TALAK

TALAK
Part 86 TALAK


__ADS_3

Jam delapan pagi sesuai dengan jadwal yang telah di rencanakan sebelumnya, mobil pak Catur sudah terparkir di halaman depan rumahku, aku memakai pakaian kerja seperti biasanya, namun hanya pada sepatu yang membedakan aku pilih sepatu olah raga, agar mudah untuk berjalan karena jadwal kami ke lapangan.


Karena hari sabtu pagi semua penghuni rumah orang tuaku sudah sepi, bapak dan ibukku masih di pasar untuk jualan sedang adiku Fauzan dan Nafisa juga sudah berangkat kerja, Afriana juga sudah berangkat ke sekolah sejak pagi.


Begitu mobil pak Catur sampai aku langsung mengunci rumahku, aku segera masuk ke mobilnya pak Catur sebelum pak Catur turun dari mobilnya.


"Selamat pagi, Pak." sapaku sopan.


"Pagi, sudah siap mbak, tumben sepi ?" ucap Pak Catur sambil memutar mobilnya.


"Biasa sudah pada berangkat semua, pak, bapak sama ibuk jam sembilan baru pulang dari pasar." jawabku jujur.


"Kita lihat pembangunan pabrik dulu, setelah itu baru kita lihat lokasi syuting dan juga lihat tanah." ucap Pak Catur sambil terus nyetir mobilnya.


Mobil pak Catur melaju dengan santainya, menuju lokasi pembangunan pabrik baru, dalam perjalanan kami berdua membicarakan tentang perkembangan pabrik rencana-rencana selanjutnya.


Alunan musik dari Siti Nurhaliza menemani perjalanan kami berdua, setelah hampir satu jam kami berdua sampai di lokasi pabrik, kami langsung menyapa para pekerja bangunan dengan ramah. Para pekerja dengan ramahnya membalas sapaan kami berdua, pak Catur tanpa canggung berbicara dengan para pekerja proyek akrab sekali.

__ADS_1


"Bapak-bapak tolong kumpul kesini sebentar, teriak!" teriak pak Catur dan di ikuti para pekerja yang mendengar perintah pak Catur.


"Kumpul!"


"Kumpul!"


"Kumpul!"


Para pekerja saling berteriak untuk memanggil teman teman lainnya hanya dalam lima belas menit semua pekerja sudah pada kumpul di depan pak Catur.


Sungguh tidak aku sangka setelah memberi sambutan pak Catur mengambil amplop dari tasnya dan menyuruh para pekerja untuk antri aku dan Pak Catur membagi-bagikan amplop berwana putih entah berapa isinya aku juga tidak tahu karena pak Catur juga tidak memberitahuku sebelumnya. Namun jika dilihat dari warnanya seperti seratus ribu rupiah per-amplop namun sedikit tebak berapa persisnya tidak tahu.


Ucapan terima kasih dan rasa syukur keluar dari mulut para pekerja, wajah yang berbinar-binar terpancar dari pekerja, tua, muda, kuli maupun tukang semua mendapatkan jumlah yang sama.


Dari para pekerja yang sudah membuka amplopnya aku mendengar meraj saling memamerkan "Alhamdulillah, dapat lima ratus ribu, nanti bisa buat nebus obatnya ibukku." ucap pemuda sekitar dua puluh tahunan.


"Aku, juga, alhamdulillah bisa buat bayar sekolah anakku." ucap bapak-bapak seusia mas Jamal.

__ADS_1


"Bosnya baik sekali ya, masih muda lagi, ya Allah masih ada orang berhati mulia seperti bos Cakra." ucap bapak-bapak paruh baya.


Ketika tidak sengaja kau mendengar bisik-bisik para pekerja hatiku ikut terharu, lima ratus ribu itu sangat berarti bagi kami rakyat jelata. Aku teringat masa-masa sulit dulu, di mana dengan gaji yang sangat kecil aku harus tetap menghidupi keluarga kecilku, sekarang betapa bersyukurnya aku, sebagai seorang sekretaris aku sudah mendapatkan gaji yang jauh lebih tinggi, dan kehidupanku dengan anaku jauh lebih baik tidak terasa aku menitikan airmata, airmata rasa syukur karena di usiaku yang masih muda aku bisa mendapatkan gaji yang besar.


"Capek, mbak?" tanya pak Catur padaku sedikit khawatir.


"Tidak, pak." jawabku jujur sambil mengahpus airmataku.


"Mbak, tidak enak badan, kalau tidak enak badan kita pulang saja." ucap Pak Catur tambah khawatir.


"Tidak pak." jawabku.


"Kenapa mbak menangis?" tanyanya dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Saya terharu dengan ucapan bapak-bapak tadi mengingatkan saya pada beberapa tahun yang lalu di saat saya masih menjadi karyawan biasa, mendapatkan bonus dengan jumlah besar itu sungguh sangat membahagiakan sekali." ucapku masih dengan mata yang sembab dan pandangan menerawang.


"Takdir Allah kita tidak tahu mbak, roda kehidupan pasti berputar, sekarang jangan ingat yang sedih-sedih gak enak di lihat para pekerja, di kira aku yang menyakitimu mbak." ucap Pak Catur dengan senyum lega.

__ADS_1


__ADS_2