
Suasana pagi di kantor sangat sibuk, Aku, pak Catur, bu Priska, dan salah satu staf bersiap siap untuk berangkat menuju lokasi yang akan di bangun pabrik baru.
Kami berlima berada dalam satu mobil, setelah 30 menit perjalanan sampailah di lokasi yang di tuju. Lokasi yang sangat luas dan sudah tidak ada tanaman yang special kecuali tanaman rumput liar yang membentang luas.
Kami berlima segera turun dari mobil, pak Catur mulai mengecek setiap sudut tanah yang luasnya mencapai 5 hektar. Seperti dalam denah, tanah yang dibeli perusahaan jauh dari pemukiman, dan penduduk sekitar juga masih jarang.
Setelah selesai mengecek lokasi pabrik pak Catur minta ke sopirnya untuk menyurvei lokasi sekitar di temani bapak kades. Tidak jauh dari pabrik ada tanah mangkrak yang ingin dijual, karena pemiliknya telah pindah ke luar jawa.
"Berapa luasnya tanah ini, Pak?" tanya pak Catur
"Ini semua cuma satu hektar Pak, ini di jual sekalian pohon jatinya, sebab orangnya sudah lama tinggal di Kalimantan, dan tidak mungkin kembali, sedang kedua orang tuanya sudah lama tiada " jawab pak Kades.
"Desa ini masih sangat asri, jika di bangun wisata saya rasa banyak peminat dan juga bisa menambah penghasilan desa, perekonomian masyarakat juga bisa terangkat " ucap Pak Catur
"Saya rasa juga begitu pak, sayangnya belum ada investor yang berani dan juga masyarakat masih mengandalkan hasil pertanian sebagia mata pencahariannya, jadi jarang yang menjual lahanya" terang pak Kades
"Bagaimana jika kita bangun wisata alam, holtikultura kita tanam berbagai sayuran dan buah - buahan" usul pak Catur dengan antusiasnya
"Ide yang cemerlang, Pak, saya setuju itu, ini kan sudah ada pohon jati jadi di antara pohon jati bisa di tanami sayur seperti, cabe, terong, kacang, kita tinggal tebang pohon jati yang masih kecil, yang besar biarkan saja, bapak juga bisa ambil pekerja dari kampung sini, saya rasa lebih bagus dari pada di buat taman biasa, dengan begini para karyawan pabrik tidak perlu jauh - jauh untuk wisata, dan warga kampung punya pekerjaan," usul bu Priska " Bagaimana pak Kades ?" tanya bu Priska tak kalah antusias
"Saya sangat setuju dengan usul Ibu, karena sekarang saya lagi adakan bimbingan pengolahan lahan pada masyarakat agar lahan tetap produktif " terang pak Kades
__ADS_1
"Pak Kades asli orang sini, bapak kelihatannya juga paham tentang pertanian?" tanya pak Catur
"Saya, asli orang sini, Alhamdulillah, 5 tahun lalu saya lulus dari ITB, karena beasiswa, setelah lulus saya kembali ke desa ingin membangun pertanian di desa" jelas pak Kades
"Kalau begitu, saya beli tanah ini, rencana kedepan biar saya pikirkan lagi" ucap Pak Catur
Sebelum kembali ke pabrik kami semua mampir dulu di balai desa Subur makmur, untuk membahas tentang perekrutan untuk pabrik rokok, karena syarat yang di ajukan oleh bapak kades adalah minta masyarakatnya untuk di prioritaskan dalam penerima an karyawan baru. Kami juga membahas tentang wisata holticultura yang baru tercetus idenya oleh pak Catur sendiri, di balai desa pak kedes menyambut dan menjamu kami dengan antusias, jamuan asli ala kampung, berupa jajanan pasar serta es dawet sudah tertata rapi di atas meja.
"Pak, boleh tanya sesuatu ?" ucapku
"Silahkan, Bu?" jawab pak kades ramah
"Saya sendiri kurang paham, karena setiap pembeli yang datang melihat tanah tadi, mereka langsung tidak jadi beli, mereka bilang masih ada yang menghuninya dan tidak mengijinkan mereka menginjakan kakinya pada tanahnya " terang pak Kades jujur.
"Maaf, pak Catur bu Priska apa kalian tadi melihat sesuatu yang ganjil?" tanyaku penasaran
"Tidak, Fah" jawab bu Priska
"Aku juga tidak, malah aku merasakan suasana yang sangat sejuk dan damai " jawab pak Catur
"Apa, Ibu melihat sesuatu atau me rasakan sesuatu?" tanya pak Kades semakin penasaran
__ADS_1
"Tidak, Pak, saya hanya pakai ilmu praduga saja, biasanya tanah yang di jual murah pasti ada hal yang tidak wajar, bapak-kan asli orang sini sedikit banyak pasti tahu, daerah mana yang masih wingit(seram)" ucapku
"Memang benar bu, tanah tadi tergolong masih wingit(seram), menurut orang tua saya itu tanah keprabon bapak Kades yang pertama di desa ini, dan sekarang turun kepada cicitnya, cicitnya sudah pindah ke kota semua tidak ada yang tinggal disini " jelas pak Kades " Bagaimana jika lain kali Bapak dan Ibu kesini lagi, kita bertemu dengan sesepuh desa untuk minta nasihat dari sesepuh, karena saya juga tidak ingin menimbulkan masalah pada kalian semua " terang pj Kades
"Kita kembali seminggu lagi pak " jawab pak Catur spontan
Selesai membahas tentang pembangunan pabrik dan juga tentang tanah kami pamit undur diri. Pak Catur nampak antusias dengan idenya tadi, sepanjang jalan pak Catur mengeluarkan ide - idenya tentang tanah yang baru mau di belinya, termasuk pak Catur mau membangun villa untuk tempat istirahat jika lelah atau sedang meninjau pabrik.
Setelah hampir seharian di lapangan kami kembali ke kantor sebentar hanya untuk mengambil sesuatu di kantor karena hari juga sudah menunjukan pukul 4 sore yang berarti jam pulang para karyawan " Mbak, jangan lupa siapkan proposalnya untuk besok, dan segera pulang " perintah pak Catur saat masuk ke ruangannya
"Baik, Pak" jawabku saat masuk ruanganku
Aku mengecek sebentar ruanganku dan aku segera ke parkiran untuk mengambil sepeda motorku. Dengan senyum bahagia aku starter sepeda motorku untuk melaju pulang " Alhamdulillah bisa pulang cepat " gumamku sambil mengendarai sepeda motor maticku.
Sampai di rumah seperti biasa, rumahku kosong, karena Afriana sudah ke mushola bersama Nafisa untik ngaji. Aku segera membersihkan diri, merapikan rumahku serta masak untuk makan malam nanti.
Sehabis magrip aku mengecek ulang PR Afriana, karena kesibukanku, aku jarang sekali menemani Afriana dalam mengerjakan PR.
Karena Afriana belum pulang aku merapikan bukunya satu persatu, sertaengecek jadwal sekolah Afriana. Aku bersyukur Afriana sangat mandiri dan ada Nafisa yang selalu mendampinginya.
Tentang mas Ringgo aku semakin tidak memikirkannya lagi, bisa di bilang aku tidak perduli dengan status kami, secara agama kami memang sudah bercerai namun secara hukum negara kami masih tercatat sebagai suami istri. Aku menyunggingkan senyum ketika melihat keadaan rumahku, ya rumah yang baru berdiri tegak payung dan tidak ada perabotan mahal di dalamnya. Dan hutang untuk membangun rumah juga baru saja lunas bulan ini" Terima kasih ya Allah atas semua ini " syukurku dalam hati.
__ADS_1