
Hari yang telah di tentukan telah tiba, hari ini aku dan Pak Catur pergi ke pesantren untuk menjemput Afriana, ya anakku Afriana sekarang sudah menjadi hafidzah dia baru saja menyelesaikan hafalan Al-Quran, di samping menjadi hafidzah Afriana juga pandai Qori, Afriana beberapa kali ikut lomba Qori dan dia pernah menjadi juara umum tingkat kabupaten, dengan pencapaian Afriana sudah membuatku sangat bangga padanya. Setelah dua jam perjalanan aku dan Pak Catur sudah sampai di pesantren.
"Assalamu'alaikum, Ayah, ibuk." Afriana langsung mengucap salam dan mengucap bersalaman dengan kami ta'dzim.
"Wa'alaikum salam, Afri sayang." sambutku.
"Afri sudah siap?" tanya pak Catur.
"Sudah Ayah, Afri sudah siap." jawab Afriana sopan.
Afriana kini sudah menjadi remaja yang cantik dan santun, kini dia sudah duduk di bangku kelas tiga Aliyah.
"Mbak Rahma mana?" tanyaku.
"Sebentar lagi mbak Rahma datang." jawab Afriana.
Benar kata Afriana tidak sampai sepuluh menit Rahma sudah datang, dengan senyum khasnya dia mengucap salam dan menyalami kami dengan ta'dzim.
"Rahma tidak ikut pulang?" godaku.
"Pinginnya ikut pulang tante, Rahma sebenarnya juga sudah kangen dengan adik Arjuna, tapi Rahma kan belum selesai hafalannya, jadinya gak bisa pulang cuti," ungkap Rahma jujur.
"Sabar dulu, sebentar lagi selesaikan hafalannya," nasehatku.
"Inshaallah tante," jawabnya senang.
"Ini bekal untuk kamu, mama belum bisa kesini untuk jenguk kamu, tapi katanya mas Alif mau datang ke sini, jenguk kamu." kini pak Catur yang memberitahu Rahma.
__ADS_1
"Terima kasih Paman, Salam untuk semua keluarga, sebelum mas Alif menikah Rahma pasti sudah selesai hafalan Al-Qurannya." ucap Rahma bahagia.
Setelah bercengkerama sebentar kami semua pamit Rahma kembali ke kamarnya sedang aku Afriana dan Pak Catur dengan mengendarai mobil kami menuju kota Madiun, di dalam perjalanan kami cerita banyak hal termasuk membahas calon istri mas Ringgo.
"Af, sudah tahu calon istrinya bapak ?" tanya pak Catur pada Afriana.
"Belum Yah kalau ketemu, cuma bapak pernah kirim foto ke Afri, Afri rasa wajahnya sedikit mirip dengan ibuk, cuma beda umur dan tubuhnya," ungkap Afriana.
"Ayah rasa juga begitu," timpal pak Catur.
"Kalian sudah pada tahu tinggal aku yang tidak tahu," timpalku
Mereka berdus tersenyum simpul mendengar ucapanku. Tidak terasa dua jam sudah perjalanan mobil yang kami tumpangi sudah memasuki gerbang rumah kami, anak-anak menyambut kami dengan bahagia, tepatnya bukan menyambut aku dan Pak Catur mereka semua sangat bahagia saat menyambut kepulangan Afriana, ya anak-anakku semua saling menyayangi, Afriana sebagai anak terbesar dia juga sangat sayang kepada adik-adiknya.
Saat Afriana baru keluar dari mobil anak -anakku sudah berhamburan berebut untuk memeluk Afriana, terutama Afwa, Afwi Abidah dan Alifa.
Begitu sudah masuk rumah dan Afriana juga sudah cuci tangan ke empat adik Afriana duduk di ruang anak mereka berebut untuk dipangku Afriana. Aku dan Pak Catur senyum-senyum sendiri melihat tingkah anak-anakku yang memperebutkan kakaknya.
"Sayang biar kak Afri istirahat dulu," perintahku lembut.
"Kak Afri capek Afwa pijiti," Afwa menawarkan diri untuk mijiti Afriana.
"Tidak dek terima kasih capek kakak sudah hilang saat bertemu dengan adik-adik, kakak dengar adik sudah hafal juz amma ya, nanti malam adik harus hafalan surat pendek di depan kakak ya, kak Afri pingin tahu kira-kira pintaran adik apa kakak ya," goda Afriana.
"Tentu aku kak," sahut Afwi girang.
"Aku,..,!" Seru Afwa tidak kalah girang.
__ADS_1
"Kakak yakin kedua adik kakak ini pasti semua pandai." puji Afriana pada mereka.
Selesai bercengkerama dengan adik-adiknya Afriana masuk ke kamarnya sedang adik-adiknya kembali beraktifitas seperti biasa, seperti biasa setelah sholat isya kami semua berkumpul di ruang anak, kami semua menghabiskan waktu bersama seperti ucapan Afriana tadi siang, kini Afwa dan Afwi memamerkan kebolehannya dalam menghafal juz Amma, setelah capek dan anak-anak juga sudah tidur aku menghampiri Afriana yang tertidur saat ngeloni adik-adiknya di ranjang Afwa dan Afwi.
"Af, bangun sayang ayo pindah kamar!" perintahku pada Afriana.
"Jam berapa buk? tanya Afriana dengan suara seraknya.
"Jam setengah sepuluh," jawabku.
"Afri, tidur sama adik saja." ucap Afriana ternyata juga sudah ngantuk sekali.
"Ya, sudah nanti jangan lupa tahajud sayang." pesanku pada Afriana.
"Iya buk," jawab Afriana dengan sedikit menutup mata.
Setelah dari kamar anak-anak aku menuju kamarku sendiri di sana pak Catur sudah bersandar di kepala ranjang. Aku sangat capek sekali setelah bercengkerama sebentar dengan Pak Catur aku dan Pak Catur segera tidur.
Hari ini Aku belanja beberapa kebutuhan untuk menghadiri acara lamaran mas Ringgo, aku ditemani Afriana untuk membeli hadiah buat mas Ringgo dan calon istrinya. Afriana dengan uang tabungannya sendiri dia juga membelikan hadiah buat mas Ringgo beserta calon ibu tirinya.
"Buk, benar ayah ngajak ibuk ke acara lamaran bapak?" tanya Afriana padaku.
"Ya, begitulah Af, kamu tahu sendiri jika ayahmu itu kalau bicara sesuai fakta." jelasku.
"Buk Afriana sangat bahagia sekali, Afriana punya dua bapak dan dua ibuk, rasanya benar-benar istimewa," ungkap Afriana bahagia.
"Alhamdulillah kalau Afri, bahagia ibuk juga turut bahagia." ungkapku dengan senyum tulus.
__ADS_1
Setelah kami berputar dan memilih beberapa belanjaan dan kami rasa sudah cukup maka kami berdua akhiri acara belanja kita. Aku lihat wajah Afriana kini jauh lebih tenang dan bahagia. Semua belanjaanku dan Afriana sudah terbungkus rapi dan Indah sesuai dengan permintaan kami, aku dan Afriana dengan diantar sopir kami menuju pulang.