
Dua puluh menit telah berlalu pak Catur sudah menyelesaikan ritual mandinya, keluar dari kamar mandi pak Catur segera menuju ke ranjang dan duduk di sebelahku.
"Ayah, capek, bunda pijitin." ucapku menawarkan diri.
"Tidak, terima kasih sayang, kelihatannya ada berita bagus kok kelihatannya ceria banget," tebak pak Catur yang sudah memelukku.
"Ada, coba mas tebak," tanyaku
"Alhamdulillah kalau Dinda isi lagi Alifah akan punya adik kecil." tebak pak Catur sambil memelukku dan membelai lembut pucuk kepalaku.
"Astaqfirullah hal'adzim, mas sayang, Alifa baru juga tiga bulan masa iya punya adik," gerutuku sedikit kesal " Sekarang Dinda tanya emange mas sudah bikin lagi?" tanyaku.
"Sekarang saja bikinnya," goda pak Catur.
"Mas, Mas, gini lo mas yang punya adik itu mbak Priska dan mas Anam." jawabku.
"Alhamdulillah, akhirnya mbak Priska hamil juga." seru pak Catur girang.
"Bukan mas, mbak Priska gak hamil."
"La terus?" tanya pak Catur semakin penasaran.
"Gini lo mas, mbak Priska sama mas Anam mau adopsi salah satu bayi yang ada di dalam pantiku Ayah sayang." ucapku gemas.
"Alhamdulillah, mas ikut senang, kapan?"
__ADS_1
"Tadi siang mbak Priska dan mas Anam datang ke panti asuhan kebetulan ada bayi yang baru masuk kemarin lusa dan mereka sangat menyukai bayi tersebut." jelasku.
"Syukurlah, sungguh malang anak-anak itu, bersyukur anak-anak kita serba berkecukupan, sungguh tidak tega melihat anak-anak dibuang dengan sengaja." ungkap pak Catur.
"Benar sekali Yah, bunda benar-benar tidak tega." ungkapku.
"Berapa usia bayi yang akan di adopsi oleh mbak Priska dan apa jenis kelaminnya?" tanya pak Catur padaku.
"Usianya baru seminggu jenis kelaminnya laki-laki, lucu sekali." terangku.
"Di mata bunda semua bayi itu lucu, tidak ada yang tidak lucu," jawab pak Catur.
"Mas," panggilku lembut.
"Ya sayang."
"Tentang Afriana tadi pagi ?" tebak pak Catur.
Aku tidak menjawab hanya mengangguk saja.
"Alhamdulillah semua baik-baik saja, tadi Ringgo juga memberikan uang saku buat Afriana, Afriana menerimanya setelah aku beri pengertian namun begitu sampai mobil uangnya di kasihkan ke ayah, ayah juga belum melihat berapa jumlahnya,sebebtar ayah ambil dulu, apa tadi Afriana tidak cerita ke Dinda?" tanya pak Catur padaku.
"Tidak, Afriana tidak cerita tentang uang sakunya dan juga pertemuannya dengan bapaknya ?" jelasku
"Alhamdulillah dari hasil mengabdinya di pesantren setiap bulan dia mendapatkan uang saku, dan dari uang saku itu ia kumpulkan tadi pagi diberikan ke Afriana, berhubung ke pesantren tidak boleh membawa uang terlalu banyak makanya sama Afri di kasihkan ke ayah dan suruh ngasihkan ke bunda, ayah harap bunda tidak keberatan dengan sikap Afriana, dan tadi pagi ayah terburu-buru jadi ayah lupa." ungkap pak Catur lembut.
__ADS_1
Pak Catur bangkit dari duduknya dan mengambil tas kerjanya tadi, dari dalam tas dia mengeluarkan amplop besar berwana putih, pak Catur menyerahkannya padaku.
"Bunda terima dan buka, ini tasi dari Ringgo." perintah pak Catur lembut.
Aku turuti perintah pak Catur, aku terima amplop putih tersebut pelan-pelan aku buka aku keluarkan isi amplop tersebut, sungguh di luar dugaanku di dalam amplop terdapat uang sebanyak lima juta. Lima juta itu angka yang banyak menurutku karena selama hidup dengan mas Ringgo belum pernah dia ngasih uang sebanyak itu padaku.
"Jadi Afriana tidak tahu tentang uang ini?" tanyaku pada pak Catur.
"Dia tahu cuma dia tidak tahu berapa jumlahnya, simpanlah bund, berikan Afriana jika dia pulang." nasehat pak Catur "Sudah malam ayuk kita tidur, soal Ringgo dan Afriana besok ayah cerita in, ayah capek" ajak pak Catur.
Kami berdua memutuskan untuk tidur karena waktu juga sudah larut kami berdua seharian juga sudah sibuk dengan aktifitas kita masing-masing.
Hari ini aku pergi ke panti untuk mulai mengurus proses adopsi yang diajukan oleh mbak Priska dan mas Anam, semua data mas Anam dan mbak Priska juga sudah lengkap, kini mas Anam dan mbak Priska menjalani serangkaian tes kesehatan karena salah satu syarat untuk adopsi anak kedua orang tua angkat harus sehat jamani dan rohani.
"Mbak Na tolong berikan berkas ini ke pengacara, tolong suruh menyelesaikan secepatnya, sekarang aku tinggal dulu mau pergi ke panti Sibggah." pesanku pada mbak Inayah sambil memberikan satu berkas komplit milik mbak Priska.
"Baik buk, apa semua sudah lengkap?" tanya mbak Inayah meyakinkan sekali lagi.
"Sudah lengkap semua." jelasku lagi.
Setelah pamit aku segera pergi menuju panti singgah, di sana aku lihat satu persatu para lansia, aku tanya kabarnya, mereka aku ajak ngobrol ringan di salah satu ruangan. Di panti selain ada taman juga ada ruangan tempat para lansia buat ngerumpi, kami juga menyediakan tempat olah raga ringan. Selesai ngobrol sebentar dengan mereka aku menuju ruanganku dengan diikuti oleh mbak Romlah.
"Mbak Rom, bagaimana dengan pasien yang kemarin lusa ada perkembangan?" tanyaku pada mbak Romlah.
"Alhamdulillah sudah semakin membaik, karena sang pasien sekarang sudah dipindah ke kamar biasa, dan kata dokter dua hari lagi sudah bisa pulang, dan rawat jalan." Jelas mbak Romlah senang.
__ADS_1
"Alhamdulillah, mbak Rom tolong terus pantau kesehatannya, dan saya harap seluruh warga di panti ini mereka senang dan tercukupi dan lakukan pemeriksaan rutin jangan sampai telat, bila ada yang baru masuk segera lakukan pemeriksaan, jangan sampai seperti kemarin." jelasku pada mbak Romlah.
"Baik, Buk inshaallah kami lakukan dan beri pelayanan yang terbaik." sahut mbak Romlah sopan.