TALAK

TALAK
Part 88 TALAK


__ADS_3

Mobil pak Catur terparkir di halaman rumah, tepat pas adzan dhuhur di mushola dekat rumah, kami bertiga turun dari mobilnya pak Catur aku dan Afriana masuk rumah, sedangkan Pak Catur menuju mushola dan membawa baju ganti untuk berjamaah di mushola.


Aku dan Afriana tidak ke mushola kami berdua hanya berjamaah di rumah karena, waktu untuk pergi ke mushola tidak nutut di tambah kita berdua harus mandi dulu.


Aku dan kedua orang tuaku selalu mengajarkan pada Afriana sepulang sekolah untuk mandi dulu baru sholat dhuhur. Kami berdua selesai sholat dhuhur dan Afriana sudah siap dengan memakai pakaian yang bagus, dengan riangnya Afriana menuju rumah orang tuaku.


"Bulek!" seru Afriana ketika masuk rumah orang tuaku.


"Bukannya Salam malah teriak-teriak, Af, mau kemana kok sudah pakai baju bagus?" tanya Nafisa penasaran.


"Aku mau di ajak Paman temannya ibuk main ke rumahnya mbak Rahma." celoteh Afriana girang dengan wajah berseri-seri.


"Bener, mbak?" Nafisa ganti bertanya padaku penuh selidiki.


"He eh," jawabku.


"Mbak, tadi ada yang nyari mbak, katanya mau nagih hutang ke mbak? Sepeda motor mbak yang di bawa Ringgo di gadaikan pada rentenir." bisik Nafisa pelan-pelan agar tidak terdengar oleh Afriana.


"Apa?" pekikku pelan.


"Iya, sekarang orangnya sama bapak di ajak ke mushola untuk berjamaah." ucap Nafisa di ikuti tawa geli.


"Ya Allah!, sekarang ada pak Catur bagaimana ini, aku gak ingin bosku tahu masalahku." bisikku pada Nafisa yang duduk di sebelahku, sedang Afriana asyik sendiri nonton TV.


"Jangan khawatir mbak, bapak pasti tahu harus bagaimana." ucap Nafisa.

__ADS_1


Tidak berselang lama ada suara orang laki-laki yang tidak aku kenal berada di teras rumahku mengucap Salam dan mengetuk-ngetuk pintu rumahku. Aku langsung keluar dari rumah orang tuakau untuk menemui Laki-laki asing tersebut.


"Ada apa, pak, mau mancari siapa?" tanyaku pura-pura tidak tahu.


"Mau mencari mbak Afifah nurlaila." jawabnya sopan.


"Saya sendiri, silahkan masuk dulu," ucapku sambil membukakan pintu.


Begitu aku sudah membuka pintu Nafisa juga ikut masuk kerumahku.


"Silahkan duduk pak, ada masalah apa bapak mencari saya?" tanyaku to the point.


"Bagini mbak, saya mau nagih hutang -hutang saudara Ringgo enam bulan lalu saudara Ringgo telah menggadaiakn BPKB sepeda motor atas nama mbak Afifah, ini surat-suratnya, dia sudah jatuh tempo." jelas petugas kopersai peagdaian.


"Jika saya tidak membayar bagaimana pak?" tanyaku pura-pura polos.


"Jika tidak membayar maka sepeda motornya kami ambil paksa, mbak." jelas petugas koperasi peagdaian.


"Maaf pak berhubung yang menggadaikan sepeda motor bukan saya, jadi bapak salah orang jika bapak menagih kepada saya, karena sepeserpun saya tidak akan membayarnya, dan saudara Ringgo sudah lama tidak tinggal di sini" ucapku sopan dan tegas.


"Tapi bukankah, mbak istrinya berarti mbak juga harus ikut bertanggung jawab dong!" kekeh petugas kopersi.


"Begini, pak tadi kan bapak bilang jika tidak membayar sepeda motor akan di sita ya sudah ambil saja sepeda motornya bereskan." ucapku berusaha santai dan tenang walau dada ini bergemuruh hebat.


"Jadi mbak tidak mau membayar? Terpaksa saya akan ambil paksa sepeda motor mbak" tanya petugas koperasi.

__ADS_1


"Tidak, karena bukan urusan saya dan saya juga tidak menggunakan uang tersebut, sebaiknya bapak cari saudara Ringgo bukan mencari saya, dan lagi jangan pernah ke sini lagi untuk menagih hutang atas nama Ringgo, silahkan ambil motornya pada saudara Ringgo, bukan pada saya karena sepeda motornya tidak pada saya." ucapku tegas.


"Baiklah, saya permisi mbak." pamit petugas koperasi meninggalkan rumahku dengan wajah kecewa.


"Mbak, berapa sih Ringgo menggadaikan motornya?" tanya Nafisa penasaran.


"Lihat nih." Aku menunjukan surat yang sudah aku foto.


"Ya, Allah mbak tujuh juta!" seru Nafisa "Mbak foto surat ini buat apa mbak?" tanya Nafisa penasaran.


"Jaga-jaga saja jika mas Ringgo berulah, aku punya bukti yang kuat, jujur saja aku mendengar kabar jika mas Ringgo mau nuntut harta gono-gini dalam sidang perceraian kita nanti, makanya ini mau aku print buat bukti." ucapku santai.


"Tujuh juta itu banyak lho mbak, kenapa mbak menebus saja dan ambil balik motornya?" tanya Nafisa tidak percaya dengan keputusanku.


"Buat apa? Aku sudah males berhubungan dengan mas Ringgo, Naf, biarlah motor hilang dari pada aku harus bertemu mas Ringgo hanya berebut sepeda motor, lagian kalau di jual harganya juga sekitar segitu, biarlah motornya di ambil biar kapok mas Ringgo." ucapku sedikit geram.


Nafisa tidak menjawab hanya geleng-geleng kepala keheranan, aku dan Nafisa kembali ke rumah orang tuaku begitu masuk ternyata bapak dan Pak Catur sudah duduk di ruang tamu sambil menikmati makan siang bersama.


"Sudah, Fah?" tanya bapakku sambil menikmati makan siangnya.


"Sudah pak." jawabku singkat.


Aku dan Nafisa tetap masuk kedalam rumah, di dalam ibukku sedang makam bersama Afriana di depan TV. Aku dan Nafisa ikut bergabung dengan ibuk dan Afriana makan siang dengan menu seadanya, sayur lodeh gori, ikan asin goreng, sambel terasi, dan kerupuk yang tidak pernah ketinggalan.


Selesai makan siang kami semua istirahat sebentar, bapak dan Pak Catur berbincang-bincang di ruang tamu, sedang aku, Afriana, ibuk dan Nafisa tetap berada di ruang tengah sambil nonton TV. Afriana terus berceloteh riang gembira karena mau di ajak main ke rumah bu Priska untuk bermain bersama Rahma.

__ADS_1


__ADS_2