yang kuat" ungkap aku sedikit kesal.
"Sekali lagi ayah minta maaf, ayah benar-benar minta maaf." ucap Pak Catur lagi bersungguh-sungguh.
"Bunda paham, tolong ceritakan ke bunda, bunda ingin tahu dan kenapa ayah begitu baik pada mas Ringgo padahal dulu mas Ringgo pernah berbuat tidak baik pada ayah?" tanyaku semakin penasaran karena pak Catur masih mengulur waktu untuk bercerita.
"Kenapa? Pertama karena Afriana, kedua kalau bukan karena keceroboham Ringgo, ayah tidak mungkin bisa mendapatkan bunda dan Afriana." jelas pak Catur sedikit bergurau untuk mencairknan suasana karena sebenarnya hatiku mulai sedikit kacau dengan penjelasan pak Catur.
"Sekarang ayah tanya sekali lagi, apa bunda ikhlas untuk memaafkan ayah?" tanya pak Catur penuh penekanan.
Aku mengangguk, " Ikhlas ayah."ucspkh.
"Benar ikhlas?" tanya pak Catur lagi seperti kurang percaya padaku.
"Ikhlas ayah." jawabku lagi.
"Sebentar aku lihat wajah bunda benar-benar ikhlas apa tidak?" goda pak Catur dengan wajah yang menggemaskannya.
"Ya Allah ayah bunda ikhlas." jawabku sudah kembali senyum seperti biasa.
"Nah, gitu dong, baru kelihatan ikhlasnya!" goda pak Catur lagi membuatku semakin gemas.
"Kalau ayah gak cerita, bunda ngambek beneran nih." ucapku pura-pura ngambek.
"Baik bundaku sayang, tapi peluk dulu ayah." pinta pak Catur.
__ADS_1
Suamiku memang paling pintar dalam hal rayu-merayuku, sehingga membuatku mudah luluh dengan sikap dan ucapannya, supaya suamiku mau menceritakan aku turuti permintaannya, langsung aku peluk suamiku, berada dalam pelukan suamiku memang tempat paling nyaman selama ini, semarah apapun aku akan luluh bila sudah berada dalam pelukannya begitu pula pak Catur juga begitu, semarah dia jika sudah aku peluk, marahnya langsung reda.