
"Mas, mau makan?" tanyaku pada pak Catur. Sekarang aku sedang makan nasi goreng yang tadi di masak oleh mbak Yah.
"Kelihatannya sedap nasinya baunya harum ," puji pak Catur yang sudah duduk di kursi meja makan yang ada di rumahku.
"Enak banget mas, tadi mbak Yah dan mbak Us yang masak," ucapku sambil menyuapi makan pak Catur.
"Pas di lidah," Puji Pak Catur senang" Tadi Dinda tidak melakukan hal-hal yang bahaya kan?" tanya pak Catur cemas, suamiku benar-benar over sekali jika sudah menyangkut aku dan anakku.
"Ya enggak Mas tadi cuma bantuin ibuk bungkusi jajan sambil nonton TV itupun gak sampai selesai pinggangku sudah pegal ibuk menyuruhku berhenti, entahlah mas Dinda sekarang mudah sekali capek, tadi sehari aku sudah makan berkali-kali, mas, tapi sekarang sudah lapar lagi," keluhku.
"Besok mas kirim seorang suster untuk menjaga Dinda dan anak kita sayang," ucap Pak Catur lembut sambil makan.
"Mas, jangan terlalu berlebihan seperti ini, gak baik, inshaallah Dinda dan anak kita baik-baik saja" nasehatku.
"Mas hanya khawatir dengan Dinda dan anak kita, Sayang, Mas tidak ingin peristiwa yang lalu terulang kembali, mas masih takut, tolong turuti permintaan Mas!"
"Tapi mas ini sangat berlebihan, buat Dinda," protesku lembut agar tidak menyingung hati suamiku, aku memang benar-benar tidak nyaman jika ada seorang pengawal yang selalu mengawasiku.
"Sekalipun Dinda menolak mas tetap akan membayar suster untuk menjaga Dinda dan anak kita, kita bahas besok saja mas sudah capek, mas mau istirahat," Pak Catur bangkit dari duduknya meninggalkan aku yang masih duduk di kursi meja makan.
Aku tahu dari raut muka pak Catur memancarkan ketidaksukaan atas penolakanku, aku habiskan dulu nasiku yang tinggal dua sendok, bukan aku tidak peduli dengan suamiku namun sayang jika tidak aku habiskan pagi buta pasti aku sudah lapar. Tanpa mencuci piring bekas makanku aku segera sikat gigi dan menyusul suamiku yang sudah berbaring di atas kasur.
"Mas, maaf," cicitku aku ikut berbaring dan memeluk tubuh pak Catur.
"Sudah Sayang, istirahatlah sudah malam," ucap Pak Catur lembut sudah tidak merajuk lagi.
"Habis maem gak bisa tidur mas tunggu sejam lagi, mas tidur saja dulu," cicitku.
__ADS_1
"Mana mungkin Mas bisa tidur jika istri dan anak Mas belum tidur, habis makan nggak baik jika langsung berbaring," ucap Pak Catur langsung duduk bersandar di ranjang.
"Mas, sebenarnya aku itu tidak enak jika harus ada orang yang selalu mengawasiku," cicitku lagi yang sudah bersandar di bahu suamiku.
"Kita bahas besok saja ya sayang, sekarang istirahat dulu, sudah malam,"
"Mas," manjaku.
"Mau minta?" goda pak Catur.
"Bukan," jawabku semakin manja.
"La terus apa dong?" tanya pak Catur.
"Bagaimana kerjaan mas hari ini?" tanyaku.
"Apa perlu Dinda ikut ke kantor," godaku
"Dinda cukup di rumah saja, menanti mas pulang," ucap Pak Catur.
Setelah satu jam bersandar, bercengkerama aku dan Pak Catur membaringkan tubuh di atas kasur, semenjak menikah sampai sekarang pak Catur jika tidur selalu memelukku. Selama ini Aku benar-benar nyaman ketika berada di dalam pelukan pak Catur. Pagi ini aku dan Pak Catur bangun kesiangan mungkin karena semalam tidur terlalu larut, sehingga adzan subuh sampai terdengar. Aku dan pak Catur baru bangun ketika mendengar suara gaduh dari rumah orang tuaku. Aku menggeliat pelan-pelan aku membuka mata aku lihat suamiku masih terlelap dalam mimpinya, aku melihat ke arah jam yang menenpel di tembok.
"Astaqfirullah hal'adzim," Aku sangat terkejut karena jam sudah menunjukan pukul lima lebih lima belas menit "Mas, Mas bangun mas kita kesiangan!" seruku sambil menggoyangakan tubuh pak Catur.
"Jam berapa sayang?" tanya pak Catur masih dengan suara beratnya.
"Jam lima lebih seperempat mas!" sahutku.
__ADS_1
"Astaqfirullah hal'adzim!" seru pak Catur, pak Catur langsung bangun dan segera menuju kamar mandi, aku membuka kunci pintu rumah supaya Afriana bisa masuk karena biasanya Afriana akan maduk rumah jam setengah enam pagi, setelah pak Catur selesai wudhu ganti aku yang wudhu, kami berdua segera melaksakan sholat subuh, akhirnya kami hanya melaksanakan sholat subuh tanpa melaksanakan sholat sunah.
Afriana memanggil-manggilku dan juga pak Catur untung saja kami berdua sudah selesai sholat, aku segera menemui Afriana yang sudah siap-siap untuk mandi.
"Ayah, nanti nganterin Afri lagi kan?" tanya Afriana sebelum masuk ke kamar mandi.
"Iya sayang, tentu ayah antar, sekarang Afri mandi dulu, dan segera siap-siap," ucap Pak Catur yang berdiri di pintu kamar.
"Mbak, Fah, Mas, sarapannya sudah siap!" seru Nafisa yang baru masuk ke rumahku.
"Ya Naf, nunggu Afri dulu," sahutku sambil menata tas Afriana.
"Tumben belum mandi mas?" tanya Nafisa tanpa dosa.
"Kesiangan Naf," sahut pak Catur enteng.
"Makanya mas jangan dilembur saja, kasihan mbak Fah, dan debaynya," celetuk Nafisa tanpa dosa.
"Gak di lembur ya gak jadi-jadi to Naf!" celetuk pak Catur enteng.
"Kalian itu ngomong apa sih?" ucapku.
Pak Catur dan Nafisa bukannya menjawab malah tertawa, setelah Afriana selesai mandi sekarang pak Catur yang siap-siap untuk mandi "Sayang, ayo mandi bareng," bisik pak Catur di telingaku.
"Mas, sudah siang, nanti terlambat, cepetan mandi," perintahku pada pak Catur.
Pak Catur melangkah menuju kamar mandi sedang aku membantu Afriana untuk mengikat rambut serta kerapian seragamnya, tidak lupa pula aku menyiapkan baju untuk suamiku. Tidak berapa lama pak Catur sudah keluar dari kamar mandi karena hari sudah agak siang maka pak Catur maka pak Catur mengantar Afriana dulu, dan akan kembali pulang untuk menemaniku sarapan. Setelah mengantar Afriana ke sekolah pak Catur menemaniku sarapan, aku dan Pak Catur sarapan di rumah ibuku, karena besok acara tujuh bulanan Nafisa, maka beberapa tetangga sudah mulai beradatangan untuk membantu orang tuaku untuk memasak. Nafisa dan Fauzan hari ini juga sudah ambil cuti, jadi rumah orang tuaku sudah pasti mulai ramai lagi. Selesai sarapan pak Catur segera berangkat ke kantor, pagi ini pak Catur berangkat ke kantor juga agak siangan.
__ADS_1
Sepeninggalan pak Catur aku ikut sibuk membantu orang-orang, aku memilih melakukan pekerjaan yang ringan-ringan saja, aku seperti membantu menguras dan memotong kentang, dan memotong tempe. Gelak tawa serta ocehan tanpa arah mendominasi ramainya di dapur orang tuaku.