
Merdunya suara sholawat telah berhenti, sekarang ganti suara dari Pak naib yang terdengar, pak naib mulai mengumandangkan salam dan doa pembuka. Kami yang mendengar doa dari Pak naib diam dan mengamini dengan khusuk, ketegangan mewarnai hati dan perasaanku, biarpun ini pernikahanku yang kedua namun rasa gugup tetap aku rasakan bahkan keringat dingin sampai keluar.
Kami yang ada di kamar tidak mengeluarkan sepatah katapun, kami mendengarkan suara pak naib dengan khidmad.
"Saudara Catur martono Cakra bin Marijan Cakra apakah saudara setuju menerima saudari Afifah Nurlaili Binti Fadilah sebagai istri dengan mahar uang tunai sebesar satu kilo gram Mas murni." tanya pak naib sebelum akad nikah di mulai.
"Bersedia." jawab pak Catur.
"Saudara Catur, untuk menikahi saudari Afifah anda ikhlas atau ada keterpaksaan?" tanya pak naib lagi.
"Ikhlas, lillahi ta'ala pak." jawab pak Catur.
Aku mendengar jawaban dari Pak Catur sangat terharu bahkan tanpa aku saudari airmataku me netes dengan sendirinya.
"Bapak Fadilah, ini bapak nikah kan sendiri atau diwakilkan?" tanya pak Catur pada bapakku.
"Saya nikahkan sendiri saja pak." jawab bapakku.
"Baik, silakan pak."
Sekarang posisi berganti bapakku langsung menjabat tangan pak Catur.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan Engkau ananda Catur martono Cakra bin Marijan Cakra dengan anak saya yang bernama Afifah Nurlaili Binti Fadilah dengan mas kawin satu kilo gram emas murni di bayar tunai." ucap bapak.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Afifah Nurlaili Binti Fadilah dengan mas kawinnya yang tersebut di bayar tunai." hanya dengan satu tarikan nafas pak Catur mengucapkan ijab kobul dengan lancar.
__ADS_1
"Alhamdulillah, bagaimana para saksi sah?" ucap Pak naib.
"Sah."
"Sah."
"Sah."
Semua para tamu yang ada mengucap kata sah dengan serempak. Pak naib langsung melanjutkan doa setelah akad.
Aku benar-benar terharu, setelah pelafalan akad nikah dan doa selesai aku didampingi oleh mbak Us untuk menuju meja akad, Sesampainya di meja akad antara aku dan Pak Catur saling memasangkan cin-cin kawin, dengan ta'dzim aku menyalami pak Catur dan mencium tangan pak Catur, selanjutnya pak Catur mencium keningku. Selanjutnya sesi menanda tangani buku nikah dan di lanjut dengan foto-foto pendokumentasian dengan buku nikah.
Setelah pak naib pulang, acara selanjutnya aku dan Pak Catur sungkem dengan kedua orang tua kami untuk minta doa restu, dari wajah beliau aku dapat menangkap pacaran kebahagiaan dari wajah mereka, selanjutnya sesi foto bersama keluarga dengan di-iringi sholawat dari santriwati Bupuh Nyai. Biarpun tidak ada acara resepsi namun pernikahanku tergolong meriah karena kehebohan keluargaku sendiri dengan keluarga pak Catur, aku sendiri sampai heran padahal antara keluargaku dan keluarga Cakra memiliki jarak sosial yang sangat jauh, namun mereka memiliki kehebohan yang sama.
"Alhamdulillah, jangan lupa kembang katesnya." bisik pak Catur padaku.
"Masih pagi jangan bisik-bisik." goda mas Dwi.
"Sudah halal." jawab pak Catur.
"Dik, enak oseng kembang katesnya, baru kali ini undangan manten ada menu oseng kembang kates." ucap mas Dwi yang duduk di dekat kami sambil membawa sepiring makanan.
Karena tidak ada acara khusus maka selesai akad nikah kita melakukan sesuka hati kita masing-masing, apalagi menu yang kita sajikan juga menu prasmanan jadi ada beberapa menu dan semua tamu bisa ambil sendiri sesuai selera.
"Menu spesial mas, alhamdulillah kalau mas Dwi suka." jawabku sedikit sungkan.
__ADS_1
"Jelas suka." jawab mas Dwi dengan santainya sambil makan menu pilihannya.
"Mama bahagia sekali, akhirnya anak-anak mama bisa memiliki keluarga yang utuh." ucap mama Cakra dengan tulus.
"Doakan kami ma." sahutku sopan.
"Tentu sayang, Ton ingat pesan mama, sekarang kamu kepala keluarga." pesan mama Cakra.
"Iya, Ma, restu dan doa mama yang kami harapkan." jawab pak Catur tulus.
Acara berakhir di jam dua belas siang, karena adzan dhuhur sudah berkumandang maka semua keluarga Cakra tidak langsung pulang mereka memilih untuk sholat dhuhur berjamaah di mushola, begitu pula pak Catur memilih ikut berjamaah di mushola, karena aku masih pakai make up dan belum ganti baju maka aku dengan di temani Nina dan mbak Yah, untuk berganti pakaian dan menghapus make up, kalau tidak di hapus dulu takutnya saat wudhu air wudhu tidak sampai ke pori-pori kulit wajah.
Hingga mereka yang berjamaah di mushola sudah sekesai aku baru saja selesai menghapus make up, selesai nenghapus make up aku segera ke kamar mandi untuk mandi dulu karena sangat gerah.
Hampir jam dua siang para tamu baru berpamitan, mayoritas mereka betah berada di rumahku maupun orang tuaku.
"Ton, jangan terlalu capek lusa masih ada dua pesta lagi." pesan mbak Priska saat bersakaman may pulang.
"Jangan khawatir mbak Pris aman." sahutku santai.
"Sebelum berolahraga isi amunisi dulu, biar gak mudah capek." pesan mas Tri namun menggoda.
"Beres mas." sahut pak Catur santai.
"Fah, titip bontot kami." pesan mbak Irma dengan senyum tulus
__ADS_1
"Inshaallah, mbak." jawabku
"Kalau dia gak nurut, jangan dikasih." goda mas Dwi, pada saat bersalamaman.