TALAK

TALAK
Part 198 TALAK.


__ADS_3

Sepeninggalan mbak Us, aku Afriana dan Pak Catur menghabiskan waktu bersama, berkunjung ke rumah mbak Priska, dulu sebelum menjadi istri pak Catur aku sering di ajak ke rumah mbak Priska oleh pak Catur, terkadang alasan yang digunakan oleh pak Catur sangat tidak masuk akal.


Afriana sangat senang bermain dengan Rahma, sedang pak Catur aku mbak Priska Pak Anam, serta kakung ngobrol bareng di ruang tengah.


"Gimana Le?" tanya kakung.


"Alhamdulillah, Kung, berkat doa kakung apa yang saya impikan terkabul, terima atas semua nasehatnya Kung." ucap Pak Catur sopan.


"Kamu masih ingatkan, waktu kamu mau mengambil gadis itu," kakung malah mengingatkan pada waktu lampau " Sekarang kamu tidak hanya dapat anak satu, inshaallah akan tambah lebih banyak." kekeh kakung dengan suara khasnya yang sudah tua.


"Kenapa Kung?" mbak Priska langsung penasaran.


"Iya, Kung." jawab pak Catur senyum-senyum.


"Kenapa sih?" mbak Priska semakin penasaran.


"Adikmu itu, dulu setiap lihat anak bayi selalu ingin mengambilnya, demi melihat anaknya gendok ini berjam-jam gak mau di ajak pulang, betah sekali," jelas kakung sambil terkekeh "Cah Ayu, pesenku nitip jaga cucu kakung ini, dan kamu Le, jangan pernah kamu lepaskan mutiara yang sudah lama kamu nantikan, walau ada badai sekalipun." nasehat kakung bijak.


"Inshaallah, Kung Mohon doanya." ucapku dan Pak Catur dengan senyum.


"Aku kok baru tahu jika kamu sudah lama kenal Afifah?" mbak Priska tambah penasaran.


"Itu dulu wong Aku juga gak tahu, sekarang malah jadi istriku, setahuku dia tak secantik sekarang, pakai daster tanpa make up, dan waktu itu yang aku perhatikan cuma anaknya, bukan ibunya tapi waktu pertama kali bertemu di Jakarta rasanya aku tidak asing dengan wajahnya tapi aku lupa bahkan berkali kali aku lihat biodata dan fotonya aku tetap tidak tahu, sampai akhirnya aku datang ke rumahnya fab melihat foto yang di dinding rumahnya aku baru ingat, dengan bayi yang dia gendong." sahut pak Catur dengan gamblang.


Aku terkejut mendengar pengakuan pak Catur dan kakung, ternyata masih banyak misteri tentang pak Catur yang belum aku ketahui.


"Itu namanya jodoh," sahut kakung langsung bangkit berdiri "Aku mau istirahat dulu." pamit kakung dan langsung meninggalkan kami yang masih berada di ruang tengah.


"Kalau memang sudah jodoh, Allah pasti ngasih jalan yang tidak terduga oleh kita." sahut pak Anam santai.

__ADS_1


"Bagaimana kandunganmu Fah?" tanya mbak Priska padaku.


"Alhamdulillah, sehat dan minggu depan akan melakukan USG, mbak doakan semoga sehat tidak ada masalah apa-apa." ucapku.


"Tentu." sahut mbak Priska senang.


Kami bertiga menghabiskan di rumah mbak Priska sampai menjelang sore, sengaja kami tidak keluar karena memang ingin istirahat di rumah saja. Sepulang dari rumah mbak Priska kami langsung pulang karena besok pagi Pak Catur harus kembali bekerja sedangkan Afriana harus masuk sekolah.


Dalam satu minggu ini pak Catur kembali disibukkan dengan pekerjaannya, mengingat pekerjaannya sekarang yang semakin banyak dan juga sekretaris pak Catur masih baru jadi belum bisa bekerja dengan maksimal, malam ini pak Catur pulang larut malam, jam sebelas malam pak Catur baru masuk rumah.


"Mas." sambutku saat pak Catur baru masuk rumah, aku selalu menunggu suamiku pulang ham berapapun aku sekali menunggu di depan pintu begitu suara gerbang di buka dan mobil pak Catur masuk rumah.


"Maafin kangmas sayang." pak Catur langsung memeluku dab mebuntunku masuk kamar.


"Mas, Mas ingat jadwal kita besok?" tanyaku saat pak Catur selesai mandi dan duduk di atas ranjang bersandar pada kepala ranjang.


"Ingat sayang, mas besok akan tetap antar Dinda, jangan khawatir mas tetap ingat." sahut pak Catur.


Hari ini jadwal ke dokter jam sembilan pagi, Pak Catur sengaja libur dari kantor karena ingin mengantarkanku. Dengan mengendarai mobil tesla hitam kami menuju rumah sakit terbaik yang ada di kota Madiun. Sesampainya di rumah sakit kami segera menuju ruang praktek dokter yang kami tuju. Di ruang tunggu sudah banyak ibu-ibu hamil di temani dengan suaminya ada juga yang di temani oleh kerabatnya. Aku dan Pak Catur duduk berjajar berbaur dengan pasien lainnya menunggu giliran kami untuk dipanggil.


"Ibu Afifah." seorang suster memanggil namaku.


"Iya sus." sahutku, aku dan Pak Catur langsung berdiri masuk kedalam ruangan , Sesampainya di dalam ruangan kami menyapa ramah sang dokter, begitu pula dokter sangat ramah pada kami.


"Silahkan berbaring bu." perintah dokter lembut


Aku segera berbaring di ranjang pemeriksaan sedang pak Catur dengan setia mendampingiku duduk di sebelah ranjangku dengan tetap menggenggam erat tangan kiriku, aku melihat aura tegang pada wajah pak Catur, entah apa yang dipikirkannya.


Dokter dibantu oleh seorang suster yang sudah professional melakukan pemeriksaan terhadapku, selesai melakukan pemeriksaan dokter mengoleskan cream pada perutku, kehamilanku yang baru tiga bulan namun perutku sudah terlihat buncit. Dengan sabar dokter menggunakan alat deteksi ditempelkan dan di gerakan di atas perutku.

__ADS_1


"Alhamdulillah, kedua bayi bapak ibu sehat dan berkembang dengan baik, ini bayinya sebesar buah rambutan dan sangat normal, berat masing-masing sekitar 13 gram, kedua dalam keadaan normal, lihat ini jemari mungilnya bergerak terus dua-duanya aktif sekali." terang dokter.


"Anak kami kembar dok? Alhamdulillah " pak Catur sangat girang dan antusias, dan akupun tak kalah bahagia.


"Ya, pak istri bapak hamil anak kembar, namun untuk jenis kelamin masih belum bisa diketahui, ini keduanya sangat aktif sekali tangan dan kakinya selalu bergerak-gerak, Ibu dan bayi sangat baik, nutrisinya juga sangat baik." dokter menjelaskan dengan sejelas-jelasnya.


"Dok, istri saya perutnya sering kram, apa tidak bahaya untuk kandungannya?" Pak Catur bertanya dengs penuh kekawatiran.


"Perut kram pada ibu hamil itu lumrah pak, asal jangan keseringan, apa ibu ikut senam hamil?" tanya dokter "Sus tolong bersihkan perut ibu Afifah." perintah dokter pada suster.


Suster dengan sabar dan lembut membersihkan cream di perutku, dengan di bantu suamiku rapikan lagi bajuku yang terbuka.


"Bapak, ibu saya tunggu di ruangan saya." ucap Dokter sopan.


"Baik dok." sahutku dan ak Catur bersamaan.


Pak Catur membantuku turun dari ranjang, membawakan tas tentengku dan menggandengku menuju ruangan dokter dengan diabtar oleh suster yang tadi.


"Selamat pagi bu." sapa kami berdua.


"Silakan masuk," perintah dokter ramah" Selamat bapak dan ibu atas kehamilannya, hasil pemeriksaan semuanya baik-baik saja, jadi bapka ibu tidak usah khawatir, Ibu mau melahirkan normal atau cesar, ini HPL ibu, bulan sekian tanggal sekian, dan setiap bulan ibu bisa kontrol kemari atau ke dokter kandungan lain atau ke bidan, Ibu silakan tentukan sendiri." ucap Dokter ramah dan sopan.


"Biar istri saya tetap control di ibu saja." pinta pak Catur.


"Untuk proses melahirkan saya pilih yang normal saja dok." jawabku, aku dan Pak Catur memang sepakat untuk lahiran normal saja, kecuali bila darurat baru cesar.


Pak Catur lebih crewet tanya ini, itu tentang kehamilanku, dan langkah apa yang harus dilakukan untuk kesehatan kehamilanku.


"Baiklah, ini jadwal kontrolnya, hasil USG akan kami kirim ke alamat ibu." ucap Dokter sopan.

__ADS_1


Selesai pemeriksaan kami pulang, dengan perasaan bahagia dan lega, karena kami sudah mengetahui dengan jelas akan kehamilanku yang kembar.


__ADS_2