TALAK

TALAK
Part 287 TALAK.


__ADS_3

Satu jam telah berlalu acara ngunduh mantu telah usai, para tamu sudah pada pulang kini hanya tinggal keluarga inti saja, keluarga mas Ringgo memperlakukanku dan keluargaku dengan baik, bahkan mbak Isnaini dia sangat antusias berkenalan dan menggoda Putra Putriku. Mereka mudah sekali akrab, beberapa tetangga lelaki mereka malah keasyikan ngobrol dengan Pak Catur sampai-sampai suguhan yang tadi sudah diganti dengan suguhan yang baru.


"Bahagia sekali bila memiliki Putra Putri yang comel-comel," Puji Isnaini "Mbak Afifah sudah lama mengelola panti asuhannya?"tanya mbak Isnaini padaku


"Baru saja kok mbak Is, sekitar tiga tahunan saya mulai membuka dan mengurus panti asuhan," jawabku jujur.


"Masyaallah, tapi saya dengar panti yang mbak pimpin sungguh maju dengan pesatnya," Puji mbaj Isnaini lagi.


"Masih jauh dari kata pesat kok mbak Is, masih biasa-biasa saja," jawabku, aku lebih pasif dalam mengobrol dengan mbak Isnaini karena aku takut salah bicara bagaimanapun mas Ringgo adalah mantan suamiku.


Di tengah tengah kami sedang mengobrol serombongan keluargaku datang, ya mereka baru datang karena ada barengan dengan tetangga yang juga mempunyai hajat. Rombongan keluargaku terdiri dari kedua orang tuaku, Fauzan beserta anak dan istri serta mas jamal dengan mbak Yah mereka datang dengan mengendarai motor berboncengan, sebenarnya pak Catur sudah menawarkan untuk dijemput namun ditolak oleh keluargaku dengan dalih tidak mau merepotkan orang lain.


"Assalamu'alaikum," keluargaku mengucapkan Salam.


"Wa'alaikum salam." jawab kami semua yang ada di dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


Begitu keluargaku masuk mas Ringgo langsung menyambut kedua orang tuaku dengan hormat mas Ringgo langsung bersalaman dan mencium tangan bapak dan ibukku dengan ta'dzim.


"Alhamdulillah, barakaallah le, maaf ki baru bisa ke sini tadi masih menghadiri hajatan tetangga, selesai baru kesini." ungkap bapakku.


"Terima bapak, minta doanya agar hidup saya bisa lebih berkah." ucap mas Ringgo.


"Masyaallah, Le, kami selalu mendoakanmu." ganti ibukku yang berucap.


"Terima kasih, Buk," ucap mas Ringgo tulus.


"Dik, kenalan ini mbahnya Afri, yang ini pak puh dan bupuhnya Afri, dan ini pak lek dan buleknya Afri, mereka yang selama ini mendidik dan merawat Afriana selama aku abai pada Afri, dulu." Mas Ringgo langsung memperkenalkan istrinya pada keluargaku, keluargaku menyambut denhan ramah.


Mbak Isnaini menyalami kedua orang tuaku, mas dan adikku secara bergantian mbak Isnaini tak henti-hentinya mengulas senyum terindahnya. Kedua orang tua mas Ringgo juga menyambut kedatangan keluargaku dengan hangat, bahjab kerabat yang masih tertibggal mereka juga tidak ketinggalan menyambut kedatangan keluargaku, dan yang tidak kalah heboh so pasti Putra Putriku yang begitu antusias menyambut kehadiran kedua orang tuaku beserta pakpuh dan pakleknya, Afriana dengan sangat antusias menyalami dan memeluk kedua orang tuaku.


"Terima kasih pak, Buk, sudah sudi memberi restu di hari yang bahagia ini, rasanya seperti mimpi bisa berkumpul seperti ini," ucap bapaknya mas Ringgo haru.

__ADS_1


"Alhamdulillah, akirnya anak-anak kita bisa bahagia, seperti sekarang rasanya seperti mimpi bisa melihat mereka bisa berkumpul dan akur seperti ini, semoga kita tetap bisa menjalin tali silaturahim dengan baik, anggap saja yang dulu itu sebagai teguran agar tetap ingat dan tetap bisa berhati-hati dalam menjalani kehidupan, ." ungkap bapakku tak kalah bahagia dan bijak.


"Inshaallah." jawab kami semua yang mendengar ungkapan bapakku.


Kami semua yang berada di rumah orang tua mas Ringgo sangat bahagia, kami sudah bisa menerima dan saling memaafkan, kami juga sudah iklhas menerima takdir dari Allah SWT.


Hari semakin siang kami asyik dengan obrolan kita masing-masing hingga adzan dhuhur berkumandang, rumah keluarga mas Ringgo memang jauh dari mushola sehingga kami memilih untuk sholat berjamaah di rumah keluarga mas Ringgo. Orang tua mas Ringgo dan mas Ringgo dengan gesit menyiapkan tempat bagi kami semua untuk sholat berjamaah di rumah orang tua mas Ringgo. Karena bapakki di anggap yang paling tua dan juga paling di hormati serta bapakku yang selalu menjadi imam di mushola maka kali ini bapak yang menjadi imam, para kaum laki-laki berjajar di shaff depan, karena hanya kerabat dan tetangga maka ada sekitar dua belas makmum laki-laki dan sekitar lima belas makmum perempuan termasuk Putriku.


Hari ini merupakan hari yang paling mengesankan, hari ini kita sudah melupakan akan peristiwa lampau, tidak ada permusuhan tidak ada kebencian kami saling menyayangi, kini Afriana sudah bisa menerima takdir dengan ikhlas. Selesai acara mas pernikahan Ringgo kami kembali kerumah masing-masing, Afriana ikut kami untuk pulang kerumah karena harus kembali ke pesantren sebab jatah cutinya dai pesantren sudah habis.


Dengan seiringnya waktu aku dan keluargaku sudah kembali beraktifas seperti biasa, Afriana juga, sudah kembali ke pesantren mas Ringgo dan istrinya juga sudah kembali beraktifas seperti biasa, mas Ringgo walau sudah menikah lagi namun dia tetap rutin mengirim uang ke rekening Afriana bahkan jumlahnya sedikit lebih banyak dari sebelum menikah. Mbak Isnaini dia sering menghubungiku kami berdua saling bertukar pikiran atau cerita tentang anak-anak asuh kami, mbak Isnaini bercerita tentang murid-muridnya sedangkan aku bercerita tentang panti asuhan dan panti singgah para lansia. Alhamdulillah hubungan keluargaku dan keluarga mas Ringgo semakin membaik, mungkin bisa di bilang konyol walau aku akrab dengan mbak Isnaini aku justru jaga jarak dengan mas Ringgo, begitu pula sebaliknya walau mas Ringgo akrab dengan Pak Catur namun mas Ringgo juga jaga jarak untuk saling menghormati pasangan masing-masing.


"Tiada manusia di dunia ini yang sempurna, sebab manusia tempatnya salah dan dosa, tetaplah berbuat baik walau hanya sebiji zarah, janganlah menyimpam dendam agar hidup kita bahagia dan damai, lakukan kebaikan semata mata hanya karena Allah SWT"


Terima kasih sudah setia dengan TALAK sehat dan sukses selalu buat semua reader TALAK.

__ADS_1


__ADS_2