
Celoteh dari anak-anak mewarnai kebersamaan kami yang tanpa janjian, namun kami bisa berkumpul, biasanya antara aku dan mbak Us selalu tidak bisa bersama, mengingat kesibukan suamiku dan suaminya mbak Us sehingga jadwal kerjanya sering benturan sehingga jarang sekali kami bisa bersama seperti sekarang, apalagi Afriana yang jarang di rumah sehingga untuk bisa ngumpul bersama seperti ini biasnya hanya pas lebaran saja. Malam semakin larut namun celoteh riuh anak-anak masih mewarnai rumah kedua orang tuaku, para kaum laki-laki juga masih sibuk dengan obrolan mereka di teras, bahkan bukan hanya keluargaku saja beberapa tetangga bahkan pak RT juga ikut meramaikan rumah orang tuaku.
Aku, mbak Yah, ibuk, Nafisa, dan mbak Us kini berkumpul di ruang tengah sedangkan anak-anak keci masih bermain di dekat kami Afriana, Zahra dan anaknya mbak Us mereka asyik sendiri dengan dunia remaja mereka.
Jam sembilan lebih tiga puluh menit aku ajak anak-anak ku untuk tidur, aku ditemani oleh ibuku dan mbak Yah untuk menidurkan Afwa, Afwi, dan Abidah, karena Alifa sudah tidur duluan, Afriana memilih tidur bersama Zahra dan anaknya mbak Us. Aku smegaja tidak meminta bantuan pak Catur karena aku ingin memberi kesempatan untuk pak Catur menghabiskan waktu untuk dirinya sendiri karena jika di rumah sendiri pak Catur sudah ikut rempong ngurus anak-anak dan juga di kejar-kejar oleh pekerjaan. Begitu anak-anak sudah pada tidur mbak Yah dan ibukku keluar dari kamar, untung saja kasur di rumah orang tuaku sangat besar karena baru aku ganti sendiri, persiapan jika aku dan anak-anakku nginep di rumah orang tuaku biar bisa tidur di satu kamar.
Kasur dengan ukuran King size memenuhi kamar depan cukup untuk tidur berenam, setelah anak-anak tidur aku periksa kamar sebelah yang berisi tiga bocah remaja, Afriana, Zahra dan Habibah anaknya mbak Us, Habibah setahun lebih tua dari Zahra dan Afriana. Setelah mengecek mereka bertiga aku kembali ke kamar, karena aku lelah aku segera ikut memejamkan mataku until segera istirahat setelah seharian momong sendiri. Hal seperti ini sudah bukan hal aneh buatku walau pak catur menyewa banyak suster untuk urusan anak-anak tetap aku urus sendiri jika aku ada di rumah.
Suara Adzan subuh berkumandang, aku buka mataku teranyata aku sudah tidak menemukan pak Catur, kapan dai tidur aku tidak tahu, aku segera bangun menuju kamar mandi untuk persiapan sholat subuh, rmternyata aku yang paling akir sendiri bangunnya, Afriana dengan yang lainnya sudah berangkat ke mushola untuk berjamaah, ibuk, mbak Us, Nafisa mereka sudah berangkat kemushola di rumah tinggal aku dan mbak Yah.
__ADS_1
"Mbak Yah, tolong nanti jika anak-anak bangun aku mau sholat dulu." Aku minta bantuan mbak Yah untuk berjaga-jaga jika anakku bangun.
"Tak tunggunya anak-anak, kamu sholat dulu mereka sudah pergi ke mushola semua." ucap mbak Yah, yang sudah sibuk di dunia perdapuran.
"Terima kasih mbak," Aku segera melangkah ke kamar mandi untuk ambil air wudhu. Selesai berwudhu aku sholat di mushola kecil yang ada di rumah orang tuaku
"Bersyukur kita memiliki anak-anak yang Sholeh dan sholehah," celetuk mbak Us yang sudah berdiri di sampingku.
"Astaqfirullah hal'adzim, kaged aku mbak!" ucapku karena terkejut.
__ADS_1
"Biarkan mereka ngaji, di rumah aku membiasakan untuk membaca ayat suci Al qur'an setelah sholat subuh." ucap mbak Us.
"Iya, mbak," sahutku.
"Mereka memang harus kita didik dengan baik dan benar, agar selamat dunia dan akhirat." jelas mbak Us.
"Aku juga begitu mbak," sahutku.
Setelah selesai melihat Afriana, Zahra dan Habibah aku kembali di kamarku sendiri, aku lihat ke empat anak-anakku tidur dalam satu matras, benar-benar pemandangan langka. Di dapur aku sudah melihat ibukku, Nafisa dan mbak Yah mereka sudah mulai bersktifitas kembali. Tidak begitu lama aku melihat suamiku yang baru saja pulang dari mushola.
__ADS_1