TALAK

TALAK
Part 176 TALAK.


__ADS_3

"Sekarang sudah malam, Afri, tidur dulu biar ditemani Ibuk, Ayah mau kerja dulu, selamat tidur anak Ayah, jangan lupa berdoa." nasehat pak Catur pada Afriana.


"Selamat malam ayah." balas Afriana sudah kembali ceria.


Pak Catur meninggalkan kamar Afriana, sedangkan aku masih menemani Afriana, karena Afriana belum terbiasa tidur di rumah baru dan juga kamar baru sehingga dia minta untuk ditemani.


"Af, Afri senang ndak tinggal di sini bersama Ibuk dan Ayah?" tanyaku untuk meyakinkan karena aku takut Afriana tidak bisa menerima.


"Afri, senang Buk, Buk semalam Afri mimpi bapak, bapak seperti kesakitan." tutur Afriana.


Mendengar penuturan Afriana hatiku menjadi gelisah, antara marah dan kasihan, ya aku hanya seorang wanita lemah dan masih menyimpan luka, dan faktanya luka itu masih baru, ya memang sudah hampir empat bulan Afriana tidak aku antar ke rumah keluarga mas Ringgo, pertama demi keselamatan Afriana, kedua aku tidak ingin Afriana tahu jika ayahnya sakit karena terlibat dengan para dukun dan ingin mencelakai aku dan Afriana.


"Buk." panggil Afriana karena aku tidak langsung menjawab.


"Iya Af, sekarang doakan saja supaya selalu sehat." nasehatku srkenanya.


"Afri benci bapak!" sungut Afriana.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Bapak gak sayang Afri, nyatanya bapak gak pernah datang dan menengok Afri, bapak pergi sudah tidak peduli dengan Afri." protes Afriana.


"Af, bagaimanapun Afri tidak boleh benci bapak ya, doakan supaya bapak sehat dan bisa menjenguk Afri," nasehatku berusaha bijak walau sebenarnya aku was-was, was-was jika didengar oleh pak Catur bagaimanapum juga aku harus bisa menjaga hati pak Catur suamiku dan Afriana" Sekarang Afri, tidur ya besok sekolah jangan sampai subuhnya kesiangan." nasehatku lagi.


"Baik Buk." sahut Afriana.


Aku berbaring di sebelah Afriana, aku dan Afriana berdoa bersama, tidak butuh waktu lama Afriana sudah terlelap, dan berkelana ke alam mimpinya, aku tengok jam di dinding sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam, aku bangkit dan meninggalkan kamar Afriana, aku tidak langsung masuk kamar, aku naik ke lantai atas untuk melihat pak Catur di ruang kerjanya, ruang kerja terletak di lantai atas.


"Mas." sapaku begitu membuka pintu ruang kerja Pak Catur.


"Masuk, sebentar lagi selesai," jawab pak Catur " Afriana sudah tidur." tanya pak Catur.


"Sudah, kalau pekerjaan mas masih banyak biar aku bantu." ucapku menawarkan bantuan.


Aku ikut melihat layar komputer ternyata pak Catur juga sudah mulai menyimpan file.


"Jika pekerjaan mas masih banyak, di lanjutin saja." nasehatku.


"Sudah bertahun-tahun setiap malam mas menemani komputer, dan sekarang sudah ada istri yang cantik wajib mas temani, lupakan komputer dan pekerjaan kantor, sekarang ada pekerjaan yang lebih penting." ucap Pak Catur dengan senyum menggoda.

__ADS_1


"Siapa suruh nggak nikah dari dulu." sahutku asal.


"Siapa suruh baru sekarang Dinda datang dikehidupan mas." sahut pak Catur, sambil merapikan mejanya.


"Hah... apa mas? Perasaan Dinda tidak pernah datang kerumah Mas, malah mas yang ngintip-ngintip orang jemur padi." sahutku asal dengan tawa mengingat video yang pernah mbak Irma tunjukan padaku.


"Mana mas tahu jika itu Dinda, setahuku dia wanita yang pernah aku kagumi tapi sudah bersuami nggak tahunya Allah menakdirkan mas untuk hidup bersama Dinda Afifah." ucap Pak Catur sambil melibgkarkan tangannya kepingganggku dan menuntunku untuk kembali ke lantai bawah menuju kamar kita.


"Dulu mas tidur di kamar mana?" tanyaku penasaran.


"Dulu mas tidur di kamar sebelah, kadang ya di kamar bawah kadang ya di ruang kerja pokok ngantuk ya tidur." sahut pak Catur sambil menuruni anak tangga.


"Sebentar-sebentar, jadi mas sudah tahu dinda sejak lama?" tanyaku semakin penasaran.


"Dinda ingat waktu mas cerita, dan mungkin mbak Priska juga sudah cerita ke Dinda tentang mas yang depresi, dulu mas sering di ajak kakung untuk ziarah ke makam mbah Kai Grinting, tapu mas tidak tahu jika Dinda masih keturunan mbah Kyai, karena waktu itu mas dan kakung hanya datang berziarah dan berjamaah di mushola serta dzikir, sekarang istirahat saja sudah malam, mas mau.... " ucap Pak Catur tidak dilanjut hanya memberi isyarat kedipan mata.


"Besok kalau Dinda ngantuk dan gak bisa kerja bagaimana?"


"Yang ngantuk bukan Dinda saja mas itu sebenarnya juga ngantuk, maaf mas tidak memberi tahu jika mas mau ganti sekretaris." ucap Pak Catur sambil masuk kamar kami.

__ADS_1


"Dinda paham Mas."


Begitu kami masuk kamar, aku langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan juga mempercantik diri sebelum tidur.


__ADS_2