
Selesai semua mandi kami berkumpul di kamar anak, kami bermain sambil melepas rindu sambil menunggu mbak Priska dan mas Anam menjemput Rahma. Celoteh anak-anak benar-benar menjadi hiburan tersendiri bagiku dan suamiku, Rahma dan Afriana dengan telaten mengikuti ketiga adiknya bermain, Afwa dan Afwi dengan percaya dirinya memamerkan kemampuannya dalam membaca, ya Afwa dan Afwi tergolong anak yang cerdas sehingga diusianya yang baru lima tahun mereka berdua sudah bisa membaca dengan lancar.
"Kak, aku bisa baca ini lo," Afwa mengambil sebuah buku anak yang ada di rak buku.
"Coba adik baca kakak mau dengar nih," perintah Afriana.
Dengan semangatnya Afwa membaca buku yang dimaksud tadi, tidak rugi Afwa pamer pada kakaknya dia mulai membaca dengan baik, setelah Afwa selesai kini ganti Afwi yang membaca buku pilihannya, kedua bocah itu sudah sama-sama memamerkan kebolehannya di depan Afriana dan Rahma.
"Dik, kalian itu makan apa sih kok pinter sekali?" tanya Rahma ingin menggoda Afwa, Afwi dan Abidah.
"Iya, nih kak Afri juga penasaran." celetuk Afriana.
"Aku makan ayam upin ipin kak." jawab Afwa dan Afwi antusias.
"Apa itu ayam upin ipin ?" tanya Afriana dan Rahma begitu penasaran mendengar jawaban dari Afwa dan Afwi yang unik.
"Ya ayam upin ipin kak," jawah Afwa menpertegas.
"Iya kak enak sekali makan ayam upin ipin apalagi yang masak bunda wah enak sekali kak," Afwa dan Afwi memberi penjelasan.
"Apa sih,? Kak Afri gak tahu apa itu ayam upin ipin, mbak Rahma kamu tahu apa yang mereka bedua maksud, apa itu ayam upin ipin?" tanyaku pada mbak Rahma.
"Aku juga gak tahu Af kitakan selalu berada di pesantren, jadi gak tahu dunia luar, apalagi istilah jaman sekarang kok aku gak paham sekali," ucap Rahma jujur.
"Ayam upin ipin itu paha ayam, kaya pentong itu lo," sahutku, mendengar ocehan mereka benar-benar bisa membangun energi positif dalam tubuh hati dan pikiranku.
__ADS_1
"Hahh!, paha ayam, kok bisa buk, kenapa dinamain ayam upin Ipin? Memang belinya di restaurant upin ipin!" seru Afriana terkejut, dan juga semakin penasaran.
"Kok, bisa tante?" Rahma tak kalah penasarannya.
"Gini lo, balita sekarang itu hiburannya upin ipin, sedangkan makanan favorit upin ipin itu paha ayam goreng krispi, jadi anak-anak itu mengikuti selera upin ipin," jelasku pada mereka berdua.
"Oalah, pantesan pikirku apa ayam upin ipin itu," ujar Rahma dan Afriana langsung tegelak mendapat jawaban dariku.
"Dik Bidah suka makan ayam upin ipin gak?" tanyaku.
"Suka," ucap Abidah dan menganggukkan kepalanya.
"Mereka itu semua suka, cuma gak setiap hari ibuk kasih." jawabku, kurang bagus jika setiap hari di kasih.
"Assalamu'alaikum Af, ayah sama ibuk boleh masuk?" tanyaku dari balik pintu kamarnya.
"Wa'alaikum salam, silakan buk, Yah," sahut Afriana dari dalam kamarnya.
Aku buka pintu kamar Afriana, dia baru saja menaruh kitab suci Al qur'an-nya di atas meja belajarnya.
"Ayah, ibuk," sapa Afriana begitu sudah melihat kami masuk.
"Sudah selesai sayang," ucapku sambil membelai lembut pucuk kepala Afriana.
"Alhamdulillah sudah buk," jawab Afriana sopan.
__ADS_1
Kami berdua duduk di ranjang sedang pak Catur duduk di kursi belajarnya.
"Begini Af, ada yang ingin ayah sampaikan, bapak Ringgo lusa keluar dari rumah sakit jiwa, namun dia harus tetap melakukan terapi kejiwaannya, ayah harap Afri bisa memberi dukungan untuk bapak Afri agar bapak Afri bisa sembuh total, itu sebabnya ayah menjemput kamu dari pesantren, Afri bersediakah?" tanya pak Catur setelah memberi nasehat.
"Inshaallah Yah, Afri akan belajar untuk berdamai dengan keadaan ini," jawab Afriana yang sudah nampak dewasa.
"Af, ayah dan ibuk akan tetap mendukungmu dan selalu menyayangimu, ibuk harap kamu benar-benar ikhlas ya," pintaku penuh permohonan.
"Ya, Af, bagaimanapun dia itu bapak kandungmu, doa dan dukungan dari keluaraga itu yang ia harapkan, terutama doa dari anak yang Sholeh dan sholehah, ayah yakin anak ayah ini adalah anak yang sholehah, besok kita kerumah mbah ya, beliau sudah sangat kangen denganmu Af," nasehat pak Catur.
"Terima kasih ayah, ayah begitu baik pada Afri dan juga bapak," kini Afriana sudah menitikan airmata hari karena terharu.
"Sudah sayang kebahagiaan Afri kebahagiaan ayah dan ibuk, jangan menangis, pesan ayah selalu hormati bapakmu ya Af, jangan sampai kamu menjadi anak yang durhaka, siapa tahu setelah kejadian ini bisa membawa kebaikan untuk bapaknya Afri, dan kita semua bisa menjadi keluarga yang rukun dan bahagia," nasehat pak Catur lembut.
"Terima kasih Ayah," hanya itu kata yang bisa keluar dari mulut Afriana yang berada dalam pelukanku.
"Ayah, ibuk, kenapa ayah dan ibuk tidak balas dendam pada bapak?" tanya Afriana di luar nalarku.
"Bukankah Allah melarang hambanya untuk balas dendam, dan dendam itu bisa menghancurkan diri sendiri, sudah jangan pikir yang macam-macam, yang penting sekarang kita semua sehat, hidup rukun." pungkas pak Catur.
"Benar kata Ayah," tambahku.
"Dimana bapak Afri akan melakukan pengobatan lanjutannya Yah?" Afriana penasaran.
"Kami berencana akan memasukan bapakmu ke pesantren agar iman dan taqwanya bertambah, sekalian biar dia menuntut ilmu agama." jelas pak Catur lagi.
__ADS_1