TALAK

TALAK
Part 197 TALAK.


__ADS_3

"Mas, Dinda rasa satu suster sudah cukup dan saya memilih yang bernama Inayah saja." usulku pada suamiku sambil berbaring menjelang tidur malam.


"Kenapa ?" tanya pak Catur heran.


"Entahlah, Dinda rasa tidak begitu sreg." ucapku sambil menghadap ke arah suamiku.


"Kita beri kesempatan dulu jika langsung kita tolak rasanya gak etis, bagaimana, nanti jika Dinda tidak sreg ya tinggal cari ganti saja." ucap suamiku.


"Kenapa harus dua mas?" tanyaku lagi.


"Dindakan tahu sekarang mas memegang dua pabrik, sudah pasti mas akan sangat sibuk, dan mas ingin memastikan keselamatan kalian semua, itu sebabnya mas membayar banyak orang untuk menjaga kalian semua selama mas bekerja." jelas suamiku lembut.


"Mas, mas gak akan berpaling kan?" tanyaku entah aku dapat keberanian dari mana.


"Astaqfirullah hal'adzim Dinda sayang, percaya deh sama mas, Dinda masih ingat? waktu mas cerita tentang beberapa tahun yang lalu waktu mas melihat Dinda menggendong Afriana sewaktu masih kecil, yang mas ingin mengambilnya?" tanya suamiku.


"Lalu?" tanyaku asal.


"Entah aku merasa sangat dekat dengannya, aku merasa bakal bertemu dan bersama, aku merasa bahwa Afriana itu anaku." jelas pak Catur.


"Anak dari mana?, ngawor saja mas ini, Afriana anakku wong ketemu mas saja baru saja bagaimana mas bisa punya anak denganku." ucapku sedikit merajui.


Mungkin karena aku sedang hamil atau entah karena apa aku sering merajuk.


"Merajuk nih, Dinda sayang percaya deh sama mas, Dinda adalah hidupku sekarang dan selamanya dunia akhirat. " tegas suamiku lembut.


"Mas." rajukku.


"Sudah sayang, kita istirahat, mas kan selalu berada di sisi Dinda apapun yang terjadi selamanya, kita bimbing anak-anak kita supaya menjadi anak yang sholeh dan sholehah." terang pak Catur lembut.

__ADS_1


"Ma.... "


Belum selesai aku berbicara suamiku sudah menempelkan mulutnya pada mulutku, sapuan lembut dari mulut pak Catur dan belaian tangan suamiku membuatku menuntut lebih, ciuman suamiku berakhir di perutku.


"Selamat malam sayang." ucap suamiku lembut langsung memelukku.


"Mas." rayuku lirih dengan sorot mata meminta lebih, aku sebenarnya juga tahu akan keinginan suamiku.


"Iya, sayang." lirih suamiku lembut dengan tatapan sayu, suamiku langsung menyambar kembali mulutku. Keindahan dan kenikmatan malam bersama suamiku membuatku sangat bahagia bisa berada di samping suamiku.


"Sayang, adzan subuh ayo mandi, keburu siang." suamiku membangunkanku dengan lembut, dan selalu ada ciuman manis setiap bangun dari tidur.


"Ehm...." Aku tidak membuka mata malah memeluk erat suamiku.


"Mau nambah nih?" goda suamiku dengan senyum lembut.


"Iya, iya mas bangun." mendengar ucapan suamiku aku langsung bangun


Dengan langkah gontai aku menuju kamar mandi, semakin hari banyak sekali perubahan yang aku alami. Rasanya aku benar-benar tidak ingin jauh dengan suamiku, bahkan bisa di katakan aku lebih manja, setelah membersihkan diri aku dan Pak Catur sholat berjamaah bersama dengan Afriana juga di mushola kecil yang ada di rumah. Selesai sholat subuh aku di ajak oleh suamiku untuk jalan-jalan pagi di sekitar komplek, Afriana memilih di rumah bersama mbak Us, dengan ramah kami saling menyapa jika atau sekedar mengedarkan senyuman kepada para terangga. Suasana pagi yang sejuk, setelah menikah dan tinggal di komplek baru kali ini Aku keluar rumah hanya sekedar untuk jalan-jalan.


"Mas, sering jalan pagi?" tanyaku penasaran


"Nggak juga, biasanya aku sepedahan sama mas Anam."


"Oh, tak kira-in." ucapku.


"Ya, kenapa?" tanya pak Catur.


"Enggak sih."

__ADS_1


"Sekarang ada istri dan anak jadi aku milih jalan saja, dulu setiap weekend aku mengajak istriku jalan pagi supaya anak istriku sehat, maaf." tiba-tiba suamiku menghentikan ucapannya.


"Kenapa mas?, ada yang salah?" tanyaku sambil mengerutkan keningku.


"Maaf, sebab tadi Aku berbicara tentang istri pertamaku." ucap Pak Catur merasa bersalah.


"Mas, sampai kapanpun beliau tetap istri mas, tidak usah dipikirkan, aku yakin mbak orangnya sangat baik." ucapku dengan senyum tulus.


"Terima kasih, mas takut Dinda tersinggung." jelas pak Catur sudah kembali cerah.


"Yang ada saja mas! masa cemburu sama orang yang sudah meninggal, toh selama ini mas sudah cukup baik pada kami, semua sudah takdir." ucapku.


Setelah satu jam kami berdua kembali di rumah, di rumah mbak Us, Afriana dan mbak Qibtiyah, sedang berada di dapur untuk membuat sarapan.


"Masak apa ini!" sapaku ramah sambil mengambil air untuk minum.


"Ibuk, ayah!" seru Afriana senang" Aku bantuin bupuh masak pecel buk, aku yang petik sayurnya." lapor Afriana girang.


"Pinter anak ayah, sudah mateng apa belum sayang?" tanya pak Catur pada Afriana.


"Ya sudah lah ayah." ucap Afriana girang.


"Terima kasih mbak." ucapku pada mbak Us.


"Sudah lama aku tidak masak untuk kamu, biasanya dulu kita selalu masak bersama, Afriana persis seperti kamu untung Afri memiliki sifat seperti kami bukan sifat Ringgo." ucap mbak Us tanpa sadar.


Me dengar ucapak mbak Us aku langsung nenyubit lengan mbak Us.


"Maaf, Fah, maaf sekali." Mbak us segera sadar akan kesalahannya.

__ADS_1


"Mbak Us, nanti kita jalan-jalan ya?" ajak pak Catur.


"Terima kasih dik, lain kali saja sebentar lagi mas Sapta datang, Mas Sapta sekarang sudah perjalanan ke sini paling setengah jam lagi sampai." tolak mbak Us halus, ya memang benar mas Sapta akan menjemput mbak Us pagi sekali karena siang akan menghadiri undangan pernikahan karyawannya mas Sapta.


__ADS_2