
Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi tadi, seingatku aku mendampingi suamiku untuk bertemu dengan dewan direksi dan kepalaku rasanya sangat berat sekali.
"Mah, maaf sudah membuat mama cemas." ucapku lirih.
"Tidak sayang, istirahatlah dulu jangan banyak bicara, mama akan temani kamu di sini." ucap mama bersungguh-sungguh.
"Maaf, mas sudah merepotkan semuanya." ucapku lirih.
Pak Catur hanya menggelengkan kepala dengan muka yang sangat kusut, serta masih memakai pakaian kerjanya tadi hanya melepas jasnya saja.
"Mah, mama istirahat biar aku yang jaga istriku." pinta pak Catur memelas.
"Mama akan tetap si sini." ucap mama ketus.
Aku tidak tahu kenapa mama menjadi ketus saat berbicara dengan pal Catur "Benar Ma , Mama, istirahat saja biar mas yang menemaniku di sini." ucapku lirih.
"Mana ada seorang suami mau mencelakakan anak dan istrinya." ucap mama masih dengan nada ketus.
"Mah, maaf, aku tidak akan mengulangi lagi." pak Catur meminta maaf pada mama sambil memegang lengan mama.
"Mah, benar kata Afifah dan Tono, sebaiknya kita pulang saja Ma, Mama harus banyak istirahat, yang dibutuhkan Afifah adalah suaminya, anaknya pun pasti hanya ingin ayahnya, Mama ingatkan ketika Mama hamil Tono, Papa rasa seperti itu pula yang diinginkan oleh Afifah." nasehat papa yang baru datang dan mendengar percakapan kami semua.
"Tapi, Pah, Papa juga sudah tahu anak kita sedang hamil masih saja disuruh kerja." omel mama semakin tidak karuan malah papa ikut disalahkan.
"Kita pulang sekarang ya Ma, temani Papa Makan, sudah lapar." Papa berusaha membujuk mama agar mama mau pulang.
"Papa!" sungut mama, dan akhirnya mengalah menuruti permintaan papa.
"Mereka berdua sudah sangat dewasa ma, kita percayakan pada mereka bedua." nasehat papa bijak.
"Ton, jaga baik-baik putri dan cucu Mama!" perintah mama masih dengan nada ketus dan judes.
"Iya, mah, terima kasih." jawab pak Catur sopan, dan aku dapat melihat jika pak Catur benar-bebar merasa bersalah.
Mama dan papa akhirnya pamit, dan meninggalkan kamar yang aku tempati, dengan penuh kecemasan.
__ADS_1
"Maafin Mas , Dinda, Mas benar-benar teledor untuk yang kesekian kalinya." ucap Pak Catur penuh penyesalan.
"Mas, sudahlah, tidak ada yang salah dalam hal ini, Dinda juga minta maaf karena merepotkan semua pihak, mas tidak mandi? Mas sudah makan?" tanyaku pada pal Catur secara bertubi-tubi.
"Mana mungkin mas bisa makan sedang Dinda dalam bahaya, mas benar-benar teledor dalam menjaga Dinda dan anak kita." ucap Pak Catur sedih.
"Makanlah mas, kalau mas tidak makan bagaimana bisa mas menjaga aku dan anak kita." ucapku.
"Belum lapar." sahur pak Catur singkat
Pak Catur duduk di sampingku dan menggenggam erat tanganku serta menciumi tanganku yang tidak ada jarum infusnya.
"Mas berapa lama aku pingsan?" tanyaku penasaran.
"Satu jam Dinda pingsan, mas benar-benar tidak punya hati ketika Dinda jatuh, Maafin mas ya sayang." pak Catur berkali-kali meminta maaf.
"Mas makan dulu ya," pintaku pada pak Catur.
"Dinda mau makan apa biar dimasakan oleh mbak di rumah, besok biar di kirim kesini."
"Istirahatlah sayang, mas akan jaga sayang di sini," ucap Pak Catur lembut.
Aku kembali pejamkan mataku, dan aku sudah terlena dalam alam mimpiku, entah berapa lama aku tertidur hingga suara bising mengganggu tidur lelapku, aku buka mataku, ternyata sinar matahari sudah menerobos masuk ke kamarku melalui celah angin-angin yang ada, aku melihat pak Catur duduk di sebelahku masih dengan baju yang sama seperti kamarin.
"Mas, jam berapa sekarang, aku belum subuhan, kenapa mas tidak membangunkan aku sih" ucapku lirih.
"Jam tujuh sayang, dokter bilang tidak boleh dibangunkan, setelah sembuh di qodho sayang, sayang masih sangat lemah, sebentar lagi mama datang membawa sarapan, sekarang hampir sampai mungkin." jawab pak Catur.
"Bagaimana pekerjaan kemarin mas maaf jika mengacaukannya," ucapku lirih ya aku ingat jika kemarin sedang ada meting dengan dewan direksi.
"Semua sudah selesai, terima kasih sudah membantu mas hingga seperti sekarang" jawab pak Catur.
"Selamat pagi, bapak ibu, saatnya untuk pemeriksaan," seorang dokter dan suster masuk ke ruanganku.
"Silakan Dok." pak Catur segera bangkit dari duduknya dan membiarkam dokter serta suster melakukan pemeriksaan lagi.
__ADS_1
"Maaf, apa ibu masih bekerja atau bagaimana bu, pak?" tanya dokter pada kami berdua.
"Istri saya masih bekerja sebagai sekretaris saya dok, apa ada masalah serius dok?" tanya pak Catur sudah sangat cemas.
"Bagini pak, bu, untuk saat ini kandungannya bagus, cuma fisik ibunya yang kurang kuat, jadi ibu harus istirahat total jangan sampai kecapekan, dan juga jangan sampai stress, nanti siang kita lakukan USG, untuk saat ini saya belum bisa memastikan." jelas dokter sopan dan ramah.
"Baik dok, tolong lakukan pemeriksaan yang terbaik untuk istri dan anak saya dok." pinta pak Catur masih di selimut rasa cemas dan was-was.
"Kalau begitu kami pemisi dulu, nanti jam dua siang kita lakukan USG," ucap Dokter.
Dokter dan suster meninggalkan ruangan yang aku tempati, Sepeninggalan dokter dan suster mama, mbak Irma serta pembantu keluarga Cakra datang dengan diantar sopir, mbak Irma sekalian ke kantor karena rumah sakit dan kantor sejarah.
Mama membawa makanan rumahan dan mbaknya bilang jika yang memasak mama sendiri, mama juga membawakan baju ganti untuk pak Catur karena pak Catur tidak mau pulang, pak Catur mandi di rumah sakit. Mama dengan sabar dan lembut menyuapiku makan, sebenarnya aku ingin makan sendiri namun tangan kananku masih diinfus, sehingga membuat tanganku sakit untuk bergerak sedang tangan kiriku rasanya sedikit sakit.
Masakan mama sangat lezat, ini pertama kalinya aku merasakan masakan mama, sambil makan aku mendengarkan cerita dari mbak Irma dan mama, mbak Irma cerita jika mama memperlakukan anak kandung maupun menantunya itu tidak jauh beda. Bukan hanya padaku, pada istri mas Dwi dan mas Tri juga begitu, sehingga para menantu mama semua hormat pada mama, aku tidak tahu hati mama itu terbuat dari apa, mama begitu tulus menyayangi kami semua, termasuk mbak Priska dan kakak mbak Priska.
"Mama, aku juga mau disuapin," rayu pak Catur pada mama, ya mama masih sedikit kesal dengan anak bunsunya yaitu suamiku sendiri.
"Makan sendiri," sahut mama sedikit ketus.
"Mama," Pak Catur memeluk mama seperti anak kecil yang merajuk pada orang tuanya.
"Mama, sibuk Mama mau menyuapi cucu Mama," ucap mama.
"Ton, tadi Priska telpon mananyakan keadaan Afifah, dan Priska bilang sudah menentukan beberapa kandidat sekretaris untukmu." ucap mbak Irma lembut.
"Iya, terima kasih mbak, seumpama dulu aku segera cari sekretaris pengganti mungkin istriku tidak akan sakit seperti ini." ucap Pak Catur masih menyiratkan sebuah penyesalan.
"Untuk kedepannya lebihlah berhati-hatilah Ton, nanti siang bunda akan datang," ucapnak Irma.
"Bagaimana kata dokter?" tanya mama.
"Nanti jam dua siang akan dilakukan USG, semoga tidak terjadi apa-apa, aku benar-benar takut ma, aku takut kejadian yang dulu terulang lagi." adu pak Catur penuh kecemasan.
Mama dan pembantu keluarga Cakra tetap tinggal untuk menemaniku, walau sudah ada suamiku namun mama tetap kekeh agar bisa menemaniku. Sedangkan mbak Irma sudah harus ke kantor, sebenarnya metting belum selesai namun karena aku sakit pak Catur tidak ikut meting secara langsung pak Catur mengikuti meting lewat komputer.
__ADS_1